Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
[an error occurred while processing this directive]
   

Wondama, Nyanyian di Tanah Impian
Senin, 18 Agustus 2008 | 13:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Matahari sore menyapa saya di leher kepala burung Provinsi Papua Barat. Rasa letih melilit sekujur tubuh selepas penerbangan panjang dari Jakarta. Saya turun menginjak tanah padat di pinggiran Bandara Wasior. Wajah-wajah lugu berkulit legam, tak beralas kaki, mencoba mendekati pesawat twin otter. Anak-anak Papua.

Beberapa petugas tengah menyiapkan drum-drum avtur sebagai bekal pesawat kembali terbang. Lalu sejumlah sepeda motor dan pick-up menghampiri, menjemput 15 penumpang yang baru tiba. Di ujung landasan yang hanya sepanjang 600 meter, beberapa ekor sapi merumput dengan santai ditemani anjing-anjing kampung.

Inilah ujung perjalanan satu hari yang cukup menyebalkan: empat jam terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, kami harus transit selama empat jam di ibu kota Provinsi Papua Barat, Manokwari, hanya untuk menunggu cuaca cerah. Menyebalkan bukan karena lama menunggu, melainkan lantaran kondisi Bandara Rendani, Manokwari, yang kotor. Lalat beterbangan kian-kemari, hinggap dengan riang di atas liur sirih yang diludahkan orang di sembarang tempat. Di lantai, dinding, bahkan tempat duduk kayu tampak bekas-bekas liur sirih merah darah.

Bagi masyarakat asli Papua, menyirih seperti makan kudapan saja. Buah pinang dan daun sirih dicampur kapur karang laut, lalu dikunyah beberapa menit sampai berwarna kemerahan. Celakanya, air sirih itu mereka ludahkan ke mana suka.

Setelah empat jam menanti, cuaca tak kunjung cerah. Perjalanan, apa boleh buat, kami lanjutkan di tengah udara berkabut. Lima puluh menit di dalam pesawat twin otter pada ketinggian 2.500 meter terasa begitu lama. Dari balik jendela kecil, gugusan awan putih tampak menyelimuti hutan rimba Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sesekali terlihat gugusan pulau kecil nun jauh di bawah. Tubuh kami bergetar oleh gerakan naik-turun pesawat akibat terpaan angin yang cukup kencang. Seandainya cuaca bagus, saya tentu bisa mendapat foto udara lanskap hutan dan geografis alam Papua Barat.

Akhirnya, tiba juga kami di tujuan.

"Selamat datang di Kabupaten Wondama," seorang lelaki muda berbadan besar menyapa saya. Namanya Franki, utusan Bupati Alberth H. Torey. Dia menjemput saya dengan jip 4 WD. Kami menuju ke kediaman Bupati, sekitar tiga kilometer dari bandara. Dalam perjalanan singkat itu, Franki sempat menuturkan asal-usul nama Wondama. Wondama berasal dari kata won dan dama. Won berarti orang-orang yang ditakdirkan. Dama bermakna tinggal di sini. Wondama berarti orang yang ditakdirkan tinggal di daerah ini.

Jip kami memasuki Wasior, ibu kota Kabupaten Wondama. Kota ini mirip ibu kota kecamatan di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Sepanjang perjalanan, tegak beberapa warung makan Jawa dan Makassar, satu toko serba ada kecil, dan pasar sederhana. Tidak ada hotel, bioskop, pompa bensin, apalagi mal. Sebagian kota berbatasan dengan pantai di teluk kecil.

Pak Bupati menyodorkan alasan tentang minimnya fasilitas umum saat kami berbincang sembari mencicipi ikan bakar ditemani secangkir kopi manis. Kabupaten Wondama, menurut dia, merupakan kabupaten terbaru di Indonesia. Status otonominya baru diperoleh pada 2003. Wilayah ini hasil “pemekaran” Kabupaten Manokwari, yang sekarang menjadi ibu kota Provinsi Papua Barat. Singkatnya, dia minta agar dimaklumi.

Saat matahari makin condong ke barat, saya menyusuri jalan aspal menuju Dermaga Kuripasai, sekitar satu kilometer dari Wasior. Di kanan-kiri jalan berderet rumah-rumah kayu. Dermaga ini terletak di sebuah teluk kecil yang dilingkungi pulau-pulau mungil. Lautnya sebening kristal dan bebas polusi. Ikan-ikan kecil berenang hilir-mudik terlihat begitu jelas. Sebuah kapal kayu yang biasa melayari rute Wasior-Manokwari bersandar di dermaga. Beberapa warga duduk di pinggir dermaga menanti matahari senja. Begitu matahari merah tenggelam perlahan, di kejauhan tampak perahu nelayan pulang surut. Siluet perahu dalam semprotan warna merah menggetarkan sampai ke relung hati.

