Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 26/V/30 Agustus - 05 September 1975
   
Kriminalitas

Oleh & Untuk Wartawan

Pengusaha King Hartono di peras 3 wartawan di Jakarta. akibat penyelewengannya mau disebarkan. Dia membayar 3 wartawan tersebut Rp 2,3 juta. Pemerasan terbut diketahui. 3 wartawan ditarik dari tugas.(krim)

BENARKAH wartawan ditakuti Kalau tidak, tentu King
Hartono,seorang pengusaha di Jakarta tidak sampai harus
mengeluarkan uang kepada 3 orang wartawan Jakarta yang
mendalanginya. Ketiga wartawan itu adalah AA, SS dan H
masing-masing dari 3 harian pagi di Jakarta. Kepada King Hartono
ketiga wartawan yang sehari-hari bila mengcover berita-berita
kepolisian di Komdak Metro Jaya itu memberitahukan bahwa mereka
akan menyiarkan di koran masing-masing mengenai penyelewengan
King Hartono dalam kontrak pemborongan pemasangan pipa air-minum
di beberapa tempat di Jakarta.

King yang rupanya tak ingin kasusnya itu tersiar akhirnya
menyerahkan selembar cek Bank Pembangunan Daerah DKI seharga Rp
1,6 juta kepada ketiga tamunya itu. Dari cek itu masing-masing
mendapat Rp 500 ribu, sedang yang Rp 100 ribu sisanya konon
disisihkan untuk Letkol Polisi Abbas Wiranatakusumah, Humas
Komdak Metro Jaya.

Mungkin kasus ini akan tetap tinggal akan di benak ketiga
wartawan dan King Hartono saja, sekiranya semuanya sudah merasa
puas. Tapi ternyala Rp 500 ribu belum dirasakan memadai bagi H.
Ia kembali menemui King Hartono, kali ini sendirian. Kepada King
H menyodorkan naskah berita mengenai King yang menurut H akan
segera dimuat harian Kompas dan Angkatan Bersenjata. Dari
operasi ini, H akhirnya berhasil meraih tambahan Rp 700 ribn
dari King. Dengan uang ini H segera berbelanja sebuah motor
Vespa baru.

Perbuatan H, ini rupanya diketahui oleh kedua kawannya semula
yaitu SS dan AA dan menimbulkan ketidaksenangan keduanya. Tak
ayal lagi, AA memberitahukan kepada wartawan Kompas di Komdak
bahwa ia dan korannya telah dicatut oleh H. Kerchan ini
menyebabkan terjadinya rapat mendadak pala wartawan kepolisian
di Komdak Metro Jaya minggu lalu. Dalam pembelannya salah
seorang dari trio menyatakan di hadapan rapat: "Pemberian itu
dengan rela. Kami jabat tangan segala. Tapi H mengakui: "Itu
jelas pemerasan. Kalau tidak memeras kan kita siarkan saja",
katanya. H mengkui bahwa ia telah melakukan kesalahan dan
karena itu bersedia menerima resiko baik dari korannya maupun
dari kawan-kawannya sesama wartawan kepolisian.

Tapi AA dan SS membantah keras bahwa yang mereka lakukan itu
adalah memeras Keduanya berpegang pada pendirian bahwa mereka
datang dengan baik-baik dan cek diberikan King Hartono dengan
rela. Karena itu dalam rapat itu AA menuntut agar rapat hanya
membicarakan kasus pencatutan nama Kompas dan AB oleh H saja.
Soal cek Rp 1,6 juta. AA keberatan hal itl diungkit-ungkit
karena, katanya, itu merupakan jerih payahnya selama
berbulan-bulan mengumpulkan data mengenai penyelewengan King
Hartono.

Dipecat & Disita

Perkara yang dituduhkan terhadap diri King Hartono itu awal
Agustus lalu telah diserahkan kepada Letkol Pol. Abbas
Wiranatakusumah dan oleh yang terakhir ini telah disalurkan ke
Seksi Ekonomi Komdak Metro Jaya. Abbas sendiri yang
disebut-sebut akan diberi Rp 100 ribu dari hasil Rp 1,6 juta
yang diterima H, AA dan SS merasa dirugikan namanya. Tapi
menghadapi masalah ini, ia nampaknya ingin membiarkan para
wartawan kepolisian di Komdak mencari penyelesaian sendiri.
Katanya, dia akan mengambil alih persoalan tersebut, kalau
memang para wartawan tidak hisa menyelesaikannya sendiri. Tapi
sementara itu minggu lalu, Abbas telah menyebut-nyebut
rencananya mungkin akan meminta koran-koran bersangkutan menarik
ketiga wartawan itu dari penugasan di Komdak Metro Jaya".

Tapi dari trio AA, SS dan H, rupanya nasib H yang dengan cepat
meluncur jatuh. Tanggal 21 Agustus kemarin, ia telah kehilangan
pekerjaan dipecat oleh koran tempatnya bekerja. Dan pada hari
itu juga Vespa yang dibelinya telah disita kedua wartawan
Kompas dan AB yang namanya telah dicatut H. Penyitaan ini
dilakukan keluanya atas nama Koordinator Wartawan sub-seksi
Polri/seksi Hankam. Di amping H, nasib buruk mungkin akan
segera menimpa seorang zetter IBM di sebuah percetakan di
Jakarta Kota. Sebabnya karena menurut pengakuan H. orang inilah
yang telah dimintanya mengetikkan naskahl berita yang
disdorkannya kepada King Hartono sebagai berita Kompas dan
Angkatan Bersenjata dengan membayar Rp 100 ribu. Belakangan
diketahui ada pula seorang wartawan lain bernama Sy. S yang
upanya juga telah menghubungi King Hartono dan berhasil
mendapatkan pula sejumlah uang.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data