Giliran penumpang dan jalan Kerusakan jalan, sistem angkutan umum dengan sarat penumpang
di kal-sel mengakibatkan kecelakaan lalu lintas meningkat.
kepala pu dan dllajr saling tuding, pungli dari kelebihan
muatan jalan rusak. |
GARDU-GARDU monyet yang selama ini sudah dikenal betul oleh
para supir, sudah kosong tanpa penghuni. Ini terjadi di
jalanjalan raya Kalimantan Selatan. Artinya salam tempel dengan
mereka yang biasa menghuni gardugardu itu tiada lagi.
Jika keadaan begitu melegakan para supir maupun pemilik
kendaraan-kendaraan umum, sebaliknya membuahkan akibat yang
mencemaskan para penumpang atau pemakai jalan lainnya. Sebab
merasa bebas dari intaian pejabat-pqabat di jalanan, para supir
melarikan kendaraannya dengan kecepatan maksimum. Jika ada
penumpang yang merasa- cemas dan memperingatkan, dengan enak
saja dijawab "insyaAllah tak apa-apa, tenang sajalah."
Memasuki panen raya padi di daerahdaerah pedalaman, ditambah
kerepotan mengantar jemaah haji di kawasan Kalimantan Selatan
belakangan ini, menyebabkan penumpang kendaraan umum berjubel
menunggu pengangkutan. Mulai dari sedan mulus, Colt maupun truk
dan bis selalu sarat penumpang ke segala jurusan. Nah, merasa
merdeka dari para pemungut di jalanjalan, menjejalkan penumpang
hingga berhimpitan menjadi kebiasaan baru di antara pemilik
kendaraan umum di daerah ini. Lalu para calo pun mulai
berperanan untuk menawarkan jasajasa baik bagi calon penumpang
yang berebutan tempat itu. Begitu besar peranan para calo ini
sehingga mereka mampu menaikkan tarif kendaraan sampai nyaris
mencapai dua kali lipat dari semcstinya.
Sulit Juga
Tak heran jika secara langsung semua itu mengakibatkan
menanjaknya kecelakaan lalu-lintas dan juga jalan yang umumnya
hanya tergolong kelas III maupun kelas III A di propinsi ini
mulai rusak. Seorang anggota DPRD di Amuntai baru-baru ini tewas
dalam perjalanannya menuju Banjarmasin karena kendaraan yang
dinaikinya disambar sebuah truk. Dan berita kecelakaan begini
nyaris setiap hari terdengar di telinga penduduk daerah ini.
Kerusakan jalan dengan cepat itu hampir saja menyebabkan Kepala
DPU Kalimantan Selatan buru-buru menuding DLLAJR sebagai pihak
yang lalai mengawasi muatan kendaraan-kendaraan itu. Sebab di
beberapa tempat jalan yang rusak itu justru sedang dalam
perbaikan sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu target waktu
penyelesaian. Untung ia cepat sadar posisi DLLAJR sejak perang
terhadap pungli gencar dilakukan belakangan ini. "Memang sulit
juga" ucap seorang petugas DLLAJR wilayah IV Banjarbaru, "kalau
kendaraan-kendaraan itu dicegat, kami bisa dianggap memancing
agar diberi pungutan liar lagi." Tapi jika dibiarkan terus,
jalan-jalan yang memang belum begitu baik di propinsi ini akan
makin cepat binasa.
|