|
Tes Kebohongan Ryan
Kamis, 07 Agustus 2008 | 10:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Polisi di Surabaya, Jawa Timur, menguji Ryan atau Verry Idham Henyansah dengan alat deteksi kebohongan. Polisi ingin tahu lebih jauh di antaranya apakah Ryan benar-benar seorang diri melakukan serangkaian pembunuhan terhadap orang-orang yang dikenalnya di Jombang dan Jakarta.
Detektor kebohongan sudah digunakan aparat polisi di dunia untuk mencari pengakuan seorang tersangka kriminal sejak 1924. Dalam perkembangannya yang paling mutakhir, teknik ini semakin menakutkan bagi para kriminal. Mereka tidak bisa lagi meloloskan diri dari sangkaan atau bukti-bukti kejahatan yang bisa menjeratnya dengan hanya menghapus sidik jari.
Mirip fungsi kerja sebuah electroencephalogram, sensor-sensor bisa digunakan untuk menemukan pikiran atau memori yang tersembunyi dengan cara mengoreknya langsung ke dalam organ otak. Akurasinya, menurut demo yang dilakukan oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Angkatan Laut Amerika Serikat, 98-100 persen.
Tapi, yang dimiliki polisi Indonesia masih yang konvensional. Yang ini namanya poligraf. Kunci teknik ini adalah membaca atau memonitor respons tubuh ketika seseorang harus menjawab ya atau tidak atas sejumlah pertanyaan yang diajukan. Ryan sejatinya mendapat 10 pertanyaan semacam itu.
====(KET GAMBAR)
Poligraf merekam ketiga variabel berikut ini secara digital atau di atas kertas:
Bernapas
Denyut jantung, tekanan darah
Keringat (konduktivitas listrik kulit)
Perubahan di sini mengindikasikan stres. Bisa jadi, orang yang ditanyai sedang berusaha berbohong.
WURAGIL/KRT
INDEKS BERITA LAINNYA :
|