Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Soros: Korupsi Masih Jadi Penghambat Ekonomi Indonesia
Selasa, 12 Desember 2006 | 08:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Miliarder George Soros menilai masih tingginya praktek korupsi dan lemahnya penegakan hukum di Indonesia menjadi penyebab utama rendahnya pertumbuhan ekonomi.

"Asia Timur dan Asia Selatan tumbuh cepat, tapi Indonesia tidak ikut berpartisipasi dalam pertumbuhan itu," ujar Soros dalam wawancara khusus dengan Tempo di Jakarta.

Soros hadir di Jakarta mengikuti rangkaian diskusi publik "Indonesia Economic and Political Perspective 2007" yang digelar Tempo besok.

Soros mencontohkan, Cina dan India adalah dua negara yang benar-benar mampu memanfaatkan momentum untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, pada saat yang bersamaan, ekonomi negara adidaya Amerika Serikat mengalami resesi. "Mereka (Cina dan India) mampu tumbuh 9-10 persen per tahun," katanya.

Menurut dia, agar Indonesia bisa bergegas mengambil peluang dalam pembentukan keseimbangan baru ekonomi dunia, diperlukan kebijakan pemerintah Indonesia yang kuat. Misalnya kebijakan yang tegas soal pemberantasan korupsi dan memperkuat proteksi atas hak kepemilikan.

"Kapan Indonesia bangkit, ya, bergantung pada seberapa cepat membangun kebijakan ini," katanya.

Dia menambahkan, India kuat dalam demokratisasi dan Cina tegas dalam penegakan hukum. "Ini yang perlu dicontoh," katanya.

Kendati demikian, dia menyatakan Indonesia mengalami kemajuan besar dalam demokratisasi. "(Terbukti) pers di sini sudah sangat terbuka," kata Ketua Soros Management Fund ini.

Soros yang juga pemilik The Quantum Fund, lembaga manajemen investasi yang paling sukses di dunia, ini mengungkapkan resesi ekonomi di Amerika tergambar jelas dari penurunan permintaan di sektor perumahan. Permintaan pemilikan perumahan di Amerika Serikat dalam setahun, yang rata-rata mencapai US$ 900 miliar, pada 2006 turun menjadi US$ 500 miliar dan ada kemungkinan turun lagi pada 2007.

Di sisi lain, tingkat bunga Fed yang bertengger di atas 4,25 persen, bahkan diperkirakan bakal naik lagi, membuat dolar Amerika Serikat siap-siap semakin terpuruk. "Sektor perumahan selama ini telah mendorong permintaan konsumen," ujarnya.

Soros menjelaskan, kendati ekonomi Amerika Serikat belum mengalami resesi, selama 2006 dolar sudah jatuh dan pelambatan ekonomi Amerika Serikat, membuat terjadinya keseimbangan ekonomi baru di bagian dunia lainnya.

Agus Supriyanto


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk89324 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2006>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data