Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
[an error occurred while processing this directive]
   

Sehari Bersama Nicholas Saputra

"Seharusnya Ada Film yang Mendidik"
Minggu, 24 Agustus 2008 | 15:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Muda, punya tampang dan karakter dalam bermain film, Nicholas Saputra mendapat peran-peran penting dalam filmfilm terbaik di negeri ini. Sekitar setahun tak tampil di layar lebar, Nicholas Saputra kini ikut sibuk menyiapkan film Drupadi dengan latar belakang epos Mahabharata yang disutradarai Riri Riza.



Di film ini ia berperan sebagai Arjuna, ksatria tengah Pandawa Lima, para putra Prabu Pandudewanata. Perannya dalam film ini diakuinya tak mudah lantaran film ini menggabungkan tari, teater, dan film sekaligus. Meski begitu, aktor terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005 melalui film Gie itu tak menyerah.



Lelaki 24 tahun itu tekun berlatih tari.



Nico—nama panggilannya—yang memulai karier sebagai model pada peragaan busana karya Samuel Wattimena itu rada pendiam. Jika menunggu giliran berlatih syuting, ia kadang hanya duduk mengosongkan pikiran, tanpa beban. Ketika ditanya pun, ia kerap hanya menjawab dengan jawaban-jawaban pendek.



Diam-diam, lulusan Teknik Arsitektur, Universitas Indonesia, akhir 2006 itu punya harapan yang tinggi pada film negeri sendiri. Film Indonesia, kata dia, sudah saatnya tidak hanya menuruti keinginan pasar, tapi harus memperhatikan unsur pendidikan bagi masyarakat. Menurut nomine Aktor Terbaik dalam FFI 2004 untuk perannya di film Biola Tak Berdawai dan Ada Apa dengan Cinta? itu, harus ada keseimbangan antara film yang dibuat hanya untuk memenuhi selera pasar dan film yang mendidik.



Selasa dua pekan lalu, Tempo mengikuti kesehariannya saat berlatih untuk syuting film yang dilakukan di Yogyakarta.



08.30 Hotel Kirana Prawirotaman, Yogyakarta.



Dengan kaus dan celana hitam serta topi warna hitam, Nicholas Saputra menemui Tempo di ruang makan Hotel Kirana, Prawirotaman, Yogyakarta. Nico menginap di Yogyakarta untuk latihan syuting film Drupadi garapan sutradara Riri Riza setelah berlibur di Bali.



Sambil sarapan dua butir telur rebus dan secangkir kopi, Nico mengaku tak biasa makan berat di pagi hari. Sarapannya tanpa nasi dan hampir selalu ditambah pepaya.



Ia mengaku doyan apa saja, tapi jeroan dan daging kambing dihindarinya, kecuali yang menurut dia enak, misalnya “sate klathak” di Jejeran, Imogiri, Bantul. Sate kambing berbumbu garam dan merica itu, diakui Nico, terasa “kambing banget” dan enak.



Beberapa tempat makan di Yogyakarta memikatnya, di antaranya gudeg di Jalan Malioboro, makanan di Cafe Via-via, Jalan Prawirotaman. Yang paling membuatnya terkesan adalah warung bakmi Mbah Mo di Bantul. Apa yang membuatnya terkesan? “Cara masak bakmi di warung Mbah Mo dengan arang dan ‘dengan hati’,” katanya. Nico juga doyan tempe Warung Lik Min di kawasan Bugisan, Bantul. Pendeknya, soal makanan, Nico tak merasa kesulitan di Yogyakarta. Apalagi, harganya pun murah.



10.30 WIB Sebuah warung di Padepokan Bagong Kussudiardja.



Kasihan, Bantul Nico menunggu latihan bersama lawan mainnya, Dian Sastro dan Djadug Feriyanto, seniman, putra Bagong Kussudiardja (alm.) dan Hari Wahyu, seniman lukis dan ar tistik panggung. Sembari menunggu, secangkir kopi menemaninya.



