Hujan & P-upuk Akibat banjir yang melanda areal sawah lebak, diperkirakan
Sumatera Selatan kekurangan beras. Petani sayur dan lada cemas
karena pupuk urea & tsp hanya untuk peserta bimas/inhas padi. |
DI Sumatera Selatan bulan Oktober tadi sudah dilangsir berita
naas tentang sawah-sawah lebak direndam air. Rumpun padi yang
sedang hamil tua tiba-tiba lemas terendam air akibat hujan lebat
turun beruntun. Keadaan demikian menyebabkan "10% saja sawah
lebak mengalami kerusakan", seperti dikatakan Ir Abdurrachman
Daud Rusydi kepala Diperta Sumsel mengatakan pada koresponden
Wahab Marian awal Oktober lalu. Namun dua pekan berikutnya
laporan-laporan yang masuk sama deras dengan air hujan yang
mencurah. Kepada Antara Rusydi mengatakan "sekitar 25.000 hektar
sawah lebak mengalami kerusakan akibat banjir". Ini saja tentu
bukan main-main. Sebab 107.494 hektar total areal sawah lebak
yang berada di 6 kabupaten, berarti hilang seperempatnya.
Akibatnya "Sumatera Selatan tahun ini kekurangan beras 137.000
ton", kata gubernur Haji Asnawi Mangku Alam.
Beras gizi devisa. Bidang produksi pertanian lainnya, nyaris
pula menambah deret daftar kemalangan Asnawi. Soalnya tak fain
gara-gara pupuk. Pabrik yang jaraknya hanya puluhan langkah raja
dari rumah sang gubernur rupanya tak begitu gampang hasilnya
dibetot lalu dibagikan kepada petani yang membutuhkan. Sedang
"pupuk urea dan TSP hanya disediakan untuk petani peserta
bimas/inmas padi saja", begitu keputusan Pemerintah 19 Oktober.
Lantas bagi petani di luar itu: dianjurkan memakai pupuk jenis
lain! Perkara jenis lain itulah yang rnembuat kalangkabut petani
di luar bimas/inmas padi. Sebab "di. Sumatera Selatan tidak ada
impor pupuk jenis lain" kata Ir Agus Ridwan dari Pemasaran
Pusri. Maka bersahut-sahutanlah lengkingan kesulitan yang cukup
memekakkan telinga dari petani sayur dan petani lada. Tak kurang
pula dirasakan oleh Dinas-dinas Pertanian, Perkebunan dan
instansi lain yang berkepentingan dengan proyek pengembangan
pertanian, melakukan pembibitan dan percobaan berbagai jenis
tanaman:
Petani hortikultura sudah terdesak sama sekali. Di Pagar Alam
kabupaten Lahat sisa pupuk di tangan pengeteng dibabat petani
sayur meski harganya sudah mencapai 90/kg. Itupun diperoleh
dalam jumlah yang tidak memadai. Tapi di Bangka sisa stok lama
habis sama' sekali. Ini membuat cemas petani lada di sana,
lebih-lebih bulan Nohember sampai Januari adalah masa pemupukan.
"Untuk kebutuhan sayur-mayur dan keperluan proyek pemerintah
sendiri sedikitnya dibutuhkan 200 ton pupuk" kata Somali dari Diperta.
Lantas berapa bahyak kebutuhan petani lada? "Minimal 2.000 ton"
jawab seorang petugas Dinas Perkebunan di sini "tanpa pupuk
tanaman lada akan hancur sama sekali". Rupanya keputusan 19
Oktober di wilayah Asnawi Mangku Alam bertabrakan antara
kepentingan bimas/inmas padi dengan tanaman lain di luarnya.
Tentu saja situasi begini tak nyaman. Sebab meningkatkan
produksi beras tidak harus memusnahkan produksi lainnya yang
ada. Apalagi akan mehgancam 6 juta dollar AS hasil devisa lada
setiap tahun. Maka meski repot memerlukan izin khusus dari 8
instansi pembina bimas/inmas di Pusat, sang gubernur bertekad
daerah nya harus memperoleh kelonggaran mempergunakan pupuk.
Berapa banyak kebutuhan pupuk petani non bimas/inmas yang
diminta? "Sesuai dengan kebutuhan" jawab M. Umar, Sekda propinsi
seraya menambahkan "meningkatkan produksi pertanian harus
berarti menambah beras, gizi dan devisa. Ketiga-tiganya
sekaligus".
|