|
Racun Pembunuh Mata-mata Rusia
Selasa, 05 Desember 2006 | 18:43 WIB
TEMPO Interaktif, LONDON: Racun tampaknya menjadi alat mematikan yang paling disukai pihak intelijen. Masih ingat kasus racun arsenik yang membunuh tokoh hak asasi manusia, Munir, di atas pesawat menuju Belanda pada 2004? Kasusnya belum terungkap sampai sekarang. Kini racun juga digunakan mengakhiri nyawa Alexander Litvinenko, mantan agen rahasia Rusia yang tinggal di Inggris.
Para pakar yakin kasus pembunuhan Litvinenko ini melibatkan pengetahuan ilmiah yang lumayan tinggi. Soalnya, racun yang ditemukan dalam dosis tinggi di tubuh Litvinenko adalah bahan radioaktif polonium-210 dosis tinggi yang sukar diperoleh.
Jejak radiasi ditemukan di lima lokasi di seputar London setelah kasus itu terjadi, termasuk sebuah restoran sushi dan hotel yang dikunjungi bekas agen rahasia yang tinggal di Inggris itu. Yang menjadi misteri adalah unsur radioaktif itu amat sulit diperoleh dan sulit dideteksi.
Memang polonium-210 bisa diperoleh secara alami di sekitar kita, bahkan dalam tubuh. Cuma, dalam jumlah teramat kecil dan tidak mematikan. Untuk memperoleh racun temuan Marie Curie--yang namanya diambil dari negaranya, Polandia--itu dalam dosis yang mematikan, diperlukan keahlian dan koneksi level tinggi.
Profesor Nick Priest, satu dari sedikit ilmuwan Inggris yang pernah menangani unsur beracun itu, menyatakan cukup satu miligram polonium-210 untuk membunuh bekas mata-mata itu. Masalahnya, untuk memproduksi polonium-210 sejumlah itu, dibutuhkan sebuah reaktor nuklir.
Sebenarnya ada tiga cara untuk membuat polonium-210. Langsung diekstrak dari batuan yang mengandung uranium radioaktif, dibuat dalam reaktor nuklir, atau dipisahkan secara kimiawi dari radium-226. Namun, polonium-210 yang dihasilkan dari metode ekstraksi uranium tidak cukup untuk membunuh Litvinenko. "Agar menghasilkan jumlah yang diperlukan, Anda butuh reaktor nuklir," katanya.
Para ilmuwan memperkirakan jumlah fasilitas reaktor yang sanggup menghasilkan polonium-210 di seluruh dunia tidak banyak. Hanya ada beberapa laboratorium yang bisa membuat racun itu, termasuk sejumlah fasilitas nuklir di berbagai negara bekas Uni Soviet dan negara lain, seperti Australia dan Jerman. "Hanya ada satu reaktor di Inggris yang sanggup memproduksinya, tapi saya yakin mereka tidak membuatnya," kata Priest.
Alternatif lain, polonium-210 itu dibeli dari penyalur komersial. Chris Lloyd, seorang konsultan perlindungan radiasi, mengatakan radioaktif ini biasanya dipakai dalam peralatan kendali listrik statis, tapi tidak dalam bentuk yang bisa dipakai sebagai racun.
Polonium, bersama unsur beryllium, pernah dipakai sebagai pemicu neutron dalam bom atom yang diproduksi Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia. Radioaktif ini juga pernah dipakai sebagai sumber panas wahana antariksa Soviet, Lunokhod Moon, pada 1970-an.
Dugaan keterlibatan pihak intelijen Rusia semakin kuat karena unsur ini sulit terdeteksi, bahkan sempat disangka racun thallium, yang lebih umum. "Jika dimasukkan dalam gelas atau cangkir kaleng, Anda tak akan bisa mendeteksinya dari luar," kata Frank Barnaby, konsultan nuklir di Oxford Research Group. "Hal ini yang membuat polonium-210 cukup ideal menjadi racun."
Walaupun sudah mengetahui penyebab matinya Litvinenko, pihak berwajib masih bertanya-tanya kapan dan bagaimana bekas intel Rusia itu diracun, karena penanganan radioaktif ini cukup rumit. Sekali wadah penyimpannya terbuka, partikel polonium-210 cenderung menguap dan mengkontaminasi lingkungan sekitarnya.
Priest, yang juga mengajar di Middlesex University, mengatakan, teorinya, unsur ini bisa dilarutkan dalam cairan. "Bisa dalam berbagai volume, dari satu liter sampai beberapa tetes saja," katanya. "Tapi juga bisa digabungkan dengan material lain, seperti kapur."
Semua fakta ini bisa saja membuka jalan bagi para penyelidik kasus Litvinenko untuk mencari jejak asal polonium-210, tapi butuh unsur lain untuk memastikannya. "Umumnya, berbagai jenis material radioaktif memiliki karakteristik berbeda selama pembuatannya," kata Ian Hutcheon, pakar forensik nuklir di Lawrence Livermore National Laboratory di Livermore, California. "Dari sampelnya, Anda bisa mengumpulkan informasi di mana mereka diproduksi dengan menganalisis jejak unsur pokoknya."
Hutcheon mengatakan tidak banyak tempat di dunia yang membuat polonium. Hanya ada dua atau tiga-tempat yang bisa menghasilkan racun itu.
Klaus Luetzenkirchen, direktur kimia nuklir di Institute for Transuranium Elements di Karlsruhe, Jerman, menyatakan kesulitan muncul jika hanya polonium-210 yang ditemukan dan tidak ada unsur lainnya pada tubuh korban. "Pembuktian akan sulit, bahkan hampir tidak mungkin melacaknya."
tjandra | BBC | nature
INDEKS BERITA LAINNYA :
|