Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Nasional  
  Ekonomi&Bisnis  
  Nusa  
  Jakarta  
  Indikator
  Opinet  
  Majalah  
  Koran  
 
   

Agus Condro: Uang 500 juta tak berkah
Sabtu, 23 Agustus 2008 | 19:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta- Pengakuan Agus Condro yang membuat pejabat teras Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) gerah ternyata tak membawa berkah di keluarganya pula.

"Barang-barang yang saya beli dari uang itu sering rusak," ujarnya ketika dihubungi Tempo, Sabtu (23/8),"Usaha saya juga gagal." Agus mengakui menerima uang Rp 500 juta terkait pemilihan Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur Senior BI 2004 oleh Komisi IX, dimana Agus sebagai salah satu anggotanya.

Ketika menerima uang itu, cerita Agus otak kampungnya langsung keluar. "Saya belikan mobil Mercy dan Hyundai." Kedua mobil tersebut merupakan keinginan terpendam. Agus merasa jengah pertama kali memegang uang Rp 500 juta. Sisa membeli mobil, agus diajak teman-teman dari Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) untuk budidaya cabai. "Eh tetep bangkrut, sampai pindah lahan pun juga tetep gagal."

Mobil Hyundai yang dibelinya tak lekang dari masalah. "Ya, AC-nya mati,mesinnya sering rusak," keluhnya. Sampai-sampai istrinya menyuruh untuk menjual. Namun Agus enggan karena ia merasa mobil ini nanti akan berguna.

Akumulasi itu-lah yang membuat ia berpikir ulang asal-usul uang yang tak jelas tersebut. "Sebenarnya sejak 2-3 tahun lalu saya mau ngomong soal uang ini." Niat itu tertunda,karena Agus merasa jika ia melaporkan bentuk gratifikasi ini ke KPK ia dianggap sok bersih dan mengadukan teman-temanya.

Akhirnya ketika dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi 4 dan 8 Juli lalu, Agus membeberkan ihwal uang tersebut. "Saya kan disumpah untuk bersaksi, jadi saya hanya katakan apa adanya."

Agus dipanggil bersaksi kasus Hamka Yamdu dan Anthony Zedra Abidin terkait aliran dana BI Rp 31.5 milyar.

Sekarang Agus merasa sedang membersihkan lumpur di kakinya. Menurut pengakuannya, perjalanan karirnya memang tak bersih. "Seperti jalan di pematang sawah dan terkena bercak lumpur, tapi belum sampai ke dengkul."

Dianing Sari


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

KPK Periksa Aset Pemerintah Jawa Barat
Kejaksaan Pelototi Tabungan Anggota Dewan
Dewan Gubernur BI Tidak Tahu Masalah Miranda
Golkar Tak Campuri Masalah Hukum Acang
Pencekalan Budhyana Tak Ganggu Program Wisata
Jaksa Urip Cabut Keterangan Soal Bisnis Permata
MA Perberat Hukuman Zulkarnain Yunus
Koruptor Tak Dapat Remisi, Tak Langgar HAM
Menkumham: Baju Khusus Koruptor Tak Penting
KPK Sita Dokumen Pembelian Alat Berat
> selengkapnya...

Referensi

Geger Baru Bank Sentral
Mengurai Benang Kusut Duit BI
Terjerat Komisi Kiriman Surat
Buka-Tutup Kasus Nursalim
Siapa Menyelamatkan Paskah
Terseret Proyek Pelabuhan
Pelesiran ala Terpidana
Siapa Menyusul Rokhmin
Enaknya Bermain Monopoli
Pengusutan KPK
Perjalanan Kasus Dana Prajurit
Ruwetnya Tanah Senayan

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk132033 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data