Ulah Citanduy Akibat hujan lebat selama 1 minggu berturut-turut, tanggul
sungai Citanduy & 3 anak sungainya bobol. Kecamatan
Sidareja, Ciamis Selatan, mengalami kerusakan
terparah. Kerugian ditaksir 150 juta. |
TIGA kali BA. camat Sidareja, memperingatkan warganya agar
cepat-cepat mengungsi. Tetapi hanya sedikit di antara mereka
yang mau beranjak. Selebihnya tetap tak hirau. Sebab penduduk
tetap memperkirakan hujan yang turun pada hari-hari itu tidak
akan lebih hanyak mengirimkan air bah dibanding tahun-tahun
sebelumnya. Bahkan beberapa hari kemudian, setelah jelas bencana
itu sudah menyapu sckian banyak liorbam raut- muka penduduk di
kawasan sungai Citanduy tidak menunjukkan tanda-tanda cemas.
Wanita Sakimah penghuni desa Karangwangkal - hanya 20 meter dari
sungai itu -- tetap bersikeras tidak akan memindahkan rumahnya
dari tempatnya semula, walaupun hingga hari kedelapan lumpur
masih menimbukan sampai batas pintu jendela rumahnya. Dan jelas,
bahwa penduduk di kawasan Citanduy sudah cukup kebal terhadap
landaan banjir, lebih-lebih dari pengalaman yang hampir serupa
pada bulan Juni 1968.
Bagaimanapun juga, bencana air bah di akhir September tahun ini
memang tidak biasa. Sekurang-kurangnya bagi wilayah yang sudah
menjadi langgan,m luapn air ini hampir pada setiap bulan-bulan
Desember dan Januari dan sekalisekali di bulan Juli. Karena itu
bagi daerah Ciamis Selatan di wilayah Jawa Barat dan beberapa
kecamatan di lingkungan kabupaten Cilacap di Jawa Tengah,
musibah sekali ini benar-benar mengesankan. Citanduy dengan tiga
anak sungainya - Ciseel, Cijolang dan Cikawung -- seperti hendak
memperingatkan penduduk di sekitarnya, bahwa sekali-sekali air
yang dikirimnya dapat lebih ganas dari kejadian-kejadian rutin
sebelumnya. Gara-garanya - seperti yang ditulis dalam laporan
Proyek Citanduy, yaitu proyek untuk menjinakkan sungai itu serta
mengamankan daerah sekitarnya - adalah hujan lebat dan terus
menerus selama satu minggu. Tetapi ini belum cukup. Keadaan
tanggul sungai masih banyak yang lemah sementara kapasitas
sungai akibat endapan lumpur yang semakin tebal tidak seimbang
dengan jumlah aliran air adalah penyebab pula.
110 m terkoyak. Lalu curah hujan yang jatuh di daerah
Tasikmalaya tanggal 22 September itu sudah benar-benar membuat
mabok kaii Ciseel sehingga begitu saja membobolkan tanggul di
tempat. Dan tentang tanggul Citanduy sendiri rupanya tak jauh
lebih baik, sehingga sang air sempat menerjangnya roboh di 6
tempat, sementara Cijolang kebobolan sebuah dan Cikawung
menghamburkan beberapa buah tanggul rakyat. Di kampung
Panineungan misalnya, bobolan tanggul menganga sampai selebar 47
meter. Sedangkan di Kadungdadap kecamatan Sidareja kabupaten
Cilacap -- yang mengakibatkan banyak korban -- selebar 110 meter
telah di koyak-koyak Citanduy. Di beberapa tempat, seperti
daerah Padaherang dan Paledah di kecamatan Lakbok, sampai hari
ke--8 genangan air masih cukup lumaayan meskipun tidak
mengganggu kehidupan sehari-hari penduduknya.
Linggarjaya, Sidareja dan Sidamulya di kecamatan Sidareja
rupanya adalah desa-desa yang paling parah tertimpa musibah.
Ketika tanggul Kadungdadap bobol pada tanggal 73 September jam
20.00 malam, air bah yang melimpah melalui daerah datar itu
sebenarnya baru merayap di ketiga desa tadi setelah 27 jam
kemudian. Beruntung bahwa dalam kekagetannya - karena tidak
mengira air akan seganas itu -- penduduk masih sempat
menyelamatkan diri ke rel-rel kereta-api dan desa Kunci pada
bagian yang lebih tinggi. Dan korban harus jatuh juga: 3 orang
mati, di antaranya dua orang dewasa karena dingin dan lapar
sedang seorang anak yang sedang iseng main di sumur kelelep.
Untuk kecamatan Sidareja sendiri, camatnya menaksir kerugian
meliputi Rp 45 juta terutama karena kerusakan sawah yang
meliputi areal hampir 10 hektar. Sampai hari ke--8 sejak bencana
itu terjadi, sekitar 25% penduduk Sidareja masih hinggap di
sepanjang rel kereta-api, selebihnya sudah membenahi rumah
masing-masing atau menempati gubuk-gubuk penampungan.
Rp 150 juta total. Betapapun juga sungai Citanduy yang
panjangnya hampir 300 Km itu -- berhulu di gunung Cakrabuana --
memang dalam keadaan yang tetap buruk. Wilayah aliran airnya 2/5
terdiri dari dataran rendah dan rawa-rawa sementara kawasan
hutannya hanya 11% Dari seluruh areal. Lebih dari itu banyak
pula belokan yang cukup kritis dengan kemiringan sunai di bagian
hilir sangat sempir. Ini tidak mustahil menghasilkan endapan
lumpur yang semakin lama terus menebal. Adapun tentang
pengerukan, rupanya juga masih belum banyak dilakukan, sementara
luapan air pasang yang membawa air asin sampai sejauh 20 km dari
Segara Anakan -- muara Citanduy -- menambah penyebab sungai ini
makin tak mampu menampung luapan air dari hulu. Sehingga
meskipun agak mengejutkan, banjir September baru lalu bukannya
hal yang tidak terduga oleh penduduk terutama karena mengingat
keadaan sungai seperti itu. Memang dibanding bencana serupa di
pertengahan tahun 1968 yang menghanyutkan kerugian sawah dan
tegalan seluas 20.692 hektar dengan kerugian seluruhnya meliputi
Rp 175 juta, banjir bulan kemarin di kabarkan telah merusakkan
sekitar 18.500 hektar daerah pertanian dengan total jenderal
kerugian meliputi Rp 150 juta.
|