TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Puluhan siswa Sekolah Menengah Atas 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, unjuk rasa meminta pimpinan sekolah mundur. Para murid menuding pimpinan tempat mereka belajar sering berbuat senonoh: mengajak siswa masuk ke ruangan dan meminta melepas baju. "Kami jadi takut," ujar Chery K, salah satu siswa SMA itu.
Poster yang bertuliskan minta agar pimpinan diganti dibentangkan para siswa. Aksi mereka tak berlangsung lama, setelah beberapa guru meminta para siswa bubar. Tudingan pelecehan seksual sudah menjadi gunjingan di lingkungan sekolah.
Sebelumnya, sejumlah siswa didampingi oleh beberapa guru mengadu ke seorang tokoh, Kiai Haji M Fuad Riyadi, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah, Pleret, Bantul. Menurut Fuad, mereka datang pada Jumat kemarin. "Mereka mengaku takut pada pimpinan sekolah ketimbang hantu," kata Fuad.
Fuad yang jug guru bahasa Indonesia di SMA tersebut menjelaskan, perbuatan pimpinan itu tak bisa dibenarkan. Sudah banyak korban. Modusnya, pimpinan pura-pura memanggil siswa. Setelah datang, siswa tak boleh keluar dan pintu ruangan dikunci. "Siswa yang dipanggil disuruh membuka pakaian dan dipegang kemaluannya."
Sewaktu unjuk rasa, pimpinan sekolah yang dimaksud tidak berada di tempat. Upaya wartawan untuk konfirmasi belum diperoleh. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul, Sudarman, mengatakan akan menindaklanjuti tuntutan siswa itu. "Nanti saya klarifikasi kepala sekolah yang bersangkutan untuk ditidklanjuti,” janjinya.
Muh Syaifullah