|
Kematian Fauzi Ditelisik Dua Tim Forensik
Selasa, 24 Juni 2008 | 04:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia memutuskan pemeriksaan penyebab kematian mahasiswa Universitas Nasional, Maftuh Fauzi, dilakukan oleh dua tim forensik. Tim pertama dari Universitas Diponegoro dan Universitas Soedirman di Kebumen serta tim dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Penelitian ganda ini, menurut Komnas HAM, untuk memastikan kesimpangsiuran informasi. Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menuturkan, Fauzi meninggal karena terinfeksi virus HIV. Keluarga almarhum membantah dan rekam medik dari Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI) menunjukkan Fauzi luka di bagian belakang kepalanya selama dua pekan.
“Hasil dari kedua tim itu untuk pembanding data RSPP," kata anggota tim investigasi Komnas HAM Nur Kholis di kantornya, Jakarta, kemarin. Beberapa sampel jaringan yang diperiksa adalah jaringan otak, paru, hati, ginjal, dan darah. Komnas memberikan tenggat sepekan kepada kedua tim.
Fauzi, 27 tahun, meninggal di RSPP Jumat pekan lalu setelah dirawat selama dua hari. Jasadnya diotopsi di Kebumen sebelum dimakamkan pada Sabtu pagi lalu. Mahasiswa Akademi Bahasa Asing Jurusan Sasra Inggris Angkatan 2003 ini sempat berobat di RS UKI dan Rumah Sakit Umum Pasar Rebo, Jakarta Timur, mulai 11 Juni lalu.
Ia bersama 30 mahasiswa Unas lainnya ditangkap polisi di kampus Pejaten, Jakarta Selatan, dalam penyerbuan pada Sabtu pagi, 24 Mei silam. Mereka ditangkap karena unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak. Mayoritas yang tertangkap luka di kepala. Mereka dibebaskan Polres Jakarta Selatan pada 2 Juli lalu.
Menurut Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) insidenitu terjadi karena sistem komando tak efektif, prosedur pengamanan tak maksimal, dan penanganan terhadap korban tak memadai. Kemarin, KontraS mendesak Komisi Kepolisian Nasional membentuk tim pengusut independen.
Kematian Fauzi membuat Komnas HAM memperpanjang penyelidikan, padahal penyelidikan insiden 24 Mei 2008 sudah tuntas. Menurut koordinator tim Investigasi, Yosep Adi Prasetyo, timnya sudah meminta penjelasan RSPP soal temuan virus HIV. "Kami beri tenggat tiga hari," ujarnya.
Humas RSPP Titi Wahyuni mengatakan tanggapan akan muncul dari direktur setelah Komnas HAM meminta keterangan. “Belum ada surat dari Komnas,” katanya. Mahasiswa Unas pun mendesak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengusut kasus ini. IDI merespons dengan berencana membentuk tim.
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jakarta Inspektur Jenderal Adang Firman menampik Fauzi mati akibat kekerasan polisi. "Penyebab kematian tanya dokter,” ujarnya kemarin. Menurut dia, Polres Jakarta Selatan sudah menawarkan perawatan gratis kepada para mahasiswa.
Namun, menurut mahasiswa Unas Shahrul Kadar, mahasiswa dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati karena desakan orangtua. Jahitan di kepala Fauzi tak sempurna sehingga ada bagian luka yang masih terbuka. Kata rekannya, Khadafi, mahasiswa dijahit kepalanya tanpa dibius, termasuk Fauzi. Ketika minta dibius, ia menuturkan, dokter membentuk, “Waktu demo tadi kamu galak, sekarang teriak-teriak kesakitan.”
Riky Ferdianto | Muhammmad Nur Rochmi | CORNILA DESYANA | Fery Firmansyah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|