Ciliwung Menyambut Pata Bagian kali Ciliwung yang menyusuri jalan gunung Sahari akan
diperbaiki, sedang yang di jalan juanda dan veteran dipolesi
dengan batu tempel. Kotak-kotak MCK di jalan Hayam Wuruk akan
dibongkar. |
SOAL keindahan rupanya memegang rol penting dalam menyongsong
tibanya konperensi PATA dan PON ke VIII. Di tengah naiknya
harga-harga, perkara judi dan soal kuburan, pemerintah DKI
Jakarta diam-diam sedang memperbaiki untuk kesekian kalinya
nasib kali tua yang membelah ibukota. Mula, mula rezeki yang
menimpa kali Ciliwung itu dimulai sejak mulut Harmoni sampai
depan hotel Gajah yang tampak dipolesi batu tempel. Itu saja
panjangnya 1.700 meter. Kata Syariful Alam, Humas DKI, "hiayanya
murah", cuma Rp 12.572.000. Lalu menyusul bagian yang membentang
di depan istana Negara yang membelah jalan Juanda dengan
Veteran, tidak kurang dari 1.000 meter tembok-tembok tua yang
sebelumnya berlumut itu sudah ditempeli batu kali yang menarik
mata. Yang ini makan biaya Rp 15 juta. Dan bagian selanjutnya
akan dimulai dari muka hotel Gajah tadi sampai dengan pintu air
Tangki sepanjang 2.000 meter dengan perkiraan ongkos yang
kabarnya tidak kurang dari 25 juta rupiah .
Semua itu baru bagian-bagian tepi Ciliwung yang bermuara di
Pasar Ikan. Sebab ada bagian Ciliwung lainnya yang menyusuri
jalan Gunung Sahari terus bermuara di Ancol, juga bakal
didandani sejalan dengan perbaikan dan pelebaran jalan raya yang
mendampinginya. Tapi soal me-make-up Ciliwung itu tentu saja
tidak semata-mata karena DKI ingin berhandai-handai menyambut
PATA dan PON. Sebab sang banjir yang praktis setiap tahun
membuat kali itu bikin onar, juga tersebut sebagai alasan. Akan
wabah yang satu ini -- yang membuat Gubernur Ali Sadikin pening
kepala dan membersihkan bawahannya -- memang dikaitkan dengan
perbaikan Ciliwung. Karena menurut Syariful yang Humas itu,
"akan lebih memungkinkan penyaluran air sungai mencapai kekuatan
arus debit 50 meter kubik per detik". Sebelumnya Ciliwung cuma
mampu menampung debit air dibawah angka tersebut.
Cuci kakus. Di samping pertimbangan-pertimbangan yang bisa diuji
kebolehannya, ada satu akibat sampingan yang barangkali sudah
termasuk pemikiran para ahli rias kota DKI. Yakni, menyetop
warga Jakarta yang punya hubungan intim dengan kali yang
berriwayat itu. Sebab, metropolitan yang kewalahan memberi air
bersih secara merata telah memaksa sebagian besar warganya
ber-MCK dengan kali berwarna coklat dan pemlh bebauan itu.
Perkara MCK (mandi-cuci-kakus) di Ciliwung ini menjadi
pemandangan yang sungguh biasa sejak Sudiro menjadi walikota: Di
zaman itu, Sudiro mencoba melenyapkan pemandangan kurang sedap
itu dengan membuat tepi kali itu demikian curamnya, hingga warga
kampung yang punya bakat jadi akrobat saja bisa menggelantung
melepas hajat besar dan turun naik mandi berbugil. "Soal
internasionalisasi Ciliwung" seperti ditulis Rustandi
Kartakusumah dalam majalah Siasat di tahun 1950-an itu akhimya
tidak berhasil membendung orang untuk MCK. Dan adalah Ali
Sadikin yang boleh disebut sebagai pemecah dilema C'iliwung
ketika di masa awal jabatannya dia perintahkan membuat
kotak-kotak MCK sepanjang jalan Hayam Wuruk.
Akan berakhirkah kotak-kotak unik MCK itu dengan diriasnya
Ciliwung kini? Kabarnya memang begitu, dengan alasan "tidak
sesuai lagi". Dan sebagai gantinya, konon akan didirikan banyak
MCK di tengah kampung: suatu cara pemecahan yang bisa dipastikan
akan memaksa orang kampun mengirit air mengingat tambahan 3.000
liter per detik air Pejompongan sampai sekarang tetap melayani
sebagian besar langganan nya dengan langgam "tes-tesan".
|