|
G-33 Minta Negara Maju Turunkan Subsidi
Rabu, 21 Maret 2007 | 17:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Para menteri dan pejabat tinggi dari Kelompok G-33 meminta negara-negara maju untuk secara spesifik menyusun tawaran negosiasinya dalam Putaran Doha. Sebab, fleksibilitas negara maju untuk menurunkan subsidi ekspor hingga kini belum jelas.
"Padahal G-33 sudah siap negosiasi, tapi terhambat atas sikap negara maju. Mereka harus segera menunjukkan kepemimpinannya dan menggerakkan negosiasi multilateral dengan menyusun penawaran secara rinci dan spesifik," ujar Koordinator G-33 yang juga Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Rabu sore (21/3) di Jakarta.
Dia mengharapkan, dengan dikemukakannya secara spesifik penurunan subsidi oleh negara maju, negosiasi dengan negara-negara berkembang akan dapat dimulai. Dia mencontohkan, baru satu negara maju, seperti Uni Eropa yang telah menurunkan subsidi produksi dalam negeri dari 39 menjadi 50 persen. Ini hampir sama dengan posisi Indonesia yang menurunkan subsidi di bidang pertanian hingga 54 persen. "Tapi Amerika Serikat dan Jepang belum keluarkan angka spesifik, baru kualitatif," ujarnya.
Dijelaskannya, tenggat waktu hingga akhir tahun ini agar perundingan segera tuntas sudah tidak bisa ditawar lagi. "Tidak ada ultimatum atau tenggat waktu bagi mereka (negara maju). Waktu terus berjalan, dan akan semakin banyak kerugian yang akan dialami negara jika hal ini tidak kunjung diputuskan," kata Mari.
Dia mengungkapkan, isu special product dan special safeguard mechanism tidak lagi dipermasalahkan oleh negara maju. "Yang intinya untuk melindungi petani dari kemiskinan," katanya.
Dalam Konferensi Tingkat Menteri G-33 ini disepakati suatu Ministerial Communique yang berisi sepuluh item. Yang intinya menegaskan pentingnya untuk segera menghapuskan distorsi perdagangan yang disebabkan oleh subsidi dan hambatan-hambatan pasar di negara-negara maju.
Para menteri G-33 juga telah memperbarui daftar indikator dalam menyeleksi special products secara transparan. Indonesia pun memastikan empat produk pertanian sebagai special product, yakni beras, gula, jagung dan kedelai.
Seperti diketahui, Konferensi yang dihadiri 29 negara anggota telah dimulai sejak kemarin. Konferensi juga dihadiri oleh Dirjen WTO Pascal Lamy, Menteri Luar Negeri Brasil sekaligus koordinator G-20 Celso Amorim, Menteri Pertanian Jepang selaku perwakilan G-10 Toshikatsu Matsuka, dan Anggota Komisi Eropa untuk Perdagangan Peter Mandelson.
RR ARIYANI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|