Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
[an error occurred while processing this directive]
   

Medvedev: Kami Tak Takut Apa Pun, Termasuk Perang Dingin
Rabu, 27 Agustus 2008 | 11:00 WIB

TEMPO Interaktif, Moskow: Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengaku tak takut akan imbas pengakuan kemerdekaan negara bagian Georgia, termasuk kemungkinan meletusnya perang dingin. Kemarin pemerintah Rusia mengumumkan pengakuan kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan.

Pengumuman Medvedev ini mengabaikan permintaan kuat dari negara penentang, Eropa dan Amerika Serikat, dan mensinyalkan keinginan pemerintah Kremlin untuk negara tetangganya meski dengan risiko memutuskan hubungan dengan Barat.

"Kami tak takut apa pun, termasuk kemungkinan Perang Dunia," ujar Medvedev usai pengumuman kemerdekaan dan satu hari setelah parlemen mendukung pengakuan kemerdekaan ini seperti dilansir Associated Press, Rabu (28/8).

Meski risiko benturan militer dengan Barat belum terlihat, kurangnya diplomasi tingkat tinggi antara Gedung Putih dan Kremlin telah menambah kegelisahan, setidaknya mengeskalasi krisis.

Medvedev juga mengatakan militer Rusia akan bereaksi atas sistem pertahanan rudal Amerika Serikat di Eropa. Washington mengatakan sistem itu guna membalas serangan dari Iran dan Korea Utara, namun Rusia mengatakan sistem itu diarahkan untuk melumpuhkan nuklir Rusia.

Pernyataan Medvedev yang ditayangkan nasional televisi, menginspirasikan perayaan di jalan-jalan. Di ibukota Ossetia Selatan, Tskhinvali, sebuah parade mobil mengibarkan bendera Ossetia Selatan dan Rusia serta membunyikan klakson, wanita menangis bahagia dan para pria menembakkan senjatanya ke udara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang terkejut dengan cepatnya respon Rusia, mengancam memveto di Dewan Keamanan agar Rusia meminta pengakuan internasional atas daerah itu.

"Abkhazia dan Ossetia Selatan dikenal internasional sebagai bagian dari Georgia dan akan tetap seperti itu," ujar Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice.

Jerman dan Perancis juga mengkritik keputusan Medvedev itu, sementara Kementerian Luat Negeri Inggris mengatakan hal itu "tidak meningkatkan prospek perdamaian di Kaukasus."

AP | RIEKA RAHADIANA


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Merkel: Georgia Akan Menjadi Anggota NATO
Pasukan Rusia Tetap Berada di Georgia
Rusia Gunakan Bom Curah di Georgia
Traktat Pemusnah Bom Curah
Medvedev Presiden Baru Rusia
Medvedev Terpilih Sebagai Presiden Rusia
Benazir Bhutto Tewas
Kontroversi Keinginan Presiden Putin Jadi Perdana Menteri
Putin Jagokan Dmitry Medvedev
Aneka Tudingan Mempersoalkan Kemenangan Putin
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk132498 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data