Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Lautan Es Menyusut Tajam pada 2050
Selasa, 11 September 2007 | 20:40 WIB

TEMPO Interaktif, ANCHORAGE:
Analisis model yang dibandingkan dengan observasi selama 20 tahun itu mendukung prediksi komputer Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa pada 2050 lautan es musim panas di lepas pantai utara Alaska ada kemungkinan menyusut setengah dari luas yang ditutupinya pada 1980-an.

Hilangnya lautan es ini dikhawatirkan akan mengancam beruang kutub yang amat menggantungkan kehidupannya pada lautan es. Perubahan habitat bisa mendorong perubahan status binatang itu menjadi terancam punah. Ancaman serupa juga bakal dialami para nelayan.

Pada 1980-an, lautan es menyusut 30 sampai 50 mil dari pantai utara tiap musim panas , kata James Overland, oceanographer untuk National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Seattle, Amerika Serikat. "Kini susutnya mencapai 300 sampai 500 mil utara Alaska," katanya.

Para ilmuwan NOAA telah memantau 20 skenario komputer tentang efek pemanasan pada lautan es, yang digunakan Intergovernmental Panel on Climate Change dalam laporan penilaiannya tahun ini. Mereka membandingkan model itu dengan observasi dari 1979 sampai 1999 dan mencapai kesimpulan: es musim panas di Laut Beaufort tampaknya akan berkurang sampai 40 persen bila dibandingkan dengan kondisi 1980-an.

Ramalan serupa juga berlaku bagi kawasan Siberian Timur-Laut Chukchi, sebelah barat laut Alaska dan Rusia. Sebaliknya, Teluk Baffin dan Labrador di Kanada hanya memperlihatkan sedikit perubahan.

Situasi ini amat mengkhawatirkan bagi beruang kutub, kata Kassie Siegel dari Center for Biological Diversity. Dia telah menulis petisi meminta perlindungan pemerintah federal bagi binatang itu. "Mereka akan mengalami penurunan, kelaparan, melakukan praktek kanibalisme, dan akhirnya punah," katanya.

Ketika es menyusut, beruang kutub terjebak di daratan selama musim panas, tanpa tersedianya sumber pangan, kata Siegel. Beberapa akan mencoba, tapi gagal mencapai lautan es. Sebaliknya, beruang yang tinggal di lautan es akan kesulitan mencari makan karena sedikitnya ikan di perairan itu. Beruang betina yang hendak melahirkan pada musim gugur juga harus berenang jauh ke daratan. "Itu sangat menakutkan dari sudut pandang beruang," katanya.

AP


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk107386 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data