TEMPO Interaktif, Jakarta: Akhir pekan merupakan waktu yang tepat buat menanggalkan semua rutinitas. Selepas lima hari kesibukan, tiba saatnya Anda memanjakan diri dengan spa. Bila Anda ingin melewatkan akhir pekan yang nyaman, silakan datang ke Life Tree Spa, yang berada di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tempat yang mulai beroperasi pada awal Agustus ini bisa jadi salah satu alternatif.
Debra Maria Rumpesak, Direktur Life Tree Spa, mengatakan kebiasaan memanjakan diri, memberikan rasa rileks dan ketenangan, merupakan cara yang dilakukan pribadi yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Wanita yang biasa disapa Maria ini menilai kehidupan di kota besar dengan tuntutan dan ritme kehidupan yang cepat membuat banyak orang dilanda rasa hampa dan kekosongan. "Akibatnya, seseorang ke spa untuk memanjakan diri," ujarnya.
Spa berasal dari kata solus per aqua, artinya pengobatan atau perawatan dengan air. Pengobatan ini dikenal sejak zaman Mesir Kuno dan tercantum dalam kepustakaan medis sejak 1500 SM bertajuk Rig Veda, yang berarti perawatan air untuk penyembuhan dan keseimbangan hidup. "Spa membantu seseorang menyatu bersama alam, membantu penyembuhan diri dari perasaan hampa untuk mencapai keseimbangan fisik dan psikis," Maria menerangkan.
Mengusung pendekatan holistik, Debra yakin tempatnya tak sekadar untuk memanjakan diri. "Yang datang ke sini akan mendapatkan kesehatan, kebugaran, menyembuhkan tubuh, mental dan spiritual sebagai satu kesatuan."
Datang ke lokasi seluas 500 meter persegi ini, kita seolah berada di dunia lain. Meski lokasi berada di pinggir jalan sibuk Fatmawati, kita mesti jalan masuk ke tempat yang agak tersembunyi. Di sini pengunjung seperti merasakan keteduhan, kesejukan yang pas. Belum lagi sayup-sayup terdengar bisik angin yang mirip musik indah memainkan daun-daun pohon kelapa yang bergesekan. Alas rumput hijau segar seolah menjadi permadani.
Tempat ini memiliki empat bangunan utama. Tiap bangunan dirancang sebagai rumah dengan dua hingga empat tempat tidur untuk spa dan kamar mandi. Setiap rumah memakai semua komponen pohon kelapa. Dinding dan alasnya terbuat dari batang kelapa, atapnya dari dedaunan kelapa.
Pernik furnitur di dalamnya pun dari pohon kelapa. Sepintas seperti di rumah-rumah khas di kawasan Ubud, Bali. "Sengaja dirancang dengan sensasi pohon kelapa yang kami anggap sebagai pohon kehidupan. Makna tempat ini pun sama dengan pohon kelapa sebagai pohon kehidupan," Maria menambahkan.
Warna serta interior di sini memadukan hijau dan cokelat. Lagi-lagi itu mewakili warna kelapa. Untuk semua bahan perawatan, spa ini menggunakan produk Cocona, yang terbuat dari minyak kelapa asli atau virgin coconut oil. Maria mengatakan minyak kelapa memiliki reputasi tinggi dan sangat dihormati dalam kebudayaan-kebudayaan lokal di Indonesia, terutama di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Dipercaya sebagai tradisi warisan nenek moyang. "Seperti filosofi pohon kelapa sebagai pohon kehidupan, mulai dari akar, batang, daun, pelepah sampai buahnya bisa digunakan."
Adapun perawatan yang tersedia misalnya Jati Diri Healing Message, berupa pemijatan penyembuhan yang mengandalkan sentuhan spiritual yang memberikan aliran energi positif. Diawali perendaman kaki di air hangat yang diletakkan di wadah yang terbuat dari pelepah kelapa yang diberi campuran aroma terapi mint untuk sensasi rasa segar. Dilanjutkan pijatan khusus dengan teknik pemijatan jalinan otot-otot yang lelah. Terapi yang paling diminati ini berlangsung 70 sampai 100 menit. Ongkosnya Rp 125 hingga Rp 150 ribu.
Paket Foot Spa atau refleksologi kaki juga ada. Cuma Rp 60 ribu, Anda bisa menikmati pijat refleksi selama 60 menit dengan produk dari bahan kelapa. Kemudian tersedia Spiritual Facial, yang memberikan sensasi spiritual melalui totok wajah dan pembersihan aura untuk mempercantik wajah dan menggali inner beauty. Selain itu, tempat ini menyediakan program Healing Therapy (motivasi diri) yang berlaku untuk lima sampai enam orang.
Liani, seorang pengunjung, mengaku puas dengan fasilitas dan pelayanan di sini. "Satu kritik dari saya, bila ke sini di sore hari dan menjelang magrib, saya masih mendapati nyamuk yang tidak bersahabat dan mengganggu. Namun secara keseluruhan saya suka tempat ini," ujarnya.
Hadriani P