|
Kenaikan Harga Susu Tak Lebih 10 Persen
Rabu, 04 Juli 2007 | 03:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menilai kenaikan harga susu dan produk olahan tak lebih dari 10 persen hingga akhir tahun ini. Sebab, kenaikan harga bahan baku yang diimpor itu masih bisa diantisipasi dengan efisiensi produsen.
"Tidak ada alasan itu (menaikkan harga hingga lebih 10 persen). Karena mereka harus memperhitungkan daya beli masyarakat. Kalau terlalu tinggi dan tidak terserap masyarakat produsen akan rugi," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman setelah melakukan rapat koordinasi dengan produsen dan distributor susu, Selasa (3/7).
Seperti diberitakan, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia memperkirakan harga susu bakal naik maksimal 15 persen hingga akhir tahun ini. Hal ini terjadi jika pemerintah tidak mengantisipasi dampak kekeringan di Australia, negara asal impor bahan baku susu Indonesia (Koran Tempo, 3/7).
Ketua Umum Industri Pengolahan Susu (IPS) Abdullah Sabana juga memastikan kenaikan harga susu dan produk turunannya tidak akan lebih dari 10 persen. "Sebab stok ada di pasar hingga tahun depan. Dengan efisiensi, kami dapat meredam kenaikan harga bahan baku ini, sehingga kenaikan tak lebih dari 10 persen," katanya.
Faktor utama lainnya, kata Abdullah, adalah pergantian musim di Australia sehingga sangat kondusif untuk menurunkan harga bahan baku susu. "Menjelang akhir tahun kemungkinan besar harga bahan baku akan turun, di Australia mulai akan turun hujan," ujarnya.
Kalaupun ada lonjakan harga bahan baku yang sangat tinggi ke depan, dia memastikan, hal itu tidak langsung berdampak pada kenaikan harga susu. Sebab, porsi harga bahan baku terhadap biaya produksi bervariasi dan tidak besar dibandingkan faktor lainnya. "Biaya yang timbul tidak hanya dari susu, tapi dari pengemasan, energi, ongkos produksi di pabrik, upah karyawan, dan sebagainya," kata Abdullah.
Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Kelautan dan Perikanan Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah akan melakukan pemberian susu melalui program pos pelayanan terpadu (posyandu). "Khususnya pemberian susu dan makanan tambahan bagi bayi di bawah tiga tahun (6 bulan-3 tahun) kepada masyarakat berpendapatan rendah," katanya. Pengeluaran masyarakat untuk susu, kata dia, hanya 0,5 persen atau lebih rendah dari pengeluaran untuk minyak goreng.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu membantah adanya kelangkaan pasokan dan kenaikan harga yang signifikan produk susu formula. "Kalo kami lihat harga di retail itu tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan, dari pantauan kami kenaikan hanya sekitar 2-3 persen. Tertinggi kenaikannya di Denpasar sekitar 10 persen," ujarnya di Kantor Kepresidenan.
Pemerintah, kata Mari baru mengadakan rapat dengan beberapa asosiasi prosuden pengolahan susu, asosiasi makanan bayi, pengusaha makanan dan minuman, dan retail susu. Produsen menjanjikan kenaikan harga susu hanya 5-10 persen pada tahun ini.
Di tempat terpisah Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pihaknya kemungkinan akan melakukan operasi pasar susu. Saat ini, kata dia, jajarannya sedang mempertimbangkan mekanisme yang akan dipilih.
Operasi pasar, kata Siti, merupakan salah satu opsi yang kemungkinan akan dipilih untuk mengatasi tingginya harga susu. Dia mengaku juga sedang mempertimbangkan membuat program susu murah untuk rakyat. Fokusnya adalah
pada anak balita. "Tapi masih saya pikirkan," katanya kemarin.
RR ARIYANI | SUTARTO | PRAMONO
INDEKS BERITA LAINNYA :
|