TEMPO Interaktif, Jakarta: Beragam klinik kecantikan dan perawatan tubuh bagi kaum Hawa kian laris. Geliat industrinya seperti jamur di kala hujan. Sonya Go, 48 tahun, tercatat sebagai salah satu pemilik klinik Holistic Centre yang menekuni bidang kesehatan dan kecantikan di Indonesia.
Selama 16 tahun terakhir, ia mendalami akupunktur, yang memberi solusi atas kedua hal itu. "Lewat akupunktur, seseorang bisa cantik dan sehat. Namun, bukan cara instan. Seperti filosofi kehidupan, seseorang harus menjalani proses," tutur dokter berwajah cantik ini.
Kliniknya tak hanya menyediakan akupunktur, tapi juga <double radio frequency (RF), dermosing, termoslim, copo, radar smooth, synergica multicolor, beauty defect repair, beauty flash, injeksi botox, derma roller, terapi untuk selulit, hingga pengencangan kulit melalui mesotherapy dan pembungkusan dengan sistem electrode muscular stimulation.
Di mata penggemar buku ini, kecantikan hakiki merupakan sesuatu yang bisa membuat seseorang tampil lebih percaya diri dan nyaman. Dia tertarik dengan akupunktur lantaran merasa ingin berbuat sesuatu. Ia menyebut tugas idealnya menolong orang lain yang merasa tidak cantik atau kurang menarik.
"Tetapi tuntutan perasaan kurang nyaman dan tidak percaya diri karena gemuk, wajah berjerawat, kulit kusam, rambut rontok, faktor usia, dan lainnya mengakibatkan seseorang minder, depresi, bahkan frustrasi ingin mengakhiri hidup," ujarnya.
Maka Sonya tergerak menghadirkan klinik Holistic Centre. Diakuinya, sikap empati yang muncul setelah menyaksikan sikap ketidakadilan lantaran seseorang dinilai kurang cantik atau menarik. Dia menyebutkan, maraknya kasus perceraian dan perselingkuhan, salah satu pemicunya adalah masalah pasangan yang dinilai tak lagi cantik atau mengalami perubahan bentuk tubuh. "Saya selalu bilang kepada pasien, menjadi cantik dan sehat harus holistik, bukan instan," dia menambahkan.
Toh, penyuka tahu-tempe itu kadang khawatir dengan pandangan keliru publik. Setelah menjalani akupunktur, mereka merasa sukses mempercantik diri, tapi tak mengubah gaya hidup dan pola makan. "Bila konsisten setelah menemukan kepercayaan diri lebih baik lagi, ya, mesti dijaga, bukan membabi buta. Sekali lagi, kecantikan itu harus luar-dalam," ucapnya. Dia menggarisbawahi, seseorang yang mengunjungi klinik memang harus jeli.
Wanita yang masih menawan dalam memasuki usia setengah abad ini bilang terjun ke bidang itu lantaran kakaknya menderita kanker. "Saya ingin menolongnya," katanya lirih. Namun, Tuhan berkehendak sang kakak meninggal sebelum Sonya berhasil menolong. Dia pun menekuni dunia medis yang bisa mengobati tanpa rasa sakit. "Jawabannya akupunktur. Ini mungkin sebagai panggilan hati."
Sebelumnya, wanita berambut ikal ini pernah nyemplung di sekolah seminari. Pasalnya, sejak kecil ia asyik pada diri sendiri. "Saya cenderung tomboi, tapi tak suka bersosialisasi. Ke sana demi keseimbangan," ucapnya.
Akhirnya, anak keempat dari lima bersaudara ini memperoleh keseimbangan. Sonya pun bisa bergaul dan memahami orang lain. Bahkan sempat terpikir ingin mengabdi menjadi pelayan Tuhan saja. Namun, dia menyadari tak pandai bicara. "Maka dari (akupunktur) ini saya menemukan kebahagiaan hakiki memahami, mengenal, dan menolong orang lain," tuturnya.
Hadriani P