Rokok tak lepas dari jemarinya. Ia mengaku tak banyak merokok demi kesehatan, tapi lulusan Teknik Arsitektur, Universitas Indonesia, itu bisa menghabiskan sebungkus rokok sehari. “Tergantung pingin atau tidak,” ujar pemain film yang memulai kariernya sebagai model itu.



Dalam film itu Nico memerankan Arjuna, putra pasangan Prabu Pandudewanata dan Kunti dalam epos Mahabharata. Sebagai Arjuna, ksatria tengah Pandawa Lima, Nico dituntut berpostur tegap dengan kulit agak gelap.



Agar tubuhnya lebih tegap, Nico rajin mengolah otot di pusat kebugaran. Tuntutan ini dianggapnya tak seberapa dibanding tuntutan harus menggelapkan warna kulitnya. Usaha menggelapkan warna kulit, kata Nico, membuatnya tersiksa. Ia harus berjemur di bawah panas terik setiap hari.



“Kalau untuk memutihkan kulit lebih gampang. Tinggal menghindari sinar matahari, beberapa hari saja sudah putih kembali.” Nico mendapatkan kulit berwarna terang dari ayahnya yang berasal dari Jerman. Sedangkan ibunya asli Purworejo, Jawa Tengah.



Sekitar pukul 11.00, para pemeran film Drupadi telah berkumpul di bawah pohon beringin di sisi barat padepokan yang memang sudah diset menjadi panggung untuk pentas. Masih dengan topinya, Nicholas berkostum sederhana, tanpa baju, celana komprang hitam, dan kain panjang, menunggu giliran berlatih.



Dengan raut wajah yang serius, Nico mendengarkan arahan sutradara, Riri Riza. Di sela-sela latihan itu Nicholas menggunakan waktu luang untuk menggerak-gerakkan tangan dan kaki untuk mendapatkan gerakan yang pas di bawah bimbingan Topo Tedjo Baskoro, pelatih tari padepokan.



Nico mengakui tak mudah berlatih gerakan. Ia kesulitan menggerakkan kaki seperti jika harus duduk bersimpuh. Duduk bersimpuh membuat kakinya terasa sakit. Untuk mendapatkan gerakan yang pas, ia harus berlatih hingga enam kali. Berlatih gerakan dianggapnya jauh lebih sulit ketimbang mengingat naskah.



“Naskah cukup dipahami, tidak harus dihafalkan.” Perannya sebagai Arjuna dirasa agak sulit karena film itu perpaduan antara film, teater, tari, dan musik.



Ia menilai film Indonesia diproduksi hanya mengikuti permintaan pasar masyarakat, bukan untuk mendidik masyarakat.



Padahal, kata dia, sekarang saatnya memanfaatkan masa kebebasan untuk membuat film. Pasar sudah ada dan sudah banyak pula yang memperhatikan film Indonesia, tetapi jumlah film yang melayani dan mendidik masyarakat belum seimbang.



Seharusnya, kata Nico, pembuatan film tidak hanya mengikuti permintaan pasar, tetapi juga harus ada keseimbangan antara film yang mengikuti pasar dan film yang mendidik masyarakat.



“Seharusnya ada film yang mengarahkan mereka (masyarakat), film yang bagus, yang mendidiklah.” Pendidikan tidak hanya bisa diberikan di sekolah.



“Pendidikan (meliputi pendidikan mental), pendidikan (melalui) pengalaman-pengalaman emosi.” Seusai latihan, Nicholas bukannya langsung beristirahat, tapi menyiapkan kamera dan tripod bersama kru televisi musik Channel V yang berpusat di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain bermain film, Nicholas menjadi host acara film di televisi itu. Hampir tiga kali dalam sebulan, kata Nico, ia harus ke Hong Kong untuk rekaman. Itulah sebabnya ia tidak bermain untuk sinetron.



