|
Membaca Malaysia yang Lain
Minggu, 17 Agustus 2008 | 11:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Judul: Di Balik Malaysia: Dari Majapahit ke Putrajaya Penulis: Farish Ahmad Noor Penerbit: ZI Publications Sdn. Bhd., Petaling Jaya, Cetakan I, Juli 2008 Tebal: 226 halaman
Di mana tempat bagi suara-suara intelektual non-partisan di Malaysia kini? Sejak peristiwa "tsunami politik" pasca-pilihan raya umum (pemilu) ke-12 pada Maret lalu, praktis perbincangan politik di Malaysia didominasi oleh dua kubu: Barisan Alternatif yang dipimpin mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim, dan Barisan Nasional yang dikendalikan duet Perdana Menteri Abdullah Badawi-Wakil Perdana Menteri Najib Razak. Isu merosotnya perolehan kursi Barisan Nasional dalam pemilu segera berganti dengan tuduhan liwat yang konon dilakukan Anwar terhadap bekas asistennya, Mohd. Saiful Bukhari. Suhu politik ini akan terus memanas dan semakin sukar diprediksi bagaimana akhir dari episode drama politik mutakhir--setidaknya untuk jangka waktu yang pendek. Suara intelektual nonpartisan nyaris tak terdengar atau sengaja tak diungkap. Maklum, kultur sosial-politik setempat yang hegemonik masih belum memungkinkan bagi mereka untuk berbicara secara terbuka.
Dalam konteks inilah, saya melihat apa yang dilakukan Farish Ahmad Noor dan beberapa rekannya melalui proyek The Other Malaysia (www.othermalaysia.org) menjadi salah satu saluran alternatif untuk dapat mengetahui sisi lain di balik sejarah dan dinamika sosial-politik Malaysia. Proyek ini memang bertujuan untuk memulai