Polisi-Polisi Metropolis Menurut kadapol metro jaya widodo budidarmo, kejahatan harta
benda dan lalu lintas telah banyak menyita tugas polisi di
jakarta. tenaga polisi tidak sebanding dengan perkembangan
penduduk. |
YANG dihantam jangan polisi tapi oknumnya", kata Jenderal Polisi
berbintang dua itu. Ini tampaknya bukan hanya harapan - tapi
sekaligus juga penegasan sikap dari instansi kepolisian di
Jakarta, yang akhir-akhir ini jadi pusat pemberitaan karena
beberapa peristiwa hitam yang terjadi oleh tangan
anggota-anggotanya. Kalaupun ini sikap, ia bukan barang baru
lagi. Sebab polisi, sebagairnana instansi lain, bekerja di atas
dasar yang ditentukan undang-undang resmi - yang antara lain
tidak membolehkannya main kasar terhadap seseorang yang
diperiksa.
Tenaga overwerk
Namun buat sementara, sikap yang "sehaiusnya" ini boleh dipegang
untuk kemudian meneliti tugas-tugas Polri Komdak Metropolitan
tersebut. Seperti yang kemudian dikatakan Inspektur Jenderal
Polisi Drs Widodo Budidarmo, sang Kadapol, bagi sebuah kota di
mana segala macarn kegiatan berpusat (domestik dan
internasional, plus pusat para VIPs, kedutaan-kedutaan dan
sebagainya), maka tugas polisi di sini "lebih banyak bersifat
operatif. Di ruang kerjanya, dengan dampingan Asisten V KBP
Wahyudi dan Kepala Seksi Binapta AKBP NY. Mandagie, Widodo
menjelaskari bahwa kejahatan yang menonjol adalah kejahatan
hartabenda. Kejahatan yang pegang rekor ini kemudian disusul
oleh kejahatan/pelanggaran di bidang lalu lintas, yang kata
Kadapol "menyita 30% dari seluruh kegiatan kepolisian di sini".
Kemudian runner up ini diikuti oleh kenakalan anak-anak
(juvenile deliquency) dan kejahatan narkotik: Dalam pada itu
polisi-polisi metropolis harus siap sedia dengan, pengamanan
terhadap para VIPs, tamu-tamu asing serta
perwakilan-perwakilannya.
Kerepotan lain: perkembangan penduduk yang menderas - sehingga
akibatnya secara kwantitatif Komdak Metropolitan mengalami
hambatan. Sekarang ini rasio penduduk dengan polisi di Jakarta
adalah 1 : 600. Sedang "di Tokyo I : 350", lanjut Widodo.
Tenaga-tenaga yang ada kini, menurutnya, adalah "tenaga-tenaga
yang karena ke rapnya dipakai sudah jadi overwork". Ini tidah
hanya pada lapisan bawahan atau unsur pelaksana, akan tetapi
pada setiap lapisan - terutama tenaga reserse dan polisi lalu
lintas. "Tenaga-tenaga yang dilepas karena pensiun - atau karena
alasan lain tidak sebanding dengan tenaga yang masuk", demikian
Widodo. Sementara itu fasilitas latihan dan pendidikan. Agak
parah - tentu saja oleh karena soal biaya. Untunglah dalam hal
peralatan Komdak Metro bariyak mendapat bantuan dari instansi
lain, antaranya dari pemerintah DKI.
Ndompleng Pada Mabak
Itulah sebabnya, "dengan terus terang saya katakan bahwa
laboratorium kriminil saat ini masih belum ada di Komdak". Dan
itu sambung Widodo, "kami hanya ndompleng pada Mabak". Padahal
seperti diketahui, peranan laboratorium dalam pengusutan perkara
menjadi terang pentingnya, bahkan inilah antata lain esensi
ucapan Kapolri Hassan sewaktu menutup Kursus Reguler Seskopol di
Lembang akhir, bulan lalu. Juga kalau diingat peringatan Kepala
Pusat Laboratorium Mabak: bahwa dengan adanya penyelidikan
ilmiiah di laboratorium akan dapat dikurangi kekerasan-kekerasan
yang mungkin terjadi dalam sesuatu pemeriksaan. (lihat box:
Menyudutkan Secara Ilmiah. Syukurlah, seperti yang kemudian
ditanggapi Kadapol Widodo, usaha membangun sebuah laboratorium
kriminil di Komdak Metro Jaya kini sedang direncanakan.
Tentu saja, sebagai yang juga dikemukakan Kapolri Hassan pada
kesempatan yang sudah disebut, kekurangan, peralatah bukan
alasan untuk berpangku tangan. Kadapol Widodo menyadari hal itu.
