|
Pasar Jasa Konstruksi Masih Lemah
Selasa, 21 Agustus 2007 | 16:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pasar jasa konstruksi nasional dinilai masih lemah dalam mendukung beban pembangunan infrastruktur.
"Salah satunya karena jumlah badan usaha jasa kontruksi yang aktif masih relatif kecil," kata Kepala Badan Pembinaan Kontruksi dan Sumber Daya Manusia Departemen Pekerjaan Umum, Budi Yuwono dalam diskusi panel di kantor Departemen PU, Selasa (21/8).
Di tengah gencarnya promosi pemerintah dalam menggenjot infrastruktur di tahun anggaran 2008, sektor kontruksi masih dihadang banyak kendala.
Budi menjabarkan, saat ini jumlah badan usaha di bidang jasa konstruksi yang masih aktif hanya 66 persen. "Sisanya kalah saing," kata dia.
Menurut dia, rendahnya daya saing perusahaan jasa konstruksi nasional karena terbatasnya beberapa hal antara lain manajemen dan penguasaan teknologi, kompetensi SDM, akses permodalan, kerja sama antara pelaku besar, menengah, dan kecil.
Hal itu diperparah pula oleh sertifikasi badan usaha di Departemen Pekerjaan Umum yang berjalan lambat. Sejak Januari hingga Juni 2007 izin kontraktor baru yang terbit masih 40.791 badan usaha (BU) atau baru 30,1 persen dari total BU baru di 2006. Sedangkan izin BU penyedia jasa konsultan di bidang kontruksi, baru mencapai 855 di semester awal 2007 atau baru 20,7 persen dibanding total BU baru tahun lalu.
"Hal ini juga menyebabkan pengadaan jasa konstruksi relatif lambat," kata dia.
Selain itu, disparitas dalam penguasaan jasa kontruksi nasional juga masih tinggi. "60 persen jasa kontruksi nasional hanya dikuasai 10 persen pelaku," katanya.
Para pelaku tersebut, kata Budi meliputi kelompok BU besar dan menengah, termasuk asing. Padahal jumlah BU asing hanya 127 (kontraktor) dan 91 (konsultan).
Pemerintah sebelumnya menekankan akan menggenjot belanja modal untuk infrastruktur pada tahun anggaran 2008.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Paskah Suzetta di tempat yang sama mengatakan pemerintah mengalokasikan Rp 60,5 triliun untuk program percepatan pembangunan infrastruktur di 2008. Jumlah itu meningkat hampir 60 persen dibanding tahun 2007 yang hanya Rp 38,3 triiun.
Rafly Wibowo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|