TEMPO Interaktif, Jakarta:Kwik meminta pemerintah tidak menerima uang asing kalau dibelikan saham dan didepositokan
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas meminta pemerintah berhati-hati terhadap masuknya arus modal jangka pendek. Pasalnya, investasi yang kebanyakan berupa pembelian saham dan penanaman deposito ini suatu saat akan membuat harga saham dan nilai tukar rupiah anjlok.
“Kalau goncang sedikit saja maka saham dijual, harga saham ambruk, rupiah dipakai membeli dolar, maka rupiah anjlok. Demikian juga deposito selalu up and down (naik turun)” kata dia sebelum mengikuti rapat kerja dengan Komisi Keuangan dan Perbankan DPR di gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (28/5).
Kwik mengatakan pemerintah jangan pernah berpikir investasi akan naik terus dan tidak akan pernah turun. Tapi kalau sekarang dirinya mengatakan hal ini akan ditertawakan oleh berbagai kalangan. Karena pihak yang mentertawakan itu selalu menggunakan ‘kacamata hitam’. “Cobalah kita lihat masa lalu sudah kelihatan up down - up down” ujarnya.
Karenanya, ia meminta pemerintah tidak menerima uang asing kalau dibelikan saham dan didepositokan. Pemerintah hanya boleh menerima jika dijadikan perusahan nyata. Artinya investasi mentransformasi menjadi gedung, mesin atau unit produksi. “Berinvestasi itu boleh tapi jangan lewat bursa” tutur Kwik.
Menururt Kwik, investasi dalam bentuk lembar kertas saham sebenarnya uang yang masuk tidak secara real. Karena uang itu tidak masuk ke perusahaan, melainkan ke pemegang saham. “Ini hanya money game, berputar-putar saja” katanya.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan, masuknya arus modal jangka pendek, seperti pembelian saham mayoritas Bank Danamon membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar menguat. Bahakan Ia meminta arus modal jangka pendek dapat ditingkatkan menjadi jangka menengah atau panjang.
(Kurniawan-TNR)