TEMPO Interaktif, Jakarta: Kenyamanan sebuah kawasan kecil di abad ke-18 memikat hati Baron van Imhoff. Gubernur Jenderal Belanda ini menjadikan kawasan itu lokasi peristirahatannya. Ia membangun Buitenzorg, yang berarti sebuah tempat rehat untuk lepas dari masalah, pada 1744. Dari nama itulah lidah penduduk lokal menyebutnya “Bogor”.
Kini abad berganti. Buitenzorg yang pernah molek kini terlihat kaku. Pohon-pohon tua di sisi-sisi jalan kota, misalnya, telah ditebang dan berganti menjadi deretan pertokoan. Kota yang identik dengan talas ini belakangan juga dikenal sebagai kota sejuta angkot (angkutan kota), yang membikin wajah Bogor tampak kian semrawut. Keadaan yang memprihatinkan ini menggugah kepedulian sekelompok anak muda.
Pada akhir 2006, mereka, di antaranya Komunitas Peduli Kampung Halaman (Kalam), Lembaga Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor (P4W- IPB), dan perwakilan media lokal, saling bertukar pikiran mengenai keadaan Bogor mutakhir. "Kesimpulannya, Bogor sudah tidak nyaman," kata Ridha Muhammad Ichsan, 26 tahun, salah seorang peserta pertemuan.
Mereka lalu berinisiatif melakukan perubahan. Pada 24 Februari 2007 dibentuklah sebuah komunitas yang diberi nama Kampoeng Bogor. "Kami ingin menjadikan Kota Bogor lebih indah, nyaman, dan aman," ujar Febri Sastiviani Putri Cantika, 22 tahun, dari Divisi Humas Kampoeng Bogor, Senin lalu.
Pengumpulan data-data tentang Bogor, mulai dari literatur, sejarah, sampai kebudayaan, menjadi fokus kegiatan mereka. Untuk mendapatkan berbagai data itu, komunitas yang anggotanya kini berjumlah 50 orang itu dibagi dalam beberapa kelompok.
Menurut Anggit Saranta, anggota komunitas dari bagian data dan investigasi, metode penggalian data yang dilakukan adalah melingkar ke arah luar. "Pusatnya adalah Istana Bogor," ujar laki-laki berumur 27 tahun itu.
Dan itu tak mudah. Beberapa tulisan masih dalam bahasa Belanda dengan ejaan lama. Beberapa narasumber yang ditemui pun, kata Ridha, yang juga Koordinator Kampoeng Bogor, sudah tidak terlalu ingat perihal keadaan kota kelahiran mereka zaman dahulu.
Tapi ada juga hasilnya. Beberapa orang menitipkan barang-barang peninggalan masa lalu, seperti senjata, alat musik tiup, kompor, setrika, lencana organisasi Tionghoa, serta foto-foto dan peta Bogor tahun 1800.
Mereka mengemas kumpulan data dari penelusurannya dalam bentuk artikel. Juga dibuat sebagai pesan dalam berbagai merchandise, seperti kaus, pin, mug, dan kartu pos. Ada pula yang dibuat dalam bentuk film. Di antaranya film berjudul Bogor Botanical Garden for Society karya Irsa Hutama. Film tersebut berawal dari keprihatinan mereka lantaran Kebun Raya Bogor kurang dikenal ketimbang tempat wisata lain di kota itu.
Hasil temuan itu juga dipublikasikan melalui berbagai macam acara, dari road show, seminar, workshop, sampai pameran. Itu dilakukan, menurut Uthie, untuk menumbuhkan rasa peduli dari masyarakat agar dapat bergerak bersama dan melakukan sesuatu untuk Bogor.
Namun, komunitas ini menyadari tidak mungkin mengembalikan Kota Bogor seperti sedia kala. "Tapi kami harus tetap menjaga apa yang tersisa," kata Febri. Sebab, bagi mereka, Bogor bukan hanya kota, tapi sebuah rumah yang harus dijaga agar semua orang merasa nyaman tinggal di dalamnya.
Eka Utami Aprilia