|
Energi Terbarukan Sosuli Krisis Listrik
Kamis, 21 Agustus 2008 | 14:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Greenpeace, organisasi lingkungan, mendesak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro segera mengembangkan energi terbarukan untuk mengatasi krisis listrik di Indonesia. Sonki Prasetya, juru kampanye iklim dan energi untuk Greenpeace Asia Tenggara, mengatakan bahwa kurang lebih 60 persen kebutuhan listrik Indonesia dapat dipenuhi dari sumber energi terbarukan pada 2050. "Ini bisa mengurangi ketergantungan Indonesia akan impor bahan bakar fosil, menyediakan listrik murah bagi masyarakat dan mengatasi krisis energi," kata Sonki. Sonki menjelaskan, Indonesia mempunyai potensi sumber daya panas bumi yang mampu memasok listrik sebesar 27 ribu megawatt. Itu setara dengan 40 persen cadangan panas bumi di dunia. Meski punya potensi besar, namun pengembangan listrik panas bumi di Indonesia masih terkendala investasi akibat belum adanya penetapan harga jual listrik yang pasti. Sonki menilai tindakan pemerintah mengatasi krisis energi dengan cara memberlakukan pemadaman bergilir bukan merupakan jalan keluar yang berkelanjutan. Greenpeace menyatakan meminta Menteri Energi untuk segera memenuhi target untuk mengingat pemanfaatan sumber daya energi terbarukan, menetapkan kebijakan dan insentif fiskal untuk menarik investasi di bidang teknologi energi terbarukan, serta membuat peraturan yang jelas tentang pelaksanaan proyek energi terbarukan untuk mengurangi birokrasi dan interpretasi ambigu dari peraturan yang ada. Saat ini, pemerintah dan PLN berusaha menekan konsumsi listrik dengan kebijakan penghematan listrik melalui Surat Keputusan Bersama lima menteri untuk industri, dengan cara menggeser waktu hari kerja. Baru sekitar 2.600 industri yang berpartisipasi, sehingga penghematan yang diperoleh baru sekitar 180 megawatt per hari dari target 600 megawatt per hari.Untuk industri yang tidak bisa menggeser waktu kerjanya, atau harus operasi selama 7 hari, PLN meminta untuk menggunakan pembangkit sendiri selama satu hari dalam satu bulan. Nieke Indrietta
INDEKS BERITA LAINNYA :
|