|
Tabloid Esek-esek Paling Laku di Pasar
Minggu, 22 Januari 2006 | 14:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sosialisasi Undang-undang Anti Pornografi dan Porno Aksi, berbalik 180 derajat di bursa media. Tabloid yang memuat gambar-gambar porno atau yang biasa disebut esek-esek ternyata paling laku dijual. Menurut sejumlah agen koran di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, mereka mampu menjual ratusan eksemplar media jenis ini setiap terbitnya.
Menurut Ali Mustaqim, pemilik Qim Agency di Terminal Pulogadung, jumlah tabloid porno menacapai 20 jenis. "Saya hanya menjual sekitar tujuh tabloid yang paling laku,"katanya.
Arifin Siregar, pemilik Arifin Agency, menyatakan penjualan taloid porno selalu laris dibanding dengan tabloid lain. Pembelinya rata-rata kernet dan sopir. "Karyawan kantoran juga ada yang membeli. Tapi jumlahnya sedikit, rata-rata 15 orang setiap kali terbit,"ujarnya.
Dibandingkan dengan tabloid gosip atau majalah yang mengemas berita dan gambar porno, penjualan tabloid porno menduduki peringkat atas. "Tabloid gosip dan majalah porno tingkat tak lakunya 10-30 persen, sedangkan tabloid porno hampir laku semua,"kata Arifin.
Pasokan dari penerbit tabloid porno berkisar 900 sampai 2.000 eksempar sekali terbit. Sedangkan tabloid gosip pasokannya 300-500 eksemplar. Menurut Arifin, peminat tabloid porno terus meningkat. "Penambahannya setiap terbit sekitar 10 persen. Agen jarang mengembalikan tabloid ini ke penerbit,"ujarnya.
Berbalik dengan tabloid, majalah yang memuat gambar perempuan dengan pakaian minim atau bikini, menurut Ali, hanya laku pada nomor-nomor awal di awal terbit. Pengalamannya menjadi agen media cetak, di pasaran majalah porno sulit mengalahkan tabloid porno. "Isi tabloid porno lebih berani daripada isi majalah, harga tabloid jauh lebih murah," katanya. Harga majalah yang berbau porno, paling murah Rp 20 ribu per eksemplar.
"Sedangkan harga tabloid porno Rp 3.000-5.000 per eksemplar,"ujarnya.
Kehadiran Majalah Playboy edisi Indonesia diduga juga hanya laku pada awal-awal penerbitan. Selanjutnya diragukan tingkat lakunya. Karena pasar media porno justru berada di kalangan bawah.
Aqida Swanurti
| Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS.
Ketik TIJAWAB<spasi>brk72726<spasi>komentar dan kirim
ke 9333 |
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|