TEMPO Interaktif, Jakarta:Menulis telah menjadi bagian hidup keseharian Dewi Lestari. Sejak 1993 perempuan yang akrab dipanggil Dee itu menuangkan pikirannya. Ketika itu dia memberanikan diri melayangkan tulisannya ke majalah Gadis, yang tengah mengadakan lomba menulis. Hasilnya pengarang Supernova itu meraih hadiah pertama.
Setelah itu beragam tema ditulisnya. Salah satu yang fenomenal adalah Supernova. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari, dan terjual hingga lebih kurang 75 ribu eksemplar itulah yang kemudian mencuatkan namanya di jagat sastra.
Terakhir Dee menulis cerpen berjudul Perahu Kertas. Ada yang istimewa di sini. Dia sengaja menggunakan teknologi ponsel dengan menggunakan operator PT Exelcomindo Pratama (XL), untuk menyebarkan gagasan pikirannya. Cerpen yang digarap selama 2 bulan ini menurutnya spesial.
Spesial di sini meski masih sedikit peminat sastra yang membaca lewat ponsel, menurutnya tidak sepenuhnya benar. Ibu Keenan Sidharta itu mengaku hingga kini peminat sastra yang telah mengunduh Perahu Kertas mencapai 500 ribu orang pelanggan XL. Jumlah itu kebanyakan mengunduh cerpen Dee melalui layanan 3G.
"Lumayan jumlah pengunduh Perahu Kertas mencapai 500 ribu pelanggan," ungkap Dee.
Dee menceritakan cerpen Perahu Kertas ini adalah karyanya 11 tahun yang lalu. Dikarenakan kesibukannya yang melimpah karangannya baru bisa dia tuangkan. Bukan itu saja, Dee mengaku ide awal menuangkan cerpennya kali ini karena hanya operator XL yang bersedia memasarkannya.
"Saya baru mendapatkan momentumnya saat ini," lanjut perempuan yang mengaku tengah mempersiapkan album solonya tersebut.
Perahu Kertas menceritakan kisah percintaan. Dee membuat ini untuk kalangan SMA hingga anak-anak bangku kuliahan. Khusus pelanggan XL bisa mengunduh kisahnya ke dalam 12 bab. Secara khusus Dee menyebut karyanya yang terakhir ini sebagai bayi yang tengah kita tunggu bersama. Itu dituangkannya ke dalam blognya, www.dee-55days.blogspot.com.
Dalam blognya tak lupa Dee mempersilahkan penggemarnya berkomentar. Salah seorang penggemarnya berkata “Setelah kontrak 6 bulan selesai, apakah PK dapat diterbitkan menjadi novel? Karena sejujurnya saya merasa 'sayang' kalau PK hanya bisa dinikmati oleh 'segelintir' orang, plus kurang nyaman membaca di handphone. Saya tidak bisa membaca sesuka hati di angkot, sambil nongkrong di WC, dan sebagainya. Hahaha.. :-)”.
Cara mengunduh Perahu Kertas lumayan gampang. Ada dua versi. Pertama versi non 3G dan 3G. Bagi Anda pemilik ponsel berlayanan XL biasa, Anda tinggal mengetik REG(spasi) DEE. Kemudian mengirimkannya ke alamat 3450. Untuk menghentikan langganan Anda tinggal mengetikkan UNREG (spasi) kemudian kirim ke 3450.
Bila Anda pelanggan XL 3G anda tinggal mengunjungi WAP XL 3GLwap.lifeinhand.com. Ketika masuk ke dalam layanan Anda tinggal pilih layanan digital novel. Setelah itu pilih Dewi Lestari, kemudian pilih Perahu Kertas. Setelah masuk Anda akan dihadapkan kepada cara pembelian.
Pertama Anda akan ditanya apakah ingin mengunduh dengan cara berlangganan. Kedua apakah Anda akan membeli layanan tersebut per bab. Soal biaya juga dibagi ke dalam dua buah. Bila ingin berlangganan Anda akan dipungut bayaran Rp 2000/wap-push (pengiriman konten) setiap minggunya.
Pembeli eceran juga akan dilayani. Setiap pengunduh akan dikenakan pungutan per bab atau eceran Rp 5000/wap-push (per pengiriman konten).
Dee yang super sibuk tak lupa menuangkan buah pikirannya. Dia berpesan Selamat Membaca, Selamat Berlayar.
Bagus Wijanarko