Listrik besok Kekurangan listrik di kota Padang dapat ditanggulangi PLN
sendiri bila langganan PLN setia membayar rekening. Perbaikan
jaringan distribusi sedang digarap dengan kredit ADB. |
PENGGUNAAN listrik non-PLN di Padang mencapai 4000 kw, atau 500
kw lebih tinggi dari yang dikuasai PLN. Itu diungkapkan oleh Ir
Suhardjo sendiri, jabatan sehari-hari Kepala PLN Daerah
Eksploitasi XIV Sumbar-Riau. Dengan menunjuk keadaan kota Padang
yang mengidap sakit listrik itu, sekaligus Ir Suhardjo ingin
menyodorkan harapan dari langkah yang sedang digalakkan. Empat
mesin diesel pembangkit listrik PLTD Simpang Haru -- tiga masih
berupa mesin tua dan satu baru dipasang akhir Nopember lalu.
Yang satu ini masih menjalani masa percobaan, bermerek "Stork
Werkspoor Diesel" dengan kekuatan nominal 1.340 kw. Adanya mesin
yang baru ini dimungkinkan oleh kredit Belanda 1970 plus rupiah
pemerintah Indonesia untuk pemasangannya.
Byar-pet.
Secara tertulis kekuatannya memang 1.340 kw, namun yang efektif
adalah 1.250 kw. Dengan tambahan satu mesin ini, kota Padang
baru mencapai muatan listrik tertinggi 3.500 kw. Jumlah tersebut
konon sudah hampir mencukupi buat keperluan langganan. Namun
masih terdapat gangguan sehingga antara pukul 17.30 sampai 21.00
masih terjadi pemadaman kecil. Alasannya? "Masih ada
transformator yang perlu dibereskan", jawab seorang petugas PLN
Padang. Akibatnya daerah sekitar jalan Pemuda/Veteran sebegitu
jauh masih merasakan kekurangan jatah 50 kw lagi. Dan yang
sedang ditunggu dari Amerika Serikat adalah, alat-alat yang di
pesan diharapkan sudah sampai di Jakarta akhir Desember ini.
Jika PLTD Simpang Haru kelak rampung membenahi dirinya, toh
belum serta-merta berarti acara byar-pet berakhir samasekali.
Paling tidak untuk satu dua tahun ini nampaknya keabaran
penduduk masih ingin diminta fihak PLN Padang. Begitu pula jika
ada peminat baru yang ingin berlangganan "belum bisa dilayani",
ujar petugas PLN tersebut. Sebab perbaikan jaringan distribusi
masih harus digarap. Dengan biaya 7,1 juta dollar dari kredit
ADB, sekaligus memungkinkan kesempatan menggarap perlistrikan di
Bukittinggi Padang Panjang, Payakumbuh. Bahkan sebagian akan
digunakan untuk PLTA Agam yang bakal selesai sebentar lagi.
Dari rencana perbaikan yang disodorkan fihak PLN Sumbar -- Riau
itu -- di samping ingin memberi bayang-bayang harapan kepada
konsumen bakal berakhirnya zaman remang-remang -- yang lebih
menonjol lagi ialah adanya harapan dari fihak PLN sendiri agar
para langganan suka hati melunasi rekening yang baru mencapai 70
hingga 80%. Akibatnya PLN Padang masih disubsidi oleh PLN Daerah
Eksploitasi XIV Sumbar-Riau. "Rp 1,5 juta tiap bulan?' keluh Ir
Suhardjo "padahal PLN Padang sudah dapat membiayai diri sendiri,
jika tagihan yang 20o lagi bisa terlaksana". Adapun langganan
untuk ABRI rekeningnya diselesaikan di Jakarta. Bila pendapatan
PLN yang masuk ke kas di Padang ditambah dengan rekening ABRI di
Jakarta, maka PLN Padang konon terbilang salah satu cabang yang
bisa mengongkosi dirinya.
|