|
Lumpur Panas Lapindo (Bagian Ketiga)
Geolog Juga Berselisih Soal Penanganan
Kamis, 08 Maret 2007 | 01:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Perdebatan para ahli geologi tidak cuma dalam hal pemicu keluarnya lumpur dari gunung lumpur (mud volcano) di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Para ahli juga berdebat dalam hal usaha mematikan semburan lumpur Lapindo.
Ahli eksplorasi dari Institut Teknologi Bandung, Rudi Rubiandini, misalnya, merupakan salah satu pakar yang meyakini pengeboran miring (relief well) merupakan satu-satunya cara untuk mematikan semburan lumpur Lapindo. "Pengeboran miring merupakan usaha mematikan semburan lumpur dengan lumpur," kata Rudi kepada Tempo.
Dia menjelaskan semburan lumpur Lapindo merupakan tekanan akibat cairan, sehingga menutupnya pun harus dengan cairan. "Tidak bisa ditutup dengan mekanika, seperti besi atau beton," ujar Rudi.
Soal penggunaan bola-bola beton (chain ball), menurut Rudi, tekanan (semburan lumpur) dari bawah sangat kuat sehingga sulit ditahan kalau hanya dengan untaian bola-bola beton. Beberapa majalah ilmiah menyimpulkan kejadian di sumur Banjar Panji-1 adalah undergrown blow out, sehingga relief well adalah satu-satunya jawaban. Kegagalan terjadi karena pengeboran sampai 3.600 kaki (relief well pertama) dan 1.170 kaki (relief well kedua) terhenti lantaran Lapindo tidak punya dana lagi, sehingga proses mematikan semburan lumpur belum dimulai.
Sumber Tempo lainnya sependapat bahwa pengeboran miring merupakan cara mematikan semburan, dengan hipotesis pemicu semburan lumpur itu adalah sumur asal pengeboran. Jika cara pengeboran miring ini dapat dilakukan, secara tidak langsung akan membuktikan bahwa pemicu semburan adalah dari Sumur Banjar Panji-1, alias apa yang terjadi bukanlah bencana alam.
"Minimal bor berhasil menembus lubang sumur Banjar Panji-1 saja sudah bisa membuktikan pemicu semburan dari sumur itu," katanya.
Namun, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Achmad Lutfi (periode 2006-2008) justru ragu pengeboran miring bisa berhasil mematikan semburan lumpur. Dia mencontohkan relief well pada kedalaman 3.600 kaki yang tidak berhasil. "Bornya belum bisa maju sehingga lumpur naik dan membanjiri permukaan," tuturnya.
Lutfi pun khawatir, jika usaha mematikan semburan lumpur dengan cara itu diteruskan, akan menimbulkan semburan lumpur dari rekahan lain. "Sehingga makin tidak terkendali," ujarnya.
Soffian Hadi, pakar geologi Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo, berpendapat, kalau bola beton itu setara dengan tanah sebelum dibor, bola-bola itu bisa menutup. Tapi, kalau ada penahan di situ (build up pressure), tekanan di bawah justru akan menimbulkan tekanan di tempat lain.
Menurut dia, ini perlu diteliti lebih lanjut. Apabila dari etika scientific, harus memberi kesempatan kepada semua pihak untuk berupaya. Para ahli harus sama-sama melihat data dan membuat kalkulasi berdasarkan data sama yang diambil dari lokasi, baru memberikan pendapat.
Nieke Indrietta
INDEKS BERITA LAINNYA :
|