“Waktu saya memang kurang untuk bisa bermain di sinetron.” Banyak terlibat dalam film dan televisi, Nico belum menerapkan ilmu arsitektur yang lebih dari empat tahun ditekuninya di Uni versitas Indonesia. Ia mengaku telah punya rencana untuk mengaplikasikan ilmunya suatu saat, tapi belum tahu kapan. “Masih butuh proses menuju ke sana.” Setelah kamera siap, Nico mewawancarai narasumbernya yang tak lain adalah Dian Sastrowardoyo. Dian adalah lawan main Nico dalam film Ada Apa dengan Cinta? garapan Rudi Sudjarwo yang beredar pada 2002. Karenanya, ia tak canggung jika harus bermain lagi bersama Dian. “Dian sangat asyik dan profesional, telaten, juga serius.” Selama membintangi beberapa film, di antaranya Biola Tak Berdawai (2003), Janji Joni (2005), Gie (2005), hingga Tiga Hari untuk Selamanya (2007), Nico mengaku belum pernah mendapatkan lawan main yang menyebalkan.



14.15 Studio Toxic Sukonandi, Yogyakarta

Untuk keperluan artistik, sebagai pemeran Arjuna, pelipis kiri Nico mesti ditato. Ia ditato di Studio Toxic yang letaknya sekitar 10 kilometer dari Padepokan Bagong. Tak ada sangkut paut dengan dunia kriminal, Nico menilai tato justru sebagai karya seni yang harus dihargai. Meski begitu, tato yang dirajah di pelipis kirinya hanyalah tato sementara.



16.30 Padepokan Bagong Kussudiardja

Di depan kantor administrasi Padepokan, Nicholas hanya duduk sambil mengisap rokok. Pandangannya seperti kosong. Ia mengaku jika ada waktu luang dan tidak mengharuskan berpikir, ia hanya mengosongkan pikiran. “Ya, begini jika nunggu sesuatu, nongkrong santai tanpa beban.” Ia berpendapat selebritas me rupakan hal yang sebenarnya positif, tapi saat ini ada yang menggunakan kata selebritas hanya untuk bergaya atau menunjukkan kesombongan. Nico mengaku lebih suka disebut pemain film daripada artis.



17.25 Kantor Sekretariat Padepokan

Menunggu acara tumpengan untuk doa bersama dimulainya syuting Drupadi esok hari, Nico terlelap di kursi panjang yang berada di kantor sekretariat padepokan. Warga padepokan yang melihatnya terlelap di kursi panjang terheran-heran. Agaknya, pemain film terkenal seperti dia tidak harus beristirahat di tempat yang mewah.



Jika kantuk sudah menyerang, ia bisa terlelap di mana saja. “Kalau ngantuk di sela-sela syuting, ya tidur sekejap. Tapi itu jarang aku lakukan karena akan mengganggu konsentrasi,” ujarnya setelah bangun. Tumpengan yang diadakan kru film Drupadi digelar di rumah seniman monolog, Butet Kertaradjasa, sekitar 30 meter dari padepokan. Acara itu dihadiri Riri Riza, sang sutradara, Dian Sastro pemeran Drupadi, Butet, Jadug, dan seniman asal Yogyakarta lainnya.



22.00

Menuju Hotel Kirana yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari padepokan, Nicholas tampak lelah. Ia segera akan beristirahat untuk menampung energi, bekal untuk syuting yang akan dilakukan pukul 04.50 di kawasan Gunung Sempu, Bantul. “Besok harus bangun pagi.



Malam ini harus istirahat total,” ujar pengagum aktor peraih Oscar melalui film No Country for Old Men, Javier Barden, dan Leonardo Dicaprio itu.



Muhammad Syaifullah


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Dian Sastro-Nicholas Reuni
Lola Amaria Garap Film TKW
Stamina Darius Sinathrya Bak Atlet
Artika-Baim Hari Ini Menikah
"Roy Dipindah, Agar Apa-apa Lebih Mudah"
Zuma untuk Gwen Stefani
Wanda Hamidah Sibuk Seleksi Proposal
Ricky Martin "Koleksi" Dua Anak Kembar
Almira Tunggadewi, Nama Cucu Presiden

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk132091 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data