TEMPO Interaktif, Jakarta : Skenario final yang mempertemukan Indonesia A melawan Libya dalam final Piala Kemerdekaan atau Pertamina Independence Cup 2008 tampaknya hampir mendekati kenyataan.
-- @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->
Pertemuan kedua tim favorit juara itu di babak semifinal tidak akan terjadi setelah Tim Indonesia A tampil sebagai juara Grup B, setelah menghancurkan Myanmar 4-0 dalam laga terakhir grup di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin malam (25/8).
Kemenangan Indonesia itu sudah diramalkan Pelatih Libya Gamal Adeen Abu-Nowara sebelum duel itu berlangsung. “Saya melihat Indonesia akan melaju ke final. Sejauh ini, Indonesia A adalah tim terbaik dalam turnamen ini. Saya sangat senang jika bertemu Indonesia A di final,” ujar Abu-Nowara, seperti yang dikutip dari situs resmi PSSI.
Namun, bukan berarti kedua tim bisa melenggang mudah ke laga puncak yang akan digelar pada 29 Agustus mendatang. Tim Indonesia A harus berjibaku dulu melawan adik-adik mereka, Indonesia B, yang berisikan pemain-pemain U-21. Sedangkan Libya harus ekstra hati-hati menghadapi tantangan Myanmar.
Peringatan itu meluncur dari mulut Bambang Nurdiansyah dan Marcos Antonio Falopa, arsitek Tim Indonesia B dan Myanmar. ”Saya akan meminta pemain tampil habis-habisan. Hanya dengan begitu mereka akan mendapat sesuatu dari turnamen ini. Saya juga berharap Tim Senior tampil serius agar pertandingan jadi menarik dan kedua tim sama-sama mendapat pengalaman,” ujar Bambang.
Adapun Marcos, kendati optimistis, namun dia lebih memilih untuk merendah. ”Kami akan berusaha bermain lebih baik lagi di semifinal. Peluang kami dan Libya sama, 50-50. Kami tetap optimis melaju ke final,” ujar Falopa yang berpaspor Brasil.
BOBBY CHANDRA