TEMPO Interaktif, Jakarta:Polda Metro Jaya hingga hari belum mengetahui penyebab meledaknya bom di
di tempat kos milik Amiruddin Siregar, di Jl. Cikoko Barat III nomor 23, Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan. “Kami belum tahu apakah ledakan itu disengaja atau tidak. Untuk sementara saya kira itu kecelakaan. Karena kalau dia meledakkan di rumah itu untuk apa? Alasannya apa?” kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bahrul Alam, di Jakarta, Selasa (19/6) malam.
Polisi baru mengetahui bahan dasar bom yang meledkkan rumah berlantai dua itu. “Ledakan ditimbulkan dari bom high explosive yang terbuat dari campuran bahan kimia nitrat dan florat,” ungkap Anton.
Di tempat kejadian, polisi telah mengamankan barang bukti berupa 7 bom masih aktif, 6 pipa besi mobil, 1 pipa plastik, dan 20 serpihan sisa ledakan bom. Pipa yang diduga dijadikan bahan bom beratnya sekitar 600 gram, berbentuk silinder dengan diameter sekitar 5 cm. dan panjang 10 cm. Sumbu yang digunakan berwarna merah dengan diameter lobang sekitar 1 cm. “Bom ditemukan di kamar kosong. Kalau nggak salah kamar nomor 5 dan 6. Sementara 7 bom yang ditemukan masih aktif, saat ini sudah diamankan Gegana untuk dijinakkan,” jelasnya.
Untuk kepentingan penyelidikan, Polda telah meminta keterangan dari 40 orang saksi. Tujuh belas diantaranya memberikan keterangan yang penting bagi penyelidikan seputar meledaknya bom Selasa dinihari kemarin (19/6). Polisi juga mengamankan empat mobil yakni sedan Timor, Suzuki Forsa, Toyota Kijang, dan Panther yang rusak akibat ledakan bom.
Hingga hari ini, polisi masih menetapkan Edi Susilo yang tinggal di nomor 3 sebagai tersangka. Edi, mahasiswa sebuah perguruan tinggi, yang masih buron itu baru sebulan tinggal di rumah Siregar. Polisi sempat mengecek keberadaan Edi di perguruan tinggi tersebut, namun nama Edi tidak terdaftar di perguruan tinggi tersebut.
Menanggapi kemungkinan bom di Jalan Cikoko III berkaitan dengan peristiwa bom di asrama Mahasiswa Aceh, Manggarai, Kadispen mengatakan pihaknya belum menelusuri ke arah itu. “Tidak menutup kemungkinan ada hubungannya. Tapi penyelidikan kami belum sampai ke sana,” ujarnya.
Dari kamar kos Edi Susilo, petugas memang menemukan sejumlah buku-buku dan dokumen. Namun menurut Anton, pihaknya belum sempat mempelajari dokumen-dokumen tersebut. “Untuk mempelajarinya memerlukan waktu. Jadi hari ini yang kita periksa saksi dulu karena saksi cukup banyak,” jelas Anton.
Menurut Kadispen pada malam sebelum kejadian, ada saksi yang sempat melihat Edi datang ke tempat kos sekitar pukul 21.00. “Saksi ini melihat Edi masuk ke (kamar) kosnya, tapi waktu keluarnya ia tidak tahu,” tandas Kadispen. (Suseno)