|
YLKI Menilai Kenaikan Elpiji Tak Wajar
Minggu, 24 Agustus 2008 | 14:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai kenaikan harga elpiji sebesar 9,5 persen per kilogram untuk ukuran 12 kilogram, tidak wajar. Alasannya, sebagai komoditas tunggal seharusnya pemerintah yang menentukan harga elpiji.
"Harga bukan ditentukan oleh mekanisme pasar," kata pengurus YLKI Tulus Abadi kepada Tempo, hari ini. Menurutnya, kenaikan harga ini justru akan memberatkan masyarakat di saat kebutuhan semakin mahal.
Pemerintah, kata Tulus, telah merayu masyarakat untuk memakai elpiji dengan harga murah melalui program konversi minyak tanah ke elpiji. Namun, saat ini elpiji menjadi semakin mahal dan ketersediaan minyak tanah juga semakin langka.
"Masyarakat seperti tidak diperbolehkan memakai energi dengan murah," kata Tulus. Ia juga mengatakan, harga elpiji seterusnya akan mahal karena masih impor.
Pertamina kembali menaikkan harga elpiji mulai pekan depan. Harga baru elpiji untuk ukuran 12 kilogram naik dari Rp 5.250 menjadi 5.750 perkilogram. Namun demikian tabung kemasan 3 kilogram tidak naik harganya. Harga kemasan 3 kilogram ini masih dengan harga lama yakni Rp 4.250 per kilogram atau Rp 12.750 per tabung.
Ismi Wahid
INDEKS BERITA LAINNYA :
|