|
Ekbis
Inflasi Tahun Depan 6,5 Persen
06 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat memperkirakan inflasi 2004 sebesar 6,5 persen. Angka itu turun dari angka inflasi 7 persen yang diajukan pemerintah dalam nota keuangan, Agustus 2003. "Dengan inflasi yang rendah, diharapkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) juga akan terus menurun, berakibat bunga kredit juga menurun," kata Sugeng Waluya, anggota Panitia Anggaran, saat membacakan hasil keputusan rapat Panitia Kerja Fiskal dan Moneter di gedung parlemen, Kamis (6/11).
Walau demikian, kurs rupiah dan tingkat suku bunga SBI perlu diberi ruang terhadap resiko fiskal yang mungkin terjadi pada 2004. Pasalnya, Indonesia menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) dan tidak terikat lagi dengan program Dana Moneter Internasional (IMF).
Panitia Kerja yang merampungkan pembahasan selama Oktober 2003, juga menyepakati pertumbuhan ekonomi dipatok sebesar 4,8 persen dengan nilai tukar rupiah Rp. 8.600 per dolar Amerika Serikat, tingkat bunga SBI 8,5 persen. "Harga minyak sebesar US$ 22 per barel dengan produksi per hari sebesar 1.150 juta barel. Produk Domestik Bruto sebesar 1.999,6 triliun," kata Sugeng. Dewan juga menetapkan pendapatan negara dan hibah 2004 sebesar Rp 349,9 triliun yang diperoleh dari penerimaan pajak sebesar Rp 272,17 triliun dan penerimaan bukan pajak Rp 77,12 triliun.
"Sangat realistis," kata Boediono, Menteri Keuangan. Menurutnya, sangat masuk akal jika inflasi 2004 ditargetkan 6,5 persen dengan melihat laju inflasi tahun 2003. Boediono juga optimis, laju inflasi 2003 mencapai di bawah 6 persen. "Pemilu tidak akan mengganggu laju inflasi, walau diperkirakan tingkat konsumsi meningkat. Tergantung arus barangnya juga," katanya.
Selain itu, DPR juga memberi keleluasaan kepada pemerintah untuk menerbitkan obligasi dalam dan luar negeri. Tahun depan, pemerintah mengajukan penerbitan obligasi luar negeri senilai US$ 400 juta dan obligasi dalam negeri senilai Rp. 28 triliun.
Dari asumsi dasar RAPBN 2004, diperkirakan defisit anggaran 2004 mencapai Rp. 23,032 triliun atau 1,2 persen Produk Domestik Bruto.
|