Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/V/29 Maret - 04 April 1975
   
Daerah

Kabupaten Gempa

Kabupaten majene (sul-sel) yang dihuni oleh suku mandar, merupakan daerah rawan gempa. master plan pembangunan kota majene disusun universitas hasanudin penghasilan penduduk dari kopra dan ikan. (dh)

TIGA ratus kilo meter di barat laut tersebutlah sebuah
Kabupaten. Majene namanya. Ibukotanya yang bernama sama
menghadap ke laut Selat Makasar yang dalam. Pejabat Bupati
Letkol Alim Bachri berbangga diri mengatakan kalau daerahnya
merupakan satu-satunya Kabupaten yang dalam penyusunan master
plan pembangunan berhubungan langsung dengan perguruan tinggi.
Begini.

Suatu ketika berjumlah kira-kira 10 orang sarjana ekonomi Unhas
mengorek-ngorek data di Kabupaten Majene ini. Kemudian lahirlah
master plan yang tidak berbeda dengan Pelita. Di antara saran
terpenting adalah agar kiranya Majene bisa menjadi Sentra
Wilayah Pembangunan V. Selama ini Sul-Sel telah dibagi menjadi 4
Wilayah Pembangunan. Bupati optimis bahwa isi buku master plan
itu akan mendapat tanggapan positip mengingat bahwa para sarjana
yang mengadakan penelitian ini kebanyakan berada di dalam
Bappeda. Bagaimana keseluruhan perencanaan tersebut belumlah
disebar luaskan, yang jelas penelitian di lapangan oleh Lembaga
Penelitian Ekonomi Masyarakat Fakultas Ekonomi Unhas ini hanya
memanpaatkan waktu 10 hari.

Skala Richter

Tiga Kabupaten (Polmas Majene dan Mamuju) dihuni oleh suku
Mandar yang banyak dikenal akan hasil tenun sarungnya. Laut
Mandar ternyata sering menimbulkan gempa karena di situ
tersembunyi episentrum gempa yang dahsyat. Beberapa kali gempa
secara periodik datang berkunjung. Menurut peta lama di daratan
pun ada digambarkan tempat pusat gempa itu. Gempa terakhir
terjadi pada tahun 1969 dan menurut orang-orang tua belakangan
ini kecemasan itu ada di dalam hati karena berdasar perhitungan
pengalaman si tamu tersebut sudah waktunya untuk berkunjung
Perkiraan ini rupanya tak meleset benar ketika terjadi gempa
bumi yang bersumber di laut Banda belum lama ini.

Janganlah heran kalau lantai tanah/ubin rumah-rumah di daerah
Mandar pecah-pecah atau sedikitnya di sana-sini retak dan
melengkung tidak beraturan. Pada gempa tahun 1969 angka gempa di
Majene menunjukkan 6,4 pada skala richter yang kerangka 8.
Bayangkan betapa hebatnya, gempa di Sukabumi baru-baru ini Skala
Richter menunjukkan angka 6,3. Penghindaran terhadap gempa ini
yang paling penting adalah membuat rumah bukan dari batu
seluruhnya. Kalau rumah itu tidak dari kayu maka hanya bagian
bawahnya saja yang dari batu. Menurut catatan gempa di Bandar
sudah pernah menggelindingkan gunung ke laut, menggusur kampung
ke laut, merusakan sebagian besar jembatan dll.

Gunung Dan Sedikit Miskin

Kabupaten Majene luasnya 1.932 KmÿFD dan 85% daratannya terdiri
dari gunung-gunung dengan ketinggian rantau 300-500 meter di atas
permukaan laut: Penduduknya kurang lebih 90 ribu dan 28
ribu jiwa di antaranya berada di kota. Pertanian padi bukanlah
tempatnya di Majene. Orang banyak mengusahakan kopra sekitar 1
juta pohon kelapa. Selain itu laut juga merupakan lapangan kerja
yang lumayan dengan adanya kira-kira 2.700 buah perahu yang
berkekuatan 1-50 ton. Ikan karena murah dan banyaknya sampai
tidak dapat dipasarkan. Ikan cakalang yang di Ujung Pandang
berharga Rp 300-an per ekor di sana hanya berharga
sepersepuluhnya:

Jalanan yang sagat jelek dengan jembatan yang tidak adx
merupakan penghalang utama lajunya: perekonomian rakyat. Untuk
memasuki kabupaten Majene dari Polmas misalnya semua kendaraan
dan orang antara lain harus naik pincara yaitu getek tambang.
Sedang jembatan di utara Majene yang beruntuhan membuat
kendaraan harus berenang di sungai dan sesekah harus mencicipi
asinnya, air laut. Jalan utama antara Mapili sampai Campalagian,
rusak berat. Kalau hujan tiba jalan ini tidak hanya sebagai
sawah tapi berubah menjadi kubangan kerbau dengan sumur-sumur di
tengahnya. Minta ampun.

Karya Sadar

Bupati Alim Bachri untuk mengajak penduduk ikut membangun secara
kecil-kecilan mengintrodusir istilah `karya sadar'. Barangkali
untuk menghindari nama gotong royong atau kerjabakti, yang jelas
ada beda sedikit. Dalam karya sadar Bupati misatnya ikut
langsung bekerja di bawah penugasan pemimpin seternpat,: Kepala
Desa umpamanya. Dengan karya sadar ini sudah lebih 10 km jalanan
dibuat dan perbaikan di sana sini.

Mandar merupakan daerah Islam yang kuat, bahkan sudah terkenal
sebelum perang melebihi Ujung Pandang. Benih-benih pergolakan
nasionalisme bermunculan di sini. Sewaktu Belanda akan memasuki
Tinambung dari Majene ada jembatan yang dirantai dan ditunggui
oleh semua penduduk, termasuk wanitanya dengan hanya membawa
tombak. Tiang bendera mengibarkan Merah Putih di setiap rumah.
Belanda pernah merobohkan semua tiang bendera itu kecuali satu
karena dipeluk rapat oleh seorang wanita. Wanita yang selalu
bergelut dengan perjuangan ini sangat terkenal di Sulsel,
namanya Ibu Depu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data