|
Industri Hilir Dukung Ekspor CPO
Rabu, 21 Pebruari 2007 | 19:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan pengusaha industri hilir pengguna minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menyatakan menerima kebijakan pemerintah membebaskan ekspor CPO. Alasannya, kalangan industri tidak mengalami masalah dengan pasokan minyak sawit mentah selama ini.
"Masalah utama industri hilir pengguna CPO bukan pada pasokan, tapi pasokan listrik dan gas," kata Ketua Asosiasi Produsen Oleokimia Kris Hadisoebroto kepada Tempo, Rabu (21/2).
Pernyataan tersebut menampik anggapan bahwa perkembangan industri hilir terganjal karena kurangnya pasokan bahan baku CPO. Sebab, harga CPO relatif tinggi di pasar dunia dan selama ini menjadi tulang punggung ekspor Indonesia.
Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelumnya meminta agar ekspor CPO tidak dibatasi. Menurut dia, kebijakan ekspor CPO harus mendorong industri hilirnya.
Kris mengungkapkan, pada dasarnya kebijakan menikkan pungutan ekspor atau memberlakukan sistem kuota pada CPO, tidak akan membantu banyak industri hilir. Sebab, kata dia, yang utama adalah membenahi pasokan listrik dan gas.
Selama industri mendapatkan pasokan gas dari PGN tidak sesuai kontrak jual-beli gas. "PGN gagal memasok sesuai tekanan, tapi perusahaan itu tidak kena penalti," katanya. Untuk mengatasinya, kalangan industri harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan kompresor.
Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia Franky M Sibarani mengatakan, kalangan industri tidak pernah kekurangan pasokan CPO. Industri yang membutuhkan CPO seperti biofuel hingga kini belum berkembang.
Selain itu, kata Franky, sebagian besar industri hulu CPO di Indonesia telah memiliki industri hilir. Jadi industri hilir tidak perlu kawatir karena produksi bahan baku telah diantisipasi sebelumnya. "Jaminan pasokan aman," ujarnya kepada Tempo.
Jika pemerintah melakukan pembatasan ekspor harus fleksibel. Pemerintah, menurut Franky, harus mementingkan kebutuhan dalam negeri sebelum membolehkan ekspor. "Kalau butuh bahan baku, naikkan pungutan ekspor hingga 60 persen. Sebaliknya kalau harga sedang bagus pungutan ekspor diturunkan," katanya.
RR ARIYANI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|