Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Meng-Google Indonesia
Senin, 18 Agustus 2008 | 09:35 WIB

TEMPO Interaktif: Kamis lalu menjadi hari yang sangat sibuk bagi Derek Callow, Manajer Pemasaran Goggle untuk wilayah Asia Tenggara. Pagi harinya ia menjadi salah satu pembicara seminar di Jakarta tentang bagaimana usaha kecil Indonesia bisa memanfaatkan Internet. Siang dan sore harinya ia sibuk menerima para wartawan lokal yang bergantian datang menemuinya.

Hari sibuk ini menunjukkan satu hal: Google mulai datang ke Indonesia. Bukan sekadar mesin pencari situs Internet atau aplikasi lain untuk dipakai oleh orang Indonesia, tapi perusahaan online terbesar di dunia itu juga mulai serius mencari pengiklan dari negeri ini.

Seminar di Indonesia dengan Callow sebagai pembicara dan dihadiri oleh orang-orang--terutama pengusaha kecil--yang berpotensi beriklan di Internet, adalah langkah yang patut dicatat. "Ini acara formal pertama kali untuk mendekati pasar Indonesia," kata Callow.

Sebelumnya, hubungan Callow dengan pengiklan di Indonesia terbatas pada sejumlah biro iklan. Biro iklan itu akan menjadikan Google sebagai tempat beriklan para kliennya.

Tapi pengguna biro iklan di Indonesia, tentu saja, berarti para pengiklan berkantong tebal. Padahal Google bisa menjadi tempat beriklan bagi para pengusaha sangat kecil yang biasanya anggaran untuk beriklan juga sangat minim.

Callow mengatakan beriklan di Google bisa dimulai dengan paket yang harganya hanya Rp 90 per klik. Artinya, pemasang iklan hanya perlu membayari Google Rp 90 jika ada yang mengklik iklan di mesin pencari Google. Jika tidak ada yang mengklik, pemasang tidak dikenai biaya apa pun meskipun iklan itu terus-menerus nongol. "Dengan hanya membayar yang diklik, Anda menjadi sangat efisien," tutur Callow.

Google memang menerapkan model bayar per klik untuk iklan yang dipasang pada mereka. Ini salah trik andalan Google. Model ini memungkinkan pemasang iklan mengendalikan penuh iklan yang dipasang. Pemasang, misalnya, bisa menentukan anggaran iklan setiap harinya. Jika anggarannya hanya 10 kali klik, maka setelah ada 10 orang yang mengklik, iklan itu akan berhenti tayang.

Sistem beriklan di Internet lainnya adalah dengan biaya tetap selama masa waktu tertentu. "Bagi Google mungkin ini lebih menguntungkan," kata Callow. Tapi Google memutuskan tidak menggunakan cara ini, melainkan memilih sistem bayar per klik agar pemasang lebih menyukai.

Andalan Google lain yang sangat dibanggakan adalah adalah relevansi iklan dengan isi mesin pencari. Jika Anda sedang mencari tahu harga ponsel, misalnya, maka iklan yang terpasang juga yang terkait dengan ponsel itu. "Kami menempatkan iklan berdampingan dengan yang dicari orang," Callow menambahkan.

Dengan sistem ini pula Google menentukan tarif iklan yang dipasang. Harga dasar Rp 90 itu bisa naik jika kata kunci yang dipilih untuk beriklan ternyata juga diminati pengiklan yang lain. Semakin banyak orang memilih kaca kunci yang sama, semakin mahal harga per klik.

Selain mesin pencari, Google juga memasang iklan ini pada produk layanan e-mail gratis Gmail. Jadi, iklan akan dicocokkan dengan pesan yang ditulis pada e-mail. Saat e-mail menulis tentang kamera, misalnya, iklan yang muncul juga akan terkait dengan kamera. "Tapi pemasukan dari pola ini sangat kecil. Hampir semuanya dari search," tutur Callow.

Yang tidak dijual Google adalah iklan pop up karena dianggap bisa mengganggu konsentrasi pengguna mesin pencari andalan mereka. "Kami tidak menyediakan banner, kami bisa memberi relevansi pada iklannya," ujar Callow.

Produk ini dijual ke pasar Internet di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Indonesia memang sangat potensial untuk iklan Internet. Pengguna dunia maya ini sudah mencapai sekitar 20 juta di Indonesia dengan pertumbuhan 16 persen setahun. Pemasang iklan di Google sendiri masih sedikit, tapi Google tidak bersedia menyebut angkanya. "Yang kami bisa sebut, sudah ada sejumlah perusahaan yang menggunakan kami," kata Callow.

Itu sebabnya Callow sangat sibuk ketika mengunjungi Jakarta dari kantornya di Singapura.


Nurkhoiri



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Antara Situs SBY dan Bush
Facebook Dominasi Jejaring Sosial
Pendiri Wikipedia Menantang Google
Yahoo! Meluncurkan Pengabar Lokasi
Google Luncurkan Layanan Musik di Cina
Menulis Sambil Meraup Dolar
Pengakses Internet di Cina Tertinggi di Dunia
Menanti Musik Berlangganan lewat Internet
Browser untuk Si Buta
Browser untuk Kehidupan Sosial
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk131274 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data