|
Tameng Imunitas untuk Kerapu Macan
Senin, 15 September 2008 | 21:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bagi seorang peneliti bioteknologi seperti Asmi Citra Malina, pulang ke Tanah Air berarti menghadapi risiko tak bisa lagi melanjutkan penelitiannya. Keterbatasan alat dan dana, serta kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan riset di dalam negeri sudah menjadi rahasia umum di kalangan peneliti.
Tapi, Asmi tak menyesali keputusannya kembali ke kampung halaman di Makassar setelah lebih dari lima tahun belajar di Jepang. Selain menerima dukungan dana penelitian dari Bank Dunia, perempuan 35 berusia tahun ini juga menerima penghargaan Fellowship For Women in Science 2008 dari L'Oreal-UNESCO, yang memberinya grant Rp 60 juta.
Berkat bantuan dana penelitian dari L'Oreal itu, Asmi bisa meneruskan penelitiannya tentang analisis penggunaan DNA sintetis dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). "Pada saat menyelesaikan studi Ph.D di Kagoshima University, ada keraguan dalam hati saya apakah setelah pulang nanti saya bisa melanjutkan penelitian karena biaya susah didapatkan. Tapi ternyata setelah kembali, ada banyak grant, baik dari pemerintah maupun swasta," tutur Asmi.
Gagasan meneliti DNA sintetis khusus ikan sebenarnya sudah direncanakan Asmi sejak staf pengajar program studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar, itu menyelesaikan studinya di Jepang. "Ikan kerapu adalah komoditas perikanan laut yang bernilai tinggi, tapi upaya budi dayanya terkendala oleh masalah penyakit yang menyebabkan kematian ikan," ujar Asmi.
Salah satu penyakit yang ditemukan pada ikan kerapu yang dibudidayakan di keramba jaring apung di laut adalah infeksi bakteri Vibrio sp yang mengakibatkan munculnya borok pada tubuh ikan dan pembusukan pada sirip. Tingginya kematian benih ikan kerapu juga disebabkan infeksi virus, terutama Viral Nervous Necrosis. "Virus ini diketahui menjadi momok bagi pembudi daya ikan di keramba jaring apung karena dapat menyebabkan kematian ikan hingga 100 persen," kata Asmi.
Selama ini, upaya pencegahan meluasnya penyakit itu dilakukan dengan menggunakan bahan kimia, misalnya antibiotik dan vaksin. Namun, pemberian antibiotik dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan perairan dan resistensi.
Pemberian vaksin dengan memasukkan antigen dari agen penular ke tubuh hewan untuk memicu kekebalan dan resistensi sebenarnya bisa dilakukan, tapi harga vaksinnya relatif mahal. Biaya pemberian vaksin juga bisa berlipat ganda karena vaksin bersifat spesifik terhadap agen penyakit tertentu sehingga pelaku budidaya harus membeli beragam jenis vaksin.
Riset yang dilakukan oleh Asmi bertujuan mencari zat lain yang dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh terhadap agen penyakit atau imunostimulan. Penggunaan imunostimulan bisa dijadikan alternatif sebagai upaya perlindungan terhadap serangan penyakit, karena dapat meningkatkan sistem kekebalan natural dan adaptif pada ikan.
"Jenis imunostimulan yang sangat potensial dan efektif meningkatkan kekebalan tubuh mamalia, ikan, dan udang adalah sekuens nukleotida spesifik yang disebut motif unmethylated cystidine phosphate guanosine (CpG)," katanya.
Selama ini, para ilmuwan telah menemukan cara pembuatan imunostimulan DNA sintetis yang sekuennya menyerupai CpG DNA bakteri, yang disebut CpG oligodeoxynucleotides atau CpG-ODN. Nah, DNA sintetis itulah yang berfungsi sebagai agen pertahanan terhadap penyakit pada vertebrata. Pada ikan, selain terjadi peningkatan respons imun, pemberian CpG-ODN pada ikan salmon Atlantik (Salmo salar) juga meningkatkan resistensi terhadap penyakit insang yang disebabkan oleh mikroba dan infeksi virus nekrosis pankreas.
Namun, jumlah penelitian tentang peran CpG-ODN pada sistem pertahanan tubuh ikan maupun hewan akuatik lainnya masih sangat sedikit dibandingkan terhadap mamalia. Asmi mengatakan penelitian mengenai pengaruh CpG-ODN terhadap ikan kerapu macan sangatlah penting untuk mencegah perluasan penyakit. "Penelitian ini memberikan informasi baru mengenai efek CpG-ODN terhadap ikan yang nantinya dapat memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang vaksin DNA," kata dia.
Berbeda dengan kekebalan dari vaksin yang tidak dapat diturunkan, imunitas yang dikembangkan oleh DNA sintetis ini akan diturunkan kepada keturunannya. "Pemberian cukup sekali, tapi keturunan yang dihasilkannya akan kebal terhadap berbagai penyakit," tutur Asmi.
Dalam riset yang akan berlangsung selama enam bulan, Asmi melakukan penelitiannya di beberapa tempat. Pengujian imunostimulan berupa penyuntikan DNA sintetis terhadap 200 ekor ikan kerapu macan dilakukan di Laboratorium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros di bawah bimbingan Prof Alex Rantetondok dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Pengujian respons kekebalan alami dan ekspresi gen-gen imun dilakukan di Laboratorium Imunologi dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin. Sedangkan penelitian tentang ekspresi gen-gen imun dilakukan di Laboratorium Genetika Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, lewat kerja sama dengan Odang Carman, staf pengajar di Departemen Budidaya Perairan, IPB.
Sebelum melakukan risetnya, Asmi akan kembali ke Jepang. Tapi jangan salah, kepergiannya bukan untuk pindah dan menetap di sana. "Hanya mengikuti pelatihan selama dua bulan sebagai bagian program Bank Dunia," ujarnya. "Sekarang ke Jepang cukup kerja sama saja, untuk training atau analisis sampel, tidak perlu pindah ke sana."
TJANDRA DEWI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|