Merdeka Dan Pecah Papua Nugini Merdeka. Dengan port moresby sebagai ibukotanya. pulau bougainville memisahkan diri dari papua nugini. Papua Nugini berusaha menyatukan kembali demi tambang tembaga milik bougainville itu. (int) |
PESTA kembang api besar-besaran telah menyambut lahirnya sebuah
negara Pasifik hari Selasa malam pekan silam. Negara baru yang
berbatasan dengan Indonesia itu adalah Papua Nugini dengan Port
Moresby sebagai ibu kotanya. Sementara pesta kembang api
berlangsung dalam kehadiran sejumlah tamu penting--Pangeran
Charles, Perdana Menteri Whitlam, Nyonya Imelda Marcos, Menlu
Adam Malik - kapal perang berbendera Australia yang buang sauh
di lepas pantai melepaskan tembakan ke udara sebagai pertanda
berakhirnya keterlibatan Canberra di negeri itu setelah selama
lebih dari 60 tahun mengurusinya. Meskipun untuk sementara
tentara Australia masih dibutuhkan oleh Papua Nugini yang
kabarnya cuma punya 3 ribu perajurit darat.
Michael Somare, perdana menteri pertama negeri dengan
penduduk juta jiwa dalam wilayah seluas 209 ribu mil itu sudah
jelas akan menghadapi tugas-tugas berat di masa mendatang. Papua
Nugini dilukiskan oleh banyak orang sebagai negara paling
terkebelakang di dunia. Di negeri yang dihuni oleh ribuan suku
dengan lebih dari 700 macam bahasa yang saling berlainan, tidak
jarang terjadi perang suku dengan mempergunakan panah maupun
tombak yang sebagiannya masih mempergunakan batu sebagai
ujungnya. Bahkan ketika kemerdekaan sudah makin mendekat,
sejumlah orang masih sempat memisahkan diri dari pemerintah
pusat. Hanya 15 hari sebelum penyerahan kedaulatan dilakukan
oleh Pangeran Charles atas nama ibunya - kepada para pemimpin
negara baru itu di Port Moresby, keutuhan Papua Nugini telah
mendapat cobaan berat dengan pengumuman memisahkan diri oleh
pulau Bougainville. Pemimpin kaum sektaris di pulau dengan
penduduk 102 ribu jiwa itu mengumumkan keputusan mereka di depan
5 ribu orang yang menghadiri sebuah rapat umum di Kieta, kota
terbesar di pulau penghasil tembaga itu.
Pemisahan diri Bougainville itu dikutuk baik oleh Port Moresby
maupun oleh Canberra. Keadaan menjadi tegang ketika wakil
pemerintahan pusat yang berada di Kieta secara terpaksa
meninggalkan posnya setelah merasa jiwanya terancam. Meskipun
demikian tindakan kekerasan belum terdengar. Barangkali saja hal
ini disebabkan oleh kurangnya pasukan yang dimiliki oleh Papua
Nugini. Tapi mungkin juga berakar pada suatu kebijaksanaan untuk
tidak menempuh jalan kekerasan. Tapi menarik untuk mencatat
bahwa justru pada saat-saat sedang sibuk dengan perayaan
kemerdekaannya, Papua Nugini dan Indonesia tiba pada suatu
kesepakatan untuk menolak setiap gerakan separatisme.
Bagi Papua Nugini, pemisahan diri Bougainville tidak hanya
sekedar soal politik atau pristise belaka. Pulau itu merupakan
sumber kekayaan terpenting bagi negara baru ini. Dengan tambang
tembaga terbesar di belahan bumi selatan, hasil yang digali dari
perut pulau Bougainville itu hingga kini merupakan dua pertiga
dari seluruh ekspor Papua Nugini. Tanpa tambang itu praktis
tidak banyak harapan bagi Papua Nugini Untuk membangun
negaranya. Karena itulah maka Somare, bekas guru sekolah, dan
bekas wartawan, secara amat hati-hati menangani soal pemisahan
pulau tembaga itu. Bougainville adalah harga mati bagi Papua
Nugini, karena itu akhirnya segala cara akan halal di hati Port
Moresby demi tembaga yang amat penting itu.
|