Ibarat teori ekonomi, maka dengan apa yang ada "diusahakan
mendapatkan manfaat yang seproduktif-produktifnya". Untuk itu
kegiatan Komdak tampak dari usahanya membekali
anggota-anggotanya dengan pengetahuan spesialisasi. Antaranya
usaha yang tertampung dalam Team Khusus Anti Banditisme alias
Tekab yang kesohor itu, yang dibentuk untuk menanggulangi
memuncaknya operasi bandit-bandit ibukota. Mereka diambil dari
tenaga-tenaga polisi yang ada dengan tanibahan latihan-latihan
khusus. Tekab adalah satu unit saja di bawah Reserse Kriminil.
"Cuma orang sering keliru menyebutkan kegiatan polisi sebagai
kegiatan Tekad", komentar Widodo pula. Begitu juga untuk
spesialisasi di bidang lain diberi tambahan pengetahuan.
Misalnya hukum pidana, hukum acara pidana, kriminologi,
psikologi ilmu kriminalistik, balistik, kedokteran kehakiman,
toksikologi (ilmu racun), sidik jari dan sebagainya.
Tugas polisi - yang lebih banyak bersifat membina masyarakat -
untuk karvasan yang dikepalai Widodo ini menghasilkan
aparat-aparat binmas (pembinaan masyarakat), pada setiap
kelurahan. Atas dasar "prinsip tidak mempergunakan force, dan
lebih mengerahkan pada usaha yang mengembangkan ketaatan
masyarakat pada hukum dan undang-undang", demikian Kadapol,
"alat-alat binmas selalu siap dengan early detection dan early
warning". Maksudnya petugas-petugas polisi itu pagi-pagi akan
memberikan upaya pencegahan dan peringatan - sebelum sesuatu
peristiwa terjadi. Khusus di tempat-tempat kritis, menurut
Kadapol, tenaga-tenaga patroli memegang peranan. Sebab "di mama
ada polisi, orang sudah enggan berbuat yang jahat", ujamya pula.
Masakan kami bodoh
Problim polisi ibukota dengan penduduk hampir 5 juta adalah juga
problim tempat tahanan. Sebuah keributan pernah terjadi di
tempat tahanan Komdak yang punya kapasitas 250, tapi dirnuati
560 mang itu (TEMPO 10 Pebruari). Waktu itu menurut Kadapol:
pemberontakan terjadi karena digcrakkan unsur-unsur PKI. Dan
kepada TEMPO minggu lalu ia menyatakan alasan "pemberontakan"
itu antara lain adalah daya-tampung yang sangat minimal itu.
Tahanan yang meluap dan bercampur antara laki dart wanita
meskipun bukan dalam satu kamar seperti kata Kadapol
"mengontrolnya sulit juga". Tidak disebut sebutnya soal PKI.
Akan tetapi bicara soal PKI, dalam rangkuman cerita ini tak
dapat dilupakan peristiwa atas diri Ronald. Kala itu keras
pemberitaan bahwa anak Indo yang berusia 14 tahun itu konon
mengalami siksaan, karena diduga dialah yang berteriak "Hidup
PKI!" sewaktu kericulian - dan karena itu dialah penggeraknya.
Semua ini ternyata tidak benar. Menurut Ny. Mandagie, atas
perkenan Kadapol, sebenarnya Ronald hanya dituduh para tahanan
dewasa - yang diperiksa polisi sebagai pelaku peristiwa
tersebut. "Masakan kami bodoh menuduh anak sekecil itu sebagai
terlibat PKI", sambung AKBP wanita yang hari itu berpakaian rok
terusan berwarna merah dan kenibang-kembang putih. Dikatakan
bahwa Ronald oleh para tahanan dewasa dituduh biang
pemberontakan karena dia yang mula-mula membuka pintu.
Sebetulnya Ronald melakukan itu karena mendapat aba-aba dari
tahanan biasa, demikian Ny. Mandagie - sementara Kadapol
mendengarkan.
Bagaimana sekarang dengan masalah tempat tahanan? Menurut
Kadapol, masih belum ada perbaikan. "Mudah-mudahan nanti, kalau
uang makan tahanan dinaikkan jadi Rp 80, katanya - yang
cepat-cepat disambung Nyonya Mandagie: "tapi apalah arti uang
tersebut untuk harga-harga yang semakin mahal".
Dalam pada itu bukanlah karena sempitnya tempat tahanan, kalau
Tommy dan Teddy - yang ditahan untuk pemeriksaan kernatian
saudara mereka Tony dari Jalan Perniagaan 50 - saat ini ada
dalam tahanan CPM Guntur. "Ini", kata Widodo, "untuk memudahkan
pemeriksaan berhubung adanya anggota ABRI yang diduga turut
terlibat".
|