Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/IIIIIII/26 Maret - 01 April 1977
   
Olahraga

Ketahanan Tambah, Minat Turun

Peminat lomba ketahanan mobil menurun. Dari 43 peserta tahun lalu, sekarang 14 peserta. Lomba diadakan di Ancol 12 dan 13 Maret lalu.

LOMBA ketahanan mobil di Landasan Balap Ancol 12-13 Maret yang
lalu, agaknya sangat turun peminatnya. Tahun lalu masih tercatat
43 peserta, tapi tahun ini cuma 14 suatu penurunan sebesar 65
persen. Sebab-musabab kurangnya perhatian tersebut, membuat
seorang perakit mobil, harus dipulangkan pada persiapan Panitia
Penyelenggara. "Bagaimana kami bisa ikut, kalau kurang seminggu
kita baru diberitahu peraturannya". katanya. Di samping itu
faktor pembalap pun ikut menentukan. Beberapa perakit mobil
khusus mengincar pembalap-pembalap tertentu yang sudah menonjol
prestasinya, meskipun honornya jutaan rupiah. "Maklum, ini 'kan
promosi", kata seorang pengusaha, "maka pembalapnya pun harus
yang baik". Beng Soeswanto misalnya, ia jadi rebutan di antara
Toyota dan Datsun. Beng nampaknya pasang harga tertinggi sebelum
ia menanda-tangani kontrak dengan pihak pengusaha. Sampai pada
latihan terakhir Beng masih belum terikat. Ternyata ketika lomba
berlangsung Beng duduk di belakang kemudi Toyota.

Sementara itu dari pihak Panitia terdengar suara penasaran yang
menyalahkan pihak perakit yang kikir. Ogah mengeluarkan Rp
250.000 untuk sepasang pembalap. "Padahal", ujar pihak Panitia,
"kalau dilihat dari segi promosi jumlah uang tersebut bukan
apa-apa". Dalam keadaan keuangan yang prihatin ini, "untung
Astra masih mau ikut", seperti ditambahkan oleh seorang anggota
Panitia, "kalau tidak, ya gagal".

Pembalap Elite

Bagi para pembalap baru yang belum punya nama, nampaknya lomba
ketahanan ini bukan kesempatan yang ramah buat mereka. Sehingga
banyak yang punya minat besar tapi tiada sponsor, terpaksa
menjadi penonton di pinggir sirkuit, "Ini sebetulnya fikiran
yang salah", kata Yan van Mannen pada Syarif Hidayat dari TEMPO,
"sebab faktor mesin juga sangat menentukan. Coba saja lihat
kalau mesinnya brengsek, biar jago kaya apa sulit berhasil".
Dari kacamata Yan ini nampaknya unsur sport perlu mendapat
perhatian yang sepadan di samping unsur-unsur komersiil.
Maksudnya, para perakit bukan hanya menyumbangkan uang, tapi
mereka kudu ikut membina pembalap-pembalap muda.
Pembalap-pembalap yang sudah punya nama dewasa ini, menurut Yan,
boleh dikatakan pembalap elite. Mereka punya mobil sendiri buat
balap. Habis balap mobilnya lantas disimpan digarasi. Baru
dikeluarkan lagi kalau ada balapan.

Lomba ketahanan mobil 7 jam hari ke-II, tidak hanya kurang
peserta, tapi sepi juga penonton. Tribun-tribun tua tidak penuh
diisi orang. Namun ada sebuah yang ambruk. Suara gegap-gempita
dan tepukan penonton tertelan oleh suara bising mesin dan
sekali-sekali oleh deburan ombak di pantai. Para penonton yang
nampaknya cenderung melihatnya dari kacamata konsumen boleh puas
dengan penampilan Alfetta 1800 cc - sebuah merek baru dari
keluarga Alfaromeo bikinan Itali. Mobil ini dikemudikan Eddy
Lukita/Richard Wuisan. Dalam waktu 7 jam berhasil menempuh 159
putaran a 4.470 meter. Mobil ini termasuk yang baru dipasarkan
di Indonesia oleh PT Karya Satria.

Sementara itu Datsun yang sudah punya nama untuk pertama turun
ke landasan Ancol dengan tipe 120 (1200 cc) dan 160 SSS (1600
cc). Dadang Taruna/Bambang Karsono dengan 160 SSS-nya mencatat
153 putaran. Tapi yang tetap mengagumkan adalah Honda Civic
(1600 cc). Chepot/Dolly Indra, kedua pengemudinya dapat menempuh
sebanyak 156 putaran. Dan sebuah merek yang nyaris raja di jalan
raya, Fiat 124, dengan pembalap ir. B. Soerasmo berhasil keluar
sebagai run ner-up dalam kejuaraan "50-putaran" dalam waktu 2
jam 3 menit 41,4 detik. Juara pertamanya siapa lagi kalau bukan
Chepot (Honda Civic) denga waktu 2 jam 2 menit 45,8 detik.

Dan akhirnya Toyota Corolla 1200 cc yang dikemudikan Tinton
Suprapto Dali Sofari mencapai 148 putaran. Pasangan Beng
Soeswanto/Aswin Baha juga dengan Corolla cukup konsisten dengan
hasil 146 putaran.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data