|
Pasar Finansial Indonesia Cetak Rekor
Senin, 11 Desember 2006 | 08:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta selama tahun ini menampilkan prestasi sangat baik.
Sejak awal Januari hingga akhir perdagangan pada pekan lalu, indeks saham telah mencatat kenaikan 52,69 persen dari level 1.162,635 pada 2 Januari menjadi 1.775,285 pada 8 Desember lalu.
Prestasi itu merupakan kenaikan tertinggi kedua di bursa utama dunia setelah indeks harga saham di Bursa Cina, yang naik 80,32 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini menguat sebesar 7,83 persen, dari posisi 9.835 menjadi 9.065 per dolar Amerika Serikat.
Penguatan itu menjadikan rupiah sebagai mata uang terbaik ketiga setelah mata uang Thailand, baht, yang menguat 12,81 persen, dan won Korea, yang menguat 8,39 persen, terhadap dolar Amerika.
Kepala Riset Ekuitas PT Mandiri Sekuritas Irwan Junus mengatakan kenaikan kinerja bursa saham Jakarta serta bursa utama dunia terkait dengan adanya kelebihan likuiditas dana di pasar. "Investor menaruh dananya ke pasar modal karena saat ini investasi saham dinilai memberikan imbal hasil yang menarik," katanya kepada Tempo.
Prestasi indeks yang mampu memberikan keuntungan besar sepanjang tahun ini, kata Irwan, menumbuhkan optimisme pasar terhadap masa depan kinerja Bursa Jakarta. Optimisme itu berimbas positif pada terus meningkatnya likuiditas pasar, yang saat ini berada pada Rp 1,5-3 triliun per hari.
Irwan tidak sepakat bila dikatakan bahwa posisi indeks, yang sempat menembus 1.800, sudah mencapai level tertinggi. "Tergantung dari sudut pandang mana investor menilainya," katanya.
Investor yang punya dana besar bisa memandang valuasi saham di Bursa Jakarta masih murah. Jadi tak mustahil indeks akan kembali naik mencetak rekor baru.
"Saya kira prospek kinerja pasar modal kita tahun depan masih akan bullish (naik)," kata Irwan. Diperkirakan, indeks bursa tahun depan akan ditransaksikan pada rasio price earnings 14-15 kali.
Hal senada dinyatakan praktisi pasar modal Edwin A. Sinaga. Dia menyatakan optimisme pelaku pasar terhadap kinerja bursa saham Jakarta masih akan terus berkembang. "Hingga saat ini belum ada hal-hal negatif yang membuat pelaku pasar menjadi pesimistis," katanya.
Sedangkan pengamat pasar uang yang sekaligus Direktur PT Bank Buana Indonesia Tbk. Pardy Kendy menyatakan, selama pemerintah masih mempertahankan iklim investasi yang kondusif, aliran dana keluar dari pasar Indonesia belum akan terjadi. "Fluktuasi rupiah masih terjaga. Akhir tahun rupiah berpotensi ke 9.000."
Muchtar Wijaya
INDEKS BERITA LAINNYA :
|