|
Jakarta
Tujuh Orang Terjangkit Leptospirosis
Rabu, 26 Januari 2005 | 21:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Masyarakat Jakarta harus mewaspadai berbiaknya parasit leptospira (leptospyra batavie) yang menyebabkan penyakit leptospirosis, karena saat ini sudah ada tujuh orang yang terjangkit penyakit tersebut
“Saat ini ada tujuh pasien yang menderita penyakit leptospirosis sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan,” kata Evy Zelvino kepala Hubungan Masyarakat Dinas Kesehatan Jakarta kepada Tempo lewat telepon, Rabu (26/1).
Evy belum bisa memastikan apakah jumlah penderita penyakit tersebut akan bertambah atau tidak, “Ini tergantung pada kondisi banjir dan sanitasi lingkungan serta daya tahan tubuh masing-masing orang.”
Tahun lalu, lanjutnya, ada sekitar 44 penderita leptospirosis, empat diantaranya meninggal. “Sedangkan saat banjir besar 2002, lebih dari 100 orang terjangkit.”
"Kewaspadaan harus lebih di musim hujan ini. Apalagi penyakit yang penyebarannya melalui genangan air seperti leptospirosis dan demam berdarah," kata Widayat Joko Santoso, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo kepada Tempo, Rabu (26/1).
Menurut dia, leptospirosis atau dikenal sebagai penyakit kencing tikus (karena berasal dari kotoran hewan, yakni air kencing tikus) adalah penyakit yang paling mungkin terjadi saat ini.
Parasit leptospira (sejenis cacing) ini, papar Widayat, berbentuk seperti spiral dan berukuran sangat kecil tetapi lebih besar bakteri dan virus. Penyakit ini bisa menyerang hewan dan manusia, serta dapat hidup di air tawar dalam jangka lama. "Di RSCM sendiri sudah ada kasus dan saat ini sedang dirawat," kata dokter spesialis ini.
Pasien yang dirawat di RSCM karena leptospirosis ini bahkan sudah mengalami gagal ginjal sehingga harus menjalani pencucian darah. "Kami belum tahu apakah karena dia kronis ginjal ataukah akut karena leptospirosis," kata Widayat.
Menurut dia, pasien yang dikatakan akut menderita leptospirosis akan mengalami komplikasi penyakit dalam, diantaranya gagal ginjal dan gagal hati (lever).
"Dia (leptospira) masuk ke dalam tubuh dan berkembang biak di ginjal (saluran kencing) kemudian balik ke dalam darah menyerang lewat pembuluh darah," kata Widayat lagi.
"Gejala klinis yang tampak dari penderita leptospirosis seperti layaknya demam yang lain kemudian mata kekuningan dengan semburat pembuluh darah matanya kemerahan," kata dokter ahli ini.
"Uji darah dengan serum anti leptospira di laboratorium akan memungkinkan terhindarnya kesalahan diagnosa," kata Widayat lagi.
Pada stadium awal manusia yang terserang mengalami demam tinggi, badan mengigil seolah kedinginan, lesu, dan perut neg, muntah, radang mata seperti iritasi, dan rasa nyeri pada otot betis. "Jika betisnya disentuh pasti kesakitan," kata dia.
Gejala itu, kata dia, akan tampak antara empat sampai sepuluh hari setelah tertular. Kemudian pada stadium kedua parasit ini membentuk antibodi dalam tubuh penderita, dengan indikasi klinis yang lebih berat dari pada stadium awal.
Stadium ini terjadi antara minggu kedua dan keempat. Jika makin parah, pada ginjal menyebabkan kegagalan berakibat kematian. Jantung yang terkena akan berdebar tidak teratur, membengkak dan gagal jantung. Pembuluh darah mengalami kebocoran dan akibatnya di saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan saluran genitilia terjadi pendarahan.
Reservoir atau pembawa parasit leptospira adalah tikus. "Mereka hidup di saluran kencing tikus dan terbuang digenangan," lanjut Widayat.
Parasit ini tidak berbahaya bagi vektor (hewan pembawa) tetapi bisa jadi mematikan untuk manusia. Agus Supriyanto
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|