Menuju Tenggelam Banjarmasin tergenang air, sebabnya letak kota di bawah
permukaan laut, pendangkalan sungai barito, penggundulan
hutan. untuk mencegah perlu pengerukan sungai barito dengan
perkiraan dana rp 200 juta. |
250.000 penduduk Bandjarmasin benar-benar diantjam blokkade air
jang melimpahi seluruh pelosok kota. Hampir-hampir tidak ada
satu tempatpu jang tidak terbasuh oleh genangan jang bernama
bandjir ini Penduduk kota itu mentjatat, bahwa seperti
tahun-tahun jang lalu tinggi air semakin menandjak Kalau tadinja
genangan air paling ting tjuma sebatas pelataran dapur sadja
maka bulan ini pelataran tersebut teren dam seluruhnja. Sungguh
benar adanja kalau Walikota Riduan Iman dalam suatu kearunja
engan Wartawan Ibukota beberapa bulan jang lalu mengatakan
perang terhadap air. Sambil meminta perhatian-kepada Pemerintah
Pusat, sang Wali itu mengungkapkan sekumpulan data-data jang
menjebabkan Bandjarmasin berangsur-angsur tenggelam.
Pertama tentu sadja karena letak kota tersebut dibawah permukaan
laut. Dengan mendangkalnja ambang sungai Barito, itu sungai
terbesar dipulau Kalimantan, maka njarislah air semakin tinggi
sehingga achirnja terjadilah bandjir dalam ukuran ketjil. Dikota
itu hampir-hampir tidak ada sebuah djalan pun jang luput dari
serangan air, malah tjurah hudjan jang datangnja setjara
sporadis ikut meramaikan pesta air ini.
Penggundulan Nampaknja usaha untuk mengaserangan air jang
melimpah ini belum ada. Selokan-selokan parit-parit,
tanggul-tanggul dan riol-riol jang kebanjakan sudah botjor atau
pampat itu malahan menjebabkan air muntjrat dari bawah trotoir
atau djalanan sehingga timbullah danau-danau buatan jang sangat
membahajakan lalu lintas.
Djikalau setahun jang lalu orang berpendapat bahwa bandjir jang
menggenangi sebagian besar daerah-daerah di Kabupaten Tapin,
Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara disebabkan oleh
mendangkalnja ambang sungai besar Barito, maka kini alasan
bandjir itu bertambah satu lagi. Dikatakan hutan perkajuan jang
terletak ditengah pedalaman Kalimantan Tengah sengadja di tebang
setjara liar oleh rakjat pribumi ataupun oleh buruh-buruh
kontraktor asing jang mendapat idjin konsesi penebangan jang
berdjumlah ribuan hektar itu. Akibatnja terdjadilah erosi dan
penggundulan hutan. Malangnja, petani-petani didaerah
pedalamanlah jang mula pertama sangat menderita oleh bentjana
dahsjat ini.
Berkatalah Gubernur Subardjo dalam konsultasi Komisi "D" DPRD
Propinsi Kalimantan Selatan 3 Djanuari jang lalu bahwa realisasi
pengerukan ambang sungai Barito ini tidak terlepas dari Projek
Sungai Barito sebagai Projek Pusat dan karena itu untuk tahun
1971/1972 pengerukannja tidak dapat dilaksanakan karena tidak
tertjantum dalam APBN. Pendapat serupa pernah pula dilontar kan
oleh Rusli Desa, wakil rakjat Kalimantan Selatan dalam DPR Pusat
dari fraksi Karya Pembangunan jang djuga mendjabat Dewan Redaksi
farian MANUNTUNG d/h ANGKA TANBERSENDJATA edisi Kalimantan
Selatan jang mengchawatirkan akan tenggelamnya kota Banjarmasin
2, 3 tahun lagi. Ia lebih senang bitjara dengan angka. Katanja,
untuk pengerukan ambang Barito jang penuh lumpur itu diperlukan
beaja tidak kurang dari Rp 200 djuta. Ambang Barito ini demikian
dangkalnja sehingga kalau air surut kedalamnja tidak sampai 1
meter, dan kalau pasang bisa mentjapai 3,5 meter. Lumpur jang
harus di singkirkan sebanjak 2.250.000 m3 dengan biaja 1$ per m3
kata Humas Adpel Bandjarmasin Alisjahbana. (TEMPO, 9 Pebruari).
Jang terang, problim air pasang ini tjukup memusingkan, sehingga
Walikota Riduan Iman untuk kesekian kalinja pada ramah tamah
dengan Pengurus PWI Bandjarmasin jang baru sekaligus peresmian
menempati rumah kediamannja di Djalan Taman Sari tanggal 14 Mei
jang lalu - mengulangi kembali tekadnja untuk keharusan
pengerukan ambang Barito ini. Dengan menghubungkannja pada soal
planologi kota Riduan berkata, Bandjarmasin sebagai kota dagang
harus punja pelabuhan Sebagai kota pelabuhan ia wadjib
dikembangkan. Oleh sebab itu ambang Sungai Barito jang dangkal
itu harus dikeruk untuk kepentingan kota pelabuhan itu.
Sajangnja Riduan tidak bitjara sampai dimana usahanja untuk
merealisir pengerukan ini, karena kata Rusli Desa dalam RAPBN
1972/1973 tidak ada sama sekali disebut-sebut tentang pengerukan
ambang Sungai Barito.
|