***

Keesokan harinya, Franki mengajak saya ke sejumlah tempat di Distrik Wasior Utara. Menggunakan perahu cepat bermesin tunggal, kami melaju ke Pantai Apuwomaduri. Pelayaran 50 menit membawa kami ke sebuah pulau mungil berpasir putih. Honai (rumah panggung kayu) dibangun di tengah pulau. Ribuan burung camar sedang beristirahat di pantai--di pantai ini pula mereka mencari makan. Kami berjalan perlahan mengendap-endap menuju honai supaya tidak mengagetkan kawanan unggas itu. Sia-sia. Mereka ternyata tetap mencium kehadiran kami dan terbang berarakan dalam seketika.

Toh, dari dalam honai, saya tetap dapat mengamati dan mengambil foto burung-burung tersebut. Menurut Franki, Pulau Apuwomaduri telah tiga kali berpindah tempat. Honai pun sudah tiga kali dibangun. Para nelayan atau penduduk Wondama menggunakan honai untuk beristirahat atau berlindung dari badai saat terjebak di tengah laut. Setengah jam mengamati kawanan burung, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Wasiowis.

Air dari ketinggian sepuluh meter terjun bergemuruh ke bawah membentuk telaga. Pasir pantai memisahkannya dengan lautan luas. Franki langsung mencebur ke telaga. Saya mengikutinya. Air tawar terasa dingin menyegarkan di tengah terik matahari. Apalagi, hanya dua meter dari telaga--hanya dengan melewati pasir pantai--saya dapat langsung berenang di laut. Di batu karang di pinggir telaga, saya menyandarkan tubuh, meresapi angin semilir dari bukit. Dari sebalik semak nun di atas bukit, tampak tanduk rusa bermunculan.

Tak terasa sudah lima jam kami berada di Air Terjun Wasiowis ini. Tubuh semakin legam dibakar matahari, tapi sebanding dengan kepuasan menyaksikan fenomena alam liar sekaligus permai. Dalam perjalanan pulang, saya menyaksikan ribuan burung bergerak menuju Pulau Apuwomaduri. Bergerombol membentuk formasi panjang, mereka melayang di antara bias matahari petang yang turun perlahan di ujung horizon: indah seperti lukisan, seperti panorama di sebuah tanah impian.

***

Pukul 06.30--waktu di Papua dua jam lebih awal dibanding Jakarta--saya dan semua warga Wondama berkumpul di Dermaga Kuripasai. Sepuluh perahu kayu sudah dihiasi aneka umbul-umbul kain dan bendera merah-putih. Di atas perahu, belasan warga berpakaian adat Papua menari beralaskan papan kecil. Mereka menari dan menabuh gendang kayu. Inilah pesta adat pertama yang diselenggarakan menyambut sebuah kapal putih bernama KM Labobar. Ini kapal besar untuk penumpang yang melayani rute Tanjung Priok-Jayapura dan akan singgah untuk pertama kalinya di pelabuhan Kabupaten Wondama.

Saya menaiki sampan kayu yang memuat empat orang. Duduk pada selembar papan selebar satu meter membutuhkan keseimbangan tubuh. Di depan saya ada seorang juru arah, di buritan duduk juru mudi, dan tepat di belakang saya seorang lelaki pemangku adat berdiri. Dialah yang melantunkan bait-bait lagu ini:

Aku teringat manis senyummu
dalam kesepianku
kau datang dan membangunkan aku
Sejak matahari di atas puncak
Engkau tampil cerah
Engkau tampil cantik
di telukku yang indah dan permai
Tua, muda, besar, kecil, datang berduyun
mengharapkan engkau dan melihat dari dekat
mendatangi dan berlabuh indah
di dermagaku yang gagah
di telukku yang indah dan permai

Syair lagu berjudul Sanetiar (“Aku Teringat”) dalam bahasa Wondama itu terus diulang. Perahu melaju kencang didorong mesin berdaya 30 PK. Saya berpegangan erat pada bilah papan untuk menjaga keseimbangan. Setelah 15 menit perjalanan, di depan tampak KM Labobar dengan panjang 146 meter melaju menghampiri kami. Juru mudi melakukan manuver 180 derajat saat perahu mendekat dalam jarak 20 meter. Adrenalin saya meningkat saat KM Labobar amat dekat dari moncong perahu kami. Selanjutnya, perahu melaju pelan ke lambung kiri KM Labobar.

Saat penumpang KM Labobar berdiri ke arah kami, pemangku adat melemparkan dua buah piring keramik besar ke lambung KM Labobar. Selanjutnya, perahu melakukan manuver memotong jalan di depan KM Labobar dan untuk ketiga kalinya piring keramik dilemparkan ke arah moncong KM Labobar. Piring-piring tersebut adalah simbol penyambutan secara adat Wondama.

Begitu KM Labobar mendekati dermaga, sekumpulan ibu-ibu berteriak, menari, sambil menangis, mengacungkan piring-piring keramik. Mereka bersukacita dalam tangis haru karena keterisolasian wilayah Wondama akan sirna setelah dijadikan salah satu singgahan kapal penumpang yang melayari rute Jakarta-Jayapura. Akhirnya KM Labobar merapat tanpa hambatan di Kuripasai. Kapal berkapasitas 3.000 penumpang itu adalah kapal pertama yang berlabuh di Kabupaten Wondama.

***

Keesokan harinya, saya sudah berada di atas perahu bermesin. Enam buah drum berisi solar disiapkan sebagai bahan bakar cadangan. Bahan makanan berupa beras, mi kering, susu, dan segala jenis makanan kaleng, berikut bahan logistik seperti minyak tanah dan minyak goreng, dimasukkan ke dalam lambung speedboat.

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan mengunjungi Pulau Auri. Secara kebetulan, Kepala Desa Ransiki dan keluarganya akan pulang dengan mempergunakan speedboat milik Pemerintah Kabupaten Wondama yang kami tumpangi. Tanpa perahu mesin ini, saya tidak mungkin bisa menempuh perjalanan--yang untuk solarnya saja bisa menghabiskan Rp 5-6 juta.

Waktu tempuh ke Pulau Auri dengan perahu kayu 6-7 jam, sedangkan dengan <I>speedboat<I> 80 PK hanya sekitar tiga setengah jam. Kami melewati hutan perawan sepanjang garis pantai. Di antaranya kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sesekali berpapasan dengan perahu kayu panjang milik warga Wondama, kami saling melambaikan tangan di tengah lautan. "Kamulah satu-satunya fotografer lokal (Indonesia) yang pernah menyambangi Pulau Auri," kata Franki.

Setelah perjalanan empat jam, kami memasuki Distrik Ransiki. Perahu mesin bergerak pelan melewati selat kecil dengan manuver zigzag. Hamparan terumbu karang (reef flat) di permukaan laut membuat kami harus meredam kecepatan. Saya sempat menyaksikan setidaknya delapan burung cenderawasih beterbangan di pepohonan di sebelah kiri pulau. "Inilah surga cenderawasih. Sayang, kita terlalu siang. Di pagi hari, kita dapat menyaksikan puluhan cenderawasih bergerombol pada pohon-pohon di pinggir pantai," kata Franki dari haluan.

Setengah jam kemudian, kami tiba di muara sungai. Bahan makanan dan logistik milik warga diturunkan dengan mempergunakan sampan kecil. Begitu pula istri dan anak kepala distrik. "Satu jam lagi kita tiba di Pulau Auri," kata juru mudi speedboat sesaat setelah meninggalkan Distrik Ransiki.

Tak lama kemudian, Pulau Auri menyembul di kejauhan dengan pasir putihnya. Rangkaian cemara pantai membentang di sekeliling pulau. Perahu mesin ditambatkan 20 meter dari bibir pantai. Kami berjalan di atas hamparan terumbu karang berwarna kehijauan yang menjorok hingga 100 meter ke tengah laut. Segerombolan ikan berenang dengan jinak di sekitar kaki kami. Ini salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. "Adik Pangeran Bernard dari Kerajaan Belanda pernah melabuhkan kapalnya sekitar tiga hari di Pulau Auri," kata Franki.

Kami bertemu dengan sekitar 20 warga Wondama yang menetap sementara di pulau ini. Mereka nelayan yang membawa anggota keluarganya mencari ikan di sekitar pulau dan membangun gubuk darurat. Biasanya tiga sampai tujuh hari mereka tinggal di sini sebelum kembali ke distrik masing-masing dengan membawa hasil tangkapan.

Tampak lima gubuk dari papan kayu dan daun kelapa didirikan 50 meter dari pantai. Di belakang gubuk terdapat tempat pengasapan ikan sederhana dari pelepah pohon kelapa. Di sebatang cemara besar ada sebuah dipan. Di dekatnya, para ibu sibuk membersihkan sisik ikan-ikan hasil tangkapan. Dua puluh meter ke arah hutan, terdapat sepuluh penyu hijau dan penyu sisik yang dikumpulkan dengan posisi tempurung terbalik. Tak tega saya melihat mereka, karena mata mereka sudah dibuat buta. "Penyu-penyu itu buat upacara adat," tutur Franki.

Saya berkeliling pulau bersama anak-anak nelayan. Mereka bertubuh hitam legam dibakar sengatan matahari, berambut ikal pendek khas Papua, dan bertelanjang dada. Amat cekatan mereka berjalan di bibir pantai pasir putih yang mengelilingi pulau seluas sekitar lima hektare ini. Salah satu dari mereka berlari ke dalam hutan dan lima menit kemudian menghampiri saya. Di tangannya ada seekor burung hitam keemasan. Burung emas! Ini burung langka, salah satu hewan endemic pulau-pulau Wondama.

Lebih dari tiga jam saya berada di Pulau Auri. Tak bisa lebih. Saya harus kembali sebelum gelap. Besok pagi, saya akan pulang ke Jakarta, meninggalkan keelokan surgawi di tanah yang begini perawan. (U Magazine)

Arie Basuki

 


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk131296 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data