|
Sbori, Vodka, dan Hiddink
Kamis, 26 Juni 2008 | 12:44 WIB
TEMPO Interaktif, : Hotel Krallerhoff, Leogang, Austria, Rabu siang, 11 Juni. Di lounge, kapten tim Rusia, Sergei Semak, bercanda dengan istri dan kedua putri kecilnya. Di sudut lain, playmaker Andrei Arshavin asyik membaca buku fashion, tema favoritnya sebagai pemegang ijazah diploma desainer busana. Pemain lain bercanda-canda.
"Ini tak mungkin terjadi pada masa kepelatihan sebelum-sebelumnya," bisik seorang wartawan Rusia kepada rekannya. Inilah kebijakan Guus Hiddink, pelatih asal Belanda, pelatih asing pertama di tim Negeri Beruang Merah.
Hiddink tetap membebaskan para pemainnya bersantai, juga berkumpul dengan keluarga mereka. Tak ada suasana muram. Padahal, sehari sebelumnya, Rusia dihajar Spanyol 1-4.
"Mengapa harus melarang para pemain bertemu dengan keluarga mereka?" kata pelatih berusia 61 tahun itu setengah bertanya. "Ini malah penambah keuntungan bagi rencana-rencana saya."
Revolusi sudah dilakukan. Puluhan tahun lamanya para pemain Rusia lebih dekat dengan sbori daripada keluarga.
****
Sbori, kamp latihan bergaya militer. Bila sudah menyelesaikan kompetisi dalam satu musim, para pemain tak boleh berlibur. Klub mewajibkan mereka tetap berada di sbori. Lebih-lebih bila tenaganya diperlukan tim nasional, kamp latihannya lebih ketat.
Sbori adalah kultur peninggalan Uni Soviet. Rusia pecah dari Uni Soviet sejak 1991. Sbori toh tak ikut hilang. Para pemain harus meninggalkan keluarga mereka sekitar empat bulan. Biasanya pantai Laut Hitam di Rusia Selatan, seperti Sochi atau Adler, menjadi tempat kamp itu.
Saat berlangsungnya kompetisi, para pemain juga harus berdiam di sbori klub yang hampir semuanya terletak di luar kota. Mereka tak boleh berkumpul dengan keluarga selama sepekan. Bila harus menjalani partai tandang, dua pekan waktunya berpisah dengan anak-istri.
"Terkadang saya merasa mereka melatih kami untuk menjadi anggota pasukan khusus militer," kenang Vladimir Beschastnykh, mantan striker yang masih memegang rekor top scorer tim nasional Rusia sepanjang masa.
Beschastnykh berasal dari klub Spartak Moscow, satu-satunya klub besar yang tak punya kaitan dengan militer atau jaringan politik Uni Soviet. Sbori juga berlaku untuk para pemain klub "sipil" itu.
Bisa dibayangkan yang terjadi di klub lain. CSKA Moscow adalah klub bentukan Tentara Merah. Zenit Leningrad dimiliki jawatan pabrik baja nasional. Lokomotiv Moscow didirikan oleh Kementerian Transportasi, Moscow Torpedo oleh pabrik mobil nasional, dan Dinamo Moscow oleh Kementerian Dalam Negeri.
Latihan keras tak diimbangi dengan gaji memadai. Sergei Yuran, mantan gelandang nasional, beroleh banyak gelar bersama tim besar Spartak Moscow. Pada 1996, Yuran pindah ke Millwall. Gaji menjadi alasannya. Padahal Millwall adalah klub divisi bawah di Liga Inggris.
*****
Leogang, Rabu malam, 18 Juni. Hiddink mengisap cerutu di balkon Hotel Krallerhof. Secangkir cappuccino di meja. Sore hari tadi para pemainnya mengalahkan Swedia 2-0 dan memastikan lolos dari babak grup.
"Saya membuka telepon seluler," kata mantan pelatih Korea Selatan dan Australia ini. "Dan, ya, salah satunya dari Mr (Roman) Abramovich." Kata selamat dan pujian tertera di SMS itu.
Abramovich, 41 tahun, Gubernur Chukotka, Rusia, yang juga pemilik Chelsea. Miliarder ini, menurut majalah Forbes, adalah orang kaya nomor 16 sedunia. Abramovich turut menyaksikan perjuangan Rusia. Dia datang ke Stadion Tivoli-Neu, Innsbruck, Austria, dengan menggunakan helikopter.
Hiddink melatih Rusia sejak 2006 berkat bujukan Abramovich. Gaji Hiddink ditanggungnya, US$ 4 juta (sekitar Rp 37 miliar) per tahun.
*******
Vladimir Putin, 55 tahun, sekarang adalah Perdana Menteri Rusia setelah dua kali menjadi presiden, 2000-2008. Putin jagoan sambo--bela diri khas Rusia--dan pernah menjadi juara nasional judo. Mantan perwira tinggi dinas rahasia Soviet, KGB, ini tahu benar fungsi olahraga sebagai pembangkit karakter dan pembentuk nasionalisme bangsa.
Putin membujuk orang-orang semacam Abramovich untuk membangun sepak bola Rusia. Setelah menggelontorkan uang US$ 1,1 miliar (sekitar Rp 10 triliun) pada 2003, Abramovich rela mensponsori CSKA Moscow, US$ 58 juta (sekitar Rp 537 miliar). Berbekal banyak pemain asing, CSKA keluar sebagai juara Piala UEFA 2004/2005.
Dengan uang "minyaknya", Abramovich membangun 55 lapangan rumput buatan di seluruh Rusia. Rekannya, mendiang Yury Konoplev, membangun sekolah sepak bola dengan fasilitas lapangan modern. Pelatih-pelatih dia kursuskan. Setelah Konoplev meninggal, Abramovich meneruskan kegiatan itu.
Gairah memprofesionalkan olahraga itu menular. Orang terkaya Rusia, miliarder aluminium Oleg Derispaska, membangun lapangan stadion besar untuk Olimpiade 2014. GazProm, perusahaan minyak terbesar Rusia, membeli Zenith Leningrad, yang kini berubah nama menjadi Zenith Saint Petersburg.
Kini Liga Sepak Bola Rusia tercatat sebagai yang terkaya nomor lima di dunia. Selalu ada pemain asing di setiap klubnya, 16 klub. Keringat pemain kian dihargai. Arshavin, contohnya, mendapat gaji US$ 200 ribu (sekitar Rp 1,8 miliar) per bulan, setara dengan gaji pemain kelas menengah di Liga Inggris.
Pada 2006, Zenith mendatangkan mantan pelatih nasional Belanda, Dick Advocaat. Musim lalu Zenith keluar sebagai juara Piala UEFA.
*****
Basel, Swiss, dua hari lalu. Hiddink tengah menantikan pertemuan timnya dengan Spanyol pada semifinal yang dilangsungkan hari ini. Bila lolos ke final dan menjadi juara, mantan pelatih PSV ini mungkin sekali lagi menenggak setengah cangkir vodka.
Kesukaannya cappuccino dan jus jeruk. Hiddink tak suka minuman beralkohol. Vodka dia tenggak saat merayakan lolosnya Rusia ke Euro 2008, November tahun lalu.
Tradisi vodka Rusia masih bisa dia terima, tapi tradisi sbori tidak. "Sangat penting untuk memperbarui metode pelatihan pemain di klub-klub Rusia. Menurut pendapat saya, orang muda sekarang sudah berubah."
Di tangan Hiddink, keluarga lebih dekat dengan para pemain Rusia. IHT | SOCCERNET | ANDY MARHAENDRA
INDEKS BERITA LAINNYA :
|