|
Melissa Karim : Kebebasan Berekspresi Belum Sepenuhnya Dijamin Negara
Senin, 15 September 2008 | 09:50 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Profesi perempuan berusia 30 tahun ini sangat beragam. Menjadi penyiar radio, membawakan acara untuk televisi, hingga menjadi bintang iklan. Ia juga bermain sinetron, film, hingga menulis film pendek. Kegiatannya yang paling baru adalah menulis behind the scene sebuah film.
Macam-macam kegiatan itu buah dari namanya yang dikenal banyak orang setelah menjadi penyiar Radio Hard Rock FM, Jakarta, mulai 2000. Menjadi penyiar adalah keinginan lamanya. "Ini cita-cita saya dari kecil." Dari situlah kariernya di dunia hiburan dimulai.
Kariernya memang berkembang, tapi gara-gara itu pula kuliahnya tak tuntas. Tak hanya kuliahnya, waktu bertemu dengan kedua orang tuanya menjadi minim. "Saya sering berangkat pagi sekali dan pulang larut malam," ujar penggemar sayur asem itu. Sementara itu, saat Melissa berangkat, ayah dan ibunya telah sibuk belanja kebutuhan katering, bisnis keluarganya. Ia menyiasatinya--salah satunya--dengan makan bersama mereka di luar rumah. Apa saja kegiatannya? Tempo merekam kegiatannya, beberapa waktu lalu. Pukul 08.00 Studio Metro TV Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Kegiatan pertamanya hari itu membawakan acara Breakfast Club di stasiun Metro TV. Dua kali dalam sepekan Melissa mengisi acara yang ditayangkan setiap Kamis dan Jumat itu.
Perempuan kelahiran Jakarta, 12 Mei 1978, itu dikontrak selama dua tahun untuk membawakan acara ini. Acara tentang berbagai isu terhangat ini mengharuskan penggemar jazz ini mempelajari banyak bidang ilmu. Karena itu, term of reference yang dikirim redaksi sehari sebelumnya sangat membantu Melissa.
Melissa memulai kariernya di dunia hiburan pada 2000 sebagai penyiar Radio 87,6 Hard Rock FM, Jakarta. Kesibukan sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan tidak menghalangi pekerjaannya. "Ini cita-cita saya dari kecil," katanya.
Sambil bekerja di radio, penggemar parfum Banana Republic ini juga bekerja sebagai asisten almarhum komedian Indra Savera. Oleh Indra, nama Melissa diajukan menjadi presenter di stasiun televisi Trans TV pada pertengahan Desember 2001. Dewi fortuna tampaknya terus mengikuti Melissa sehingga ia didapuk ikut serta dalam sinetron Arisan! The Series, lalu mendapat peran pembantu dalam film Berbagi Suami sebagai anak Ira Maya Sopha.
Melissa juga menulis beberapa film pendek, seperti The Matchmaker dan Perempuan Punya Cerita. Dua film itu sempat ikut dalam kompetisi di berbagai festival film internasional.
Tahun ini setidaknya Melissa terlibat dalam dua pembuatan film layar lebar. Dia membuat behind the scene film Drupadi bikinan Riri Reza. Ini pertama kali dia mendapat kesempatan menulis behind the scene, sehingga belum tahu formatnya seperti apa. "Mungkin nantinya soal fashion atau akting."
September ini Melissa kembali akan bermain untuk layar lebar. Dia mendapat peran pembantu dalam film Jamila dan Sang Presiden karya Ratna Sarumpaet. Melissa akan berperan sebagai Windi, pelacur yang ditahan di penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.
Di tengah aktivitasnya yang banyak, Melissa masih sempat mengisi berbagai iklan televisi dan radio serta menjadi model iklan sebuah bank swasta nasional. Dia juga pernah menjadi komentator tetap dalam acara Silat Lidah dan co-host di acara Perspektif Wimar. Sebelum dilarang, keduanya tayang di ANTV.
Sukses di bidang hiburan ternyata mengganggu urusan akademis Melissa. Tamat dari Sekolah Menengah Atas Santa Maria pada 1996, Melissa berniat melanjutkan studi ke Melbourne, Australia. Tapi orang tuanya tak setuju. Setelah setahun menganggur, dia masuk Jurusan Komunikasi Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Namun, bangku kuliah ditinggalkannya karena diterima di Hard Rock FM. Padahal ia hanya tinggal mengerjakan tugas akhir untuk lulus.
Ia sempat berniat menyelesaikan kuliahnya pada 2003. Hanya, Universitas meminta dana Rp 40 juta karena telah memasuki masa pemutihan. "Mahal, saya menolak," kata perempuan yang doyan sayur asem itu.
Setelah memandu acara Breakfast Club yang berdurasi 60 menit, Melissa ke ruang ganti. Ia mengganti bajunya dengan tank top putih yang dibalutnya dengan sweater merah marun. Keluar dari ruang ganti, dia mengajak Tempo mencari sarapan. Ia mengemudikan sendiri Honda Jazz warna metalik menuju sebuah rumah makan di Jalan Pesanggrahan.
Pukul 09.15 Rumah Makan Tradisional Jalan Pesanggrahan
Rumah makan ini dipilih karena menyediakan layanan hot spot gratis. Sambil menunggu pesanan teh tawar dan singkong goreng, Melissa membuka komputer jinjingnya. Ia selalu menyempatkan diri membuka surat elektronik, juga Facebook. Kenapa? "Ini penting untuk sosialisasi," ujar Melissa.
Perempuan yang punya hobi memasak ini mengaku sudah tujuh tahun tak makan nasi. Tinggi tubuhnya, yang hanya 140 sentimeter, membuat dia harus menjaga berat badan dengan ketat. Ia mengorbankan nasi agar bobot tubuhnya tidak cepat bertambah.
Untuk alasan itu pula ia jarang minum minuman yang manis. Dia lebih memilih es krim ketimbang minum dengan gula pasir. Tidak cuma gemar makan, putri pertama pasangan Yahya Santoso dan Irene Mardiana ini juga pandai memasak. Jika sedang libur, dia menyempatkan diri memasak bersama ibunya. Ia kerap mencoba aneka resep masakan. Tapi, meski mencoba macam-macam resep makanan, sayur asem ibunyalah makanan favoritnya.
Setelah menghabiskan makanan pesanannya dan mencicipi lunpia, serta pisang goreng pesanan Tempo, Melissa mengajak ke tempat pijat refleksi.
Pukul 10.30 Pijat Refleksi Jalan Raya Kembangan, Jakarta Barat.
Sebulan sekali, Melissa pijat refleksi. Pijat menghilangkan letihnya. Selama dipijat, ia benar-benar menggunakannya untuk beristirahat. Ia memejamkan matanya. Lumayan, ia bisa beristirahat selama 90 menit. Untuk menjaga stamina, perempuan yang punya hobi traveling ini saban hari mengkonsumsi vitamin C dan melakukan yoga setiap Sabtu.
Pukul 13.30 Hotel Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta Selatan
Melissa menyempatkan makan siang bersama kedua orang tuanya. Meski masih tinggal satu rumah, dia mengaku jarang sekali memiliki waktu untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. "Saya sering berangkat pagi sekali dan pulang larut malam," katanya. Sedangkan saat Melissa berangkat, ayah dan ibunya telah sibuk belanja kebutuhan katering, bisnis keluarganya.
Di restoran Asia, Yahya Santoso, 60 tahun, dan Irene Mardiana, 55 tahun, sudah menunggu. Adik satu-satunya, Felix Santoso, tidak bisa bergabung karena kesibukannya. Mereka makan sushi, es krim, dan sambal. "Setiap makan harus ada sambal," ia mengungkapkan.
Pukul 15.30 Acupuncture Beauty & Health Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Biasanya Melissa ke klinik kesehatan dan kecantikan sebulan sekali. Tapi bulan lalu dia menjadwalkan dua pekan sekali. Alasannya, berat badannya sudah lebih 4 kilogram dari yang seharusnya 40 kilogram. Dia sudah dua tahun berlangganan klinik akupunktur itu. Sebelumnya, dia selalu ke klinik akupunktur di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari klinik akupunktur, Melissa kembali ke Kuningan.
Pukul 17.00 Oakwood Mega Kuningan, Jakarta Selatan
Ia punya janji bertemu dengan teman-temannya di Yayasan Kalyana Shira, di antaranya Nia Dinata, di Restoran Loewi, Oakwood.
Melissa tercatat sebagai operational director yayasan yang didirikan Nia Dinata. Kegiatannya memberdayakan kaum marginal, seperti kaum homoseksual, lesbian, serta perempuan dan anak-anak, melalui media audio-visual. Sambil menunggu, perempuan ceriwis ini menikmati es krim.
Setengah jam kemudian lima perempuan yang ditunggunya, termasuk Nia Dinata, datang. Memilih deretan meja panjang di belakang, mereka berdiskusi merundingkan pembuatan film dokumenter tentang kesehatan reproduksi perempuan.
Diskusi hanya setengah jam karena mereka harus bergegas menuju Pusat Kebudayaan Belanda.
Pukul 19.30 Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jalan HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan
Yayasan Kalyana Shira akan menggelar diskusi untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-63. Puluhan peserta diskusi, termasuk pembicara, seperti aktris Rieke Dyah Pitaloka dan pengajar filsafat dari Universitas Indonesia Rocky Gerung, hadir di ruang utama gedung Erasmus Huis.
Menurut Melissa, secara pribadi rakyat Indonesia sudah mendapatkan kemerdekaannya. Tapi kemerdekaan belum dirasakan secara kolektif. "Kebebasan berekspresi dan berkarya belum sepenuhnya dijamin negara," katanya.
Diskusi berakhir menjelang pukul 23.00, Melissa pulang ke rumahnya di Johar Baru, Jakarta Pusat. Selama perjalanan, pemeluk Katolik ini bercerita tentang kehidupan beragamanya. Bagi Melissa, agama adalah sebuah institusi yang mengatur kehidupan umatnya. Sedangkan hubungan dengan Tuhan adalah hubungan pribadi masing-masing. Karena itu, tak soal, "Meski saya Katolik, gereja saya ikut gereja Kristen."
Perjalanan ke rumah Melissa hanya butuh waktu 30 menit. Ia langsung beristirahat sesampai di rumah. Erwin Dariyanto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|