|
Arus Modal Masuk Jangka Pendek Naik
Kamis, 14 April 2005 | 18:48 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Komunikasi Bank Indonesia Halim Alamsyah mengungkapkan, jumlah arus modal asing berjangka pendek yang masuk Indonesia terus mengalami peningkatan. Hingga akhir Maret jumlahnya mencapai US$ 4,3 miliar.
Menurut Halim, kenaikan ini disebabkan oleh sejumlah hal, seperti masih menariknya suku bunga Indonesia, stabilnya kondisi politik, dan semakin meningkatnya kegiatan pasar modal. Jika pada 2003, arus modal berjangka pendek mencapai USU 2,3 miliar, pada 2004 naik menjadi US$ 2,8 miliar, dan tahun ini sekitar US$ 4,3 miliar.
Halim menjelaskan, dana asing tersebut ditanamkan dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN) dan pasar valas. Hingga akhir Maret 2005, perincian dana asing yang diinvestasikan di SBI sebesar US$ 1,3 miliar, obligasi negara sebesar US$ 2,5 miliar, dan di pasar valas rata-rata sekitar US$ 400-500 juta.
"Dana asing tidak ada yang ditanamkan di Fasilitas Bank Indonesia (FASBI)," katanya dalam sebuah perbincangan di Jakarta, Rabu.
Sedangkan, mengenai neraca pembayaran Indonesia (migas, nonmigas, dan jasa), menurut Halim, ada kecenderungan surplusnya mengalami penurunan. Jika pada 2003, neraca pembayaran masih sekitar US$ 8,1 miliar, tahun lalu surplusnya turun menjadi US$ 3,2 miliar. "Kami memprediksikan tahun ini, neraca pembayaran hanya surplus US$ 3 miliar. Ini disebabkan kenaikan harga minyak dan volume impor migas yang cukup tinggi."
Namun, Halim mengingatkan cadangan devisa Indonesia akan mengalami kenaikan hingga US$ 4,5 miliar pada akhir tahun ini. Menurut dia, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$ 1 per barel, cadangan devisa akan meningkat sebesar US$ 130 juta. “Kalau harga minyak masih sekitar US$ 50 per barel, BI memperkirakan cadangan devisa akan meningkat tinggi dari US$ 36 miliar pada 2004 menjadi US$ 40,5 miliar pada akhir 2005. Jadi BI tidak khawatir atas kenaikan harga minyak dunia.”
rr ariyani
INDEKS BERITA LAINNYA :
|