Perkelahian Antar Sekolah: Kenapa ? Perkelahian antar pelajar di DKI Jakarta akhir- akhir ini
cenderung meningkat. Pelajar STM selalu mendahului
menyerang. Mental dan kesejahteraan guru yang kurang, menjadi salah satu penyebabnya. (krim) |
TIBA-TIBA Gubernur Ali Sadikin berseru: Ikrarnya kurang satu!
Agar pelajar DKI jangan suka berkelahi! Peristiwa itu terjadi
dua pekan lalu ketika seorang pelajar puteri baru saja
membacakan Ikrar Pelajar DKI Jakarta pada upacara pembukaan
Pekan Pendidikan DKI ke-VI. Walaupun tidak seramai perseteruan
antara sesama gang model lama. anak-anak sekolah yang berkelahi
di Jakarta akhir-akhir ini agak meningkat.
Dapat difahami bagaimana resahnya para murid, terutama yang
puteri, serta guru dalam menghadapi gejala negatif seperti itu.
Di SMA XXIV, untuk menenangkan siswanya, Kepala Sekolah berseru:
Belajar terus seperti biasa. Jika ada yang masuk kelas dan
menyerang kalian, balas saja dan bila perlu pakai senjata tajam.
Seruan untuk tenang dan bertahan ini disaksikan pula oleh
anggota polisi dan alat-alat keamanan lainnya. Jadi tidak
main-main.
Dengan Siswi
Kisahnya diawali seminggu sebelumnya. Dolop dari STM menyerang
Leo, SMA, dengan benda tajam ketika terjadi perselisihan di SMA
XXIV. Roy Wetik sebagai petugas keamanan OSIS (Organisasi Siswa
Intra Sekolah) setempat merebut senjata tapi dituduh ikut
mencampuri urusan. Sardono Yulianto, teman Dolop, tidak hanya
menuduh tapi juga memukul Roy dari belakang. Akibatnya Roy tidak
bisa mengendalikan diri dan terjadi perkelahian. Namun itu bisa
diatasi keesokan harinya. Kedua fihak, di hadapan petugas
keamanan, secara lisan menyatakan tidak akan mengulangi
perbuatan. Esoknya masih tercium info bahwa STM akan mengeroyok.
Kepala SMA melaporkan lagi pada petugas keamanan dan selama
beberapa hari memang aman. Namun Jumat pagi tanggal 2 Pebruari
sekitar 40 siswa STM menyerang SMA. Guru-guru sekolah yang
diserang itu memerintahkan semua siswanya masuk kelas. Patuh
atas perintah tersebut, siswa-siswa SMA tidak ada yang menyerah
dan anak-anak STM hanya memecahkan kaca-kaca jendela, kemudian
lari. Sekitar setengah jam kemudian baru alat negara datang.
Serangan STM Yanmor terhadap SMA XXIV itu hanyalah satu dari
belasan perkelahian antar pelajar yang dalam dua bulan
belakangan ini menghantui Jakarta. Dalam berbagai keributan itu
umumnya anak STM yang mendahului. Mengapa begitu? Seorang guru
STM, secara pribadi, mengatakan "Kan dari dulu, Anak SMA mikir
pakai ini, lha STM kan pakai ini, begitu sambil menunjuk dahi
untuk SMA dan lutut untuk STM. Sebab lain mengapa anak STM mudah
berkelahi daripada anak SMA, menurut guru itu, adalah karena
rata-rata orang tua siswa STM kedudukan sosialnya lebih rendah
daripada orangtua anak SMA. Ini mirip pendapat drs. Atik
Kosasih, yang menambahkan pula satu faktor. Siswa STM di
sekolahnya jarang sekali bergaul dengan siswi, tidak seperti
kawan-kawannya di SMA. Nah, kekurangan ini yang kemudian
menjelma menjadi kompensasi yang berlebihan.
Banyak Perantara
Adakah faktor guru yang menyebabkan timbul perkelahian? Menarik
juga keterangan guru STM yang enggan disebut namanya itu.
Pokoknya guru-guru STM bisa saja mencegah siswanya berkelahi
asal mau dan tidak acuh tak acuh. Menurut guru itu sikap masa
bodoh itu timbul karena guru tidak memiliki keyakinan dan
harapan, seperti ketika pejuang merebut kemerdekaan dulu.
Singkatnya nasib guru supaya lebih diperhatikan dan pimpinan
sekolah terbuka pada guru-guru bawahannya, tidak cuma membikin
atasan senang. Pengabdian guru belakangan ini diakuinya kendor,
sebab harapan guru kurang menggembirakan. Sarjana yang bekerja
bertahun-tahun belum tentu bisa menjadi pimpinan sekolah.
Pengabdian yang kendor diakui pula oleh Atik. Dan ia menambah
bahwa banyak orang menjadi guru karena terpaksa, dus tidak
mengetahui tugas yang sebenarnya. Namun ia tidak setuju kalau
perbaikan guru hanya dengan meningkatkan kesejahteraannya. Sebab
ini bukan jaminan. Mentalpun juga harus ditatar. Keduanya harus
jalan seimbang. Soal penataran guru rupanya juga jadi faktor
penyebab, mungkin tidak langsung, terjadi keributan anak
sekolah. Anak-anak sekolah bisa keluyuran keluar sekolah pada
jam-jam belajar karena guru-guru mereka mengikuti penataran
secara bergilir. Di sebuah STM ada 20 guru, yang 13 ikut
penataran, belum terhitung yang tidak masuk karena sakit. Bisa
dibayangkan bagaimana suasana sekolah yang banyak ditinggalkan
gurunya tanpa diberi pekerjaan. Bulan-bulan belakangan ini
memang banyak penataran. Sampai timbul kesan pada seorang guru
bahwa penataran itu diadakan sekedar untuk menghabiskan biaya
Pelita yang sudah terlanjur dikeluarkan. Kesan itu bukan tanpa
alasan. Sebab melihat jadwal pelajaran pada penataran, orang
bisa ketawa.
Satu Lawan Satu
Bagaimana menghadapi keributan anak-anak sekolah ini? Atik
Kosasih tidak senang bila penyelesaiannya hanya dianggap
kenakalan remaja. Pembikin ribut itu harus ditindak sesuai
dengan hukum pidana yang berlaku, apalagi terhadap mereka yang
sudah tergolong dewasa. Sebab bila tidak demikian akan
diremehkan oleh anak-anak yang sudah tahu apa hukumannya bila
mereka berbuat ribut lagi. Dari dulu pun anak muda sering
berkelahi tetapi satu lawan satu dan kawan-kawannya hanya
menonton. Tapi sekarang main keroyok. Ini, menurut guru STM itu,
adalah akibat situasi tahun 1966. Waktu itu banyak anak yang
meninggalkan sekolah tapi toh naik kelas juga. Perkara
penguasaan ilmu belakangan saja sebab kiblat umum saja masih
pada ijazah, bukan pada kemampuan.
Ada polisi yang mengatakan bahwa keributan belakangan ini adalah
akibat turunnya wibawa guru. Itu saya tolak, komentar Atik
Kosasih. Guru yang mana?, tanyanya. Jika guru-guru SMA XXIV
tidak punya wibawa, jadi tidak berhasil menggiring masuk
siswanya tentu korban lebih banyak. Waktu STM menyerang hanya
dengan kekuatan 40 orang sedangkan SMA yang diserang punya 600
siswa. Untung yang korban hanya 24 jendela pecah. Supaya
keributan tidak terjadi banyak yang masih harus dilakukan.
Menurut Atik, selain guru harus menertibkan diri, juga
pemerintah harus berbuat lebih baik terhadap guru. Dan terakhir,
diharapkannya agar masyarakat sendiri yang harus membina
anak-anak sebab sebagian besar waktu mereka dihabiskan di
lingkungan masyarakat.
|