Ibarat Kuda Mandi Proyek pembangkit listrik bertenaga air, PLTA batang agam di sum-bar dipimpin oleh yanuar muin. riwayat plta ini dimulai sejak masa belanda. Diharapkan proyek ini selesai tahun depan. |
LEMBAH Agam itu terletak 15 Km di luar Bukittinggi arah
Payakumbuh dan sudah lama merupakan tempat rekreasi bagi
anak-anak sekolah ataupun kumpulan pemuda dari pelbagai pelosok
Sumatera Barat. Di samping menikmati pemandangan dan udara
pegunungan dari ketinggian 1000 m itu, orang sekaligus bisa
menyaksikan hasil kemajuan teknologi dengan adanya PLTA Batang
Agam. Pembangkit listerik bertenaga air itu kini tinggal
menunggu datangnya mesin turbin. Tiga hari menjelang puasa,
seluruh pekerja proyek itu dikumpulkan. Di tepi danau buatan
yang belum lagi berisi air, di bawah rumpun bambu mereka jongkok
di tumpukan kayu atau berjuntai di bangku darurat. Sementara
ratusan nasi bungkus siap menunggu, sepatah dua kata disampaikan
lewat pengeras suara. Pembicara tunggal: Ir Yanuar Muin,
pimpinan PLN Pembangunan II -- wilayah Sumbar, Riau & Kerinci --
yang membawahi proyek ini, dan baru saja beroleh Satyalencana
Pembangunan dari Presiden Soeharto.
Di samping kelaziman saling bermaafan masuk puasa, tanpa diduga
alumni ITB yang konon bertabiat keras ini, di pertengahan
pidatonya serta-merta jadi sentimentil. Dia terisak ketika
menyatakan penghargaan atas kelancaran penggarapan proyek
listerik bertenaga air yang pertama di Sumatera Barat itu.
(Proyek ini melibatkan tiga perusahaan PN Waskita karya untuk
kerja sipil-basah, Barata Engineering urusan kerja besi dan
mesin, serta PT Sucofindo sebagai peneliti mute sambungan pipa).
Apa yang membuat mata Yanuar jadi berkaca-kaca menyangkut
kenangan masa lampau yang lumayan getirnya. Terutama hari-hari
sebelum datangnya dana dari Pelita I, yang oleh Yanuar
dibayangkan sebagai nyaris melenyapkan semangat membenahi proyek
ini. "Sampai ada di antara staf tak tahan dan minta kembali ke
Jakarta", kata seorang anggota staf.
Batang
Sebagai satu pioyek yang lama dirindukan, PLTA Batang Agam punya
riwayat. Orang Minang menyebut sungai itu sebagai batang. Batang
Agam bermata air di kaki Gunung Merapi (lebih kurang 40 km dari
Lembah Agam). Sudah sejak 1927 disurvey Belanda. Itu berlangsung
sampai 1938 yang dikaji kemungkinan menyulapnya sebagai
pembangkit listerik: Sungai ini memang tak sedahsyat Kali
Brantas, misalnya. Tapi hasil penyelidikan menyimpulkan bahwa
debit air 14 m3 per detik itu dipandang memadai untuk
menghancurkan tenaga listerikt. Tapi itu hitungan di zaman dulu.
Sebab baru-baru ini terdengar selentingan suara
yang menyangsikan apakah air yang diandalkan dari aliran
Batang Agam itu bisa mencukupi. Kekuatiran itu cepat ditampik
jurubicara PLN Pembangunan II, Ismed Ramli. Kepada TEMPO
diyakinkannya: "Debit air Batang Agam masih tetap sama seperti
hasil survey Belanda dulu", ujarnya "dan itu sampai sekarang
masih diukur".
Setelah gagal dijamah Belanda, di zaman Republik sekitar 1957
Batang Agam sudah dilirik oleh satu team dari Jakarta. Lalu
terjadi pergokahan daerah dan Batang Agam tetap nganggur. Tahun
1961, tercantum dalam daftar pembangunan semesta berencana --
dan nasibnya pun hanya sampai di atas kertas. Urusannya waktu
itu bukan sekedar kudu merayahi belantara yang banyak harimau
dan ular lalu-lalang'. "Tapi untuk mengerjakannya selain sulit
duit, juga masih suburnya anggapan penduduk bahwa kerja memburuh
adalah kurang terpuji. Hal ini sempat merupakan mitos bagi orang
diluar Minting tentang sukarnya melaksanakan pembangunan di
Sumatera Barat: sulit mencari tenaga kerja dan mendapatkan
tanah. Namun ketika sejak 1966 PLTA Batang Agam dibenahi, tak
kurang dari Menteri Amirmahmud yang tercengang, dan menyangka
para pekerja yang tulen urang awak itu berasal dari kaum
transimgran.
Paling Padat
Menteri Sutami pun hampir kehilangan kata-kata menyaksikan
kebolehan mereka membangun itu, sampai diingatnya corak kerja
ala zaman Majapahit. Maklum, untuk membuat jalan masih
menggunakan. tenaga manusia. Biaya proyek ini yang menurut
taksiran Yanuar "sampai dengan proses transmisi distribusi
menelan Rp 3 milyar" lebih banyak ketolongan lantaran alat-alat
berat tak usah sampai dibeli baru. Pembuatan waduk dikerjakan
dengan alat bekas Jatiluhur dan Riam Kanan. Sedangkan pembuatan
terowongan sepanjang lebih kurang 1.200 m di perut bukit yang
tingginya 400 m, dilakukan dengan alas eks Cikalong. Karena alat
bekas, tak heran bila sebelum dipakai kudu direndam dulu
seminggu untuk melepas karatannya. Sebagian besar alat-alat itu
sudah pulang kandang, kecuali satu dua truk pengecor beton yang
bernomor polisi Kalimanan Selatan masih beroperasi. Kini tiap
hari bekerja 500 buruh, dengan upah Rp 300 per orang atau
tergantung hasil kerja borongan. Apa rahasia di balik
keberhasilan merangkul begitu banyak buruh asli Minang? Sembari
memainkan tongkat komando Yanuar menunjuk mujarabnya sebuah
pepatah "Bagai orang memandikan kuda, ingat itu?" tanyanya dan
menjelaskan "Itu berarti kita harus berani lebih dulu masuk
air".
Pembangkit listerik Batang Agam ini diharap rampung akhir tahun
depan. Kekuatannya 10 MW. Ini berarti cuma 1% dari kapasitas
tenaga air yang dikandung bumi Sumatera Barat. Sungai di Sumbar
yang meliuk di seantero kaki Bukit Barisan, lebih banyak
diganjel batu-batu, tapi menurut penyelidikan bila digarap bakal
mampu memancurkan tenaga listerik sekitar 800 sampai 1000 MW.
Kapasitas begitu bahkan mungkin bisa disalurkan juga untuk
daerah jirannya yang tak banyak punya tenaga air, seperti Riau
dan Jambi. Kini dengan janji dari Batang Agam, kalangan industri
menengah boleh bernafas agak lega. Kegiatan di sektor ini sejak
lama berlangsung di rumah-rumah penduduk. Seperti terdapat di
Sungaipuara berupa usaha konfeksi. Kerajinan besi di Banuhampu,
penggilingan kopi dan padi di Agam, tebu di Lawang, peternakan
di Padang Mangatas, pertanian di Payakumbuh, dan perbengkelan
serta pariwisata di Bukittinggi. Singkatnya, untuk sementara ini
PLTA Batang Agam baru memberi kebutuhan listerik -- terutama
pengembangan industri menengah, untuk Sumatera Barat bagian
tengah (yang paling padat penghuninya), yakni kabupaten Agam, 50
Kota, Batusangkar dan kotamadya Padangpanjang.
|