Setelah 'Cibinong' Terbirit-birit Saham pt semen cibinong mulai dijual di pasar modal. persiapan
tergesa-gesa. revaluasi tidak dilakukan. permintaan 3200
lembar hanya terpenuhi 33%. alokasi dibatasi untuk cegah orang
memborong. (eb) |
SEJUMLAH pejabat Bank Indonesia dikirim ke luar negeri beberapa
bulan yang lalu untuk mempelajari liku-liku praktek Pasar Modal
(PM). Tangandan pikiran mereka, tentu saja, banyak dipakai. Tapi
PM yang dibuka di Jakarta minggu lalu menunjukkan ciri khusus
yang membuat para ahli asing sekalipun bisa bingung, dan
akhirnya mereka terpaksa belajar pula.
"Bukan kalian saja, tapi kami juga belajar," Presdir K.W.
Johnson dari PT Inter-Pacific Financial Corporation, umpamanya,
berkata kepada TEMPO Inter Pacific itu adalah underwriter atau
penjamin emisi untuk PT Semen Cibinong yang sahamnya kini
diperdagangkan. Apa yang disebut belajar bagi orang seperti
Johnson itu rupanya antara lain begini:
Gong dipukul (tanda PM dibuka) 10 Agustus, sedang kepastian
final, yaitu semua berkas disahkan, bahwa PT Semen Cibinong
benar-benar memenuhi persyaratan baru terjadi 6 Agustus.
Publikasi tentang sahamnya akan dijual baru mulai dua hari
sebelum gong, sedang semestinya perlu ada kampanye promosi jauh
hari sebelumnya. Tapi paling berat ialah karena ada bataswaktu
(25 Juli) dari pemerintah bagi perusahaan yang akan go public
itu sulaya menyelesaikan prospektusnya. Maka semua pihak yang
bersangkutan dibuat terbirit-birit karenanya dalam tempo 15
hari. Pengalaman seperti ini sungguh unik, tak pernah terjadi di
negeri lain.
Revaluasi perusahaan tak diadakan, mungkin karena batas-waktu
yang singkat itu. Tugas itu sebetulnya perlu ditangani
perusahaan penilai khusus yang pasti meminta waktu
berbulan-bulan. Maka prospektus PT Semen Cibinong itu tak memuat
laporan penilaian. Tapi kekurangan itu bisa diterima juga dengan
alasan perusahaan itu dipandang masih baru. Dan bisalah
disetujui oleh semua pihak, termasuk PT Danareksa, angka Rp
10.000 sebagai harga penawaran per lembar saham PT Semen
Cibinong. Coba bandingkan, nilai nominalnya adalah Rp 3.780 (US$
10). Maka PT Semen Cibinong, walaupun menginginkan penawaran
harga lebih tinggi tentunya, cukup senang.
Sesudah gong, harga penawaran Rp 10.000 itu menarik banyak
peminat. Sejumlah 178.750 lembar (5% dari keseluruhan) yang
tersedia untuk dijual. Sebagai penyalur utama, PT Danareksa yang
mengeluarkan sertifkat pengganti saham Cibinong dengan harga
penawaran sama, telah membatasi penjualannya sampai 100 lembar
saja untuk tiap orang. Pembatasan juga dilakukannya dalam
alokasi untuk berbagai sub-penyalur.
Di bursa sendiri pada call pertama, misalnya, terdapat
permintaan sebanyak 3200 lembar, sedang penawaran tersedia cuma
1100 sehingga terpenuhi 33% saja. Peredaran Rp 11 juta via bursa
di hari pertama itu adalah di luar dugaan. Lebih menakjubkan
lagi adalah peredaran Rp 96 juta via loket PT Danareksa sendiri,
di mana para pembeli perorangan, termasuk kaum ibu, berjubel
sampai sore tanggal 10 Agustus itu.
Inter-Pacific mendapat alokasi sebanyak 28.750 lembar, sedang
sisanya 150.000 dikuasai PT Danareksa. Tanggal 10 Agustus itu,
permintaan yang masuk ke Inter-Pacific sampai dua-setengah kali
lipat alokasi yang diperolehnya. Keesokan harinya, terpaksa
Johnson melapor pada Presdir J.A. Sereh dari PT Danareksa untuk
meminta tambahan. Permintaannya dikabulkan tapi masih belum
cukup.
PT Makindo, perusahaan pialang yang menjadi anggota bursa,
meminta untuk nasabahnya sebanyak 1000 lembar tapi dikabulkan
157 saja. "Pembeli banyak tapi penawaran terbatas," kata
direktris Nanny D. Tirta Wijaya dari PT Makindo itu.
Di luar bank-bank pemerintah, adalah PT Aperdi dan PT Perdanas
yang ditunjuk sebagai agen penjual sertifikat Danareksa.
Keduanya dijanjikan untuk mendapat alokasi 1000 lembar
masing-masing. "Kalau diikuti kemauan publik," komentar direktur
Wijaya dari PT Aperdi, "1000 lembar itu bisa habis sehari. Jatah
berikutnya belum tentu kapan didrop lagi."
Pembatasan alokasi itu nampak bertujuan mencegah orang
memborong, supaya mereka yang membeli saham-saham itu, seperti
meminjam ucapan Presiden Soeharto, "bukan hanya mereka yang
kaya, melainkan juga mereka yang dapat menyisihkan sejumlah
kecil saja dari penghasilannya."
Macet
Karena permintaan terus meningkat, sedang penawaran tetap
terbatas, kursnya di bursa sehari setelah dibuka meningkat
sampai Rp 10.500. Satu anggota saja di bursa itu yang meminta
kurs sekian dengan menawarkan 100 lembar, tapi para anggota
lainnya memprotes kenaikan 5% itu. Mereka meminta supaya kurs
hanya bisa naik maksimal 1% tiap hari. Kasus ini terulang lagi
esoknya. Akhirnya tak bisa terjadi transaksi. Macet! Tapi mulai
awal minggu ini dicoba mengatasinya dengan dua kali call tanpa
pembatasan kurs.
Sementara itu PT Danareksa di luar bursa memperpanjang
kesempatan bagi perorangan membeli dengan kurs tetap Rp 10.000
sampai 20 Agustus. Bukan sedikit di antara perorangan itu yang
membeli sampai maksimum 100 lembar (Rp 1 juta). Jika seseorang
mau membeli maksimum dari satu bank ke bank lainnya, apakah bisa
dicegah? Kalaupun ia mengerahkan isteri, anak, mertua dan
lain-lain, namun kesempatannya memborong juga tetap terbatas.
Ny. S. Muara, isteri dari karyawan Dep. Pertanian, membeli 5
lembar saja. "Hanya sebagai percobaan," katanya. "Daripada
disimpan di bawah batal, 'kan baik uang ditanam di saham."
Ny. Setioso, ibu rumahtangga dari Slipi-Jakarta, sesudah membeli
10 lembar berkata: 'Mudah-mudahan dividennya lebih besar
daripada deposito berjangka." Dengan para pembeli kecil seperti
Ny. Muara dan Ny. Setioso itu, jika banyak jumlah mereka, tuiuan
utama pemerintah membangun PM - "pemerataan pendapatan" - Iebih
akan tercapai. Dan cara menjangkau mereka agaknya tak kurang
penting pula untuk dipelajari.
Animo besar sekarang ini karena kebetulan PT Semen Cibinong yang
telah dijadikan pembuka jalan ke PM. Pembukuannya meyakinkan
sehat. Pengelolaannya, karena PMA patungan denan PT Semen
Gresik (35%) yang milik Fegara dan "lain-lain pemegang saham
Indonesia" (5%), dipercaya mantap. Dari pemegang saham kelompok
PMA, terdapat Gypsum Carrier Inc. (anak perusahaan dari Kaiser
Cement & Gypsum Corporation (42,48%), International Finance
Corporation & Participants (12,92%), Private Investment Company
for Asia S.A. (2,28%) dan Bamerical International Financial
Corporation (1,96%)
Masing-masing anggota kelompok PMA menjadi berkurang prosentase
sahamnya guna keperluan going public itu. Dengan demikian
pemilikan Indonesia di PT Semen Cibinong itu meningkat ke 40%.
Tambahan baru 5% untuk Indonesia, di samping tadinya 35%
dipegang PT Semen Gresik, kebetulan harus terjadi September
nanti. Ini sesuai persyaratan pemerintah ketika PMA patungan ini
diizinkan melaksanakan rencana perluasan kapasitas produksi dari
500.000 ton (1975) ke 1,2 juta ton setahun mulai awal 1978.
Pembangunan perluasannya akan selesai akhir tahun ini.
Jadi, pemerintah sudah sejak semula mengincer PT Semen Cibinong
untulc calon terdekat ke PM. Ia tidak dipaksa, menurut Sereh.
Tapi ia benar didorong, kata Johnson pula. Para calon lainnya,
jika nanti memasuki PM, tentu didorong juga tapi tidak akan
terbirit-birit lagi.
|