Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekbis

BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi 2005, 5-6 Persen
Kamis, 31 Maret 2005 | 16:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pejabat Bank Indonesia optimis kinerja perekonomian 2005 akan lebih baik lagi dibanding 2004. Hal ini disebabkan komitmen pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi dan membangun infrastruktur, turut meningkatkan optimisme pelaku ekonomi. "Bank Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi di kisaran 5-6 persen dapat tercapai dalam 2005," demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah Rabu (30/3).

Pertumbuhan 5-6 persen, akan diperoleh dari kegitan investasi, pangsa kredit yang terus meningkat, konsumsi swasta dan pemerintah yang relatif stabil dan kegiatan ekspor dan impor jasa.

Namun sampai triwulan ini ternyata pertumbuhan ekonomi sangat lambat. Sehingga menurunkan optimisme masyarakat. Saat ini diakuinya ekspor barang dan jasa memang tumbuh dengan lambat, Selain itu inflasi juga terus meningkat, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak dan ekspektasi inflasi.

Untuk itulah, Bank Indonesia akan menempuh kebijakan moneter ketat, yang arahnya adalah penekanan laju inflasi. Secara operasional dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya, yakni rata-rata tumbuh 11,5 persen hingga 12,5 persen.

Sedangkan kenaikan suku bunga akan digunakan sebagai sasaran moneter pada pertengahan 2005. Sehingga di pertengahan tahun kondisi perekonomian akan lebih baik.

Dian Imamah

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Direktur Bank Indonesia (BI), Hendro Budiyanto pada rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di gedung MPR/DPR, Jakarta, 1993. [TEMPO/ Rully Kesuma; 15D/210/1993; 20021001]. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Maulana Ibrahim saat jumpa pers di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, 27 Februari 2003. [TEMPO/ Wahyu Setiawan; K12A/179/2003; 20030225].
Hendro Budiyanto
Maulana Ibrahim
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

40 Bank Bermasalah Akan Di-merger
Indeks Cenderung Melemah',
Pemerintah Diminta Segera Terbitkan Standar Baku Perencana Keuangan
Oto Dalam Lembaran Rp 20 Ribu Sudah Benar
BI dan Pemerintah Sepakat Atur Pembelian Dolar Pertamina
BI Tunda Kenaikan Suku Bunga SBI
Neraca BI Surplus Tahun Ini
BNI Menunggu Putusan BI Penerbitan Obligasi
BI Intervensi Agar Rupiah Tidak Loyo Terus
Rupiah Menguat Akhir Tahun
> selengkapnya...


Referensi

Profil Miranda Swaray Goeltom
Profil Burhanuddin Abdullah
Latar Belakang Perusahaan Pengelola Aset Negara (PPA)
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 1 Tahun 2004 Tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
PP RI No. 47 Tahun 2001 Tentang Perubahan Keempat Atas PP No. 17 Tahun 1999 Tentang Badan PenyehatanPerbankan Nasional
> selengkapnya...

Website

Departemen Keuangan
Bank Indonesia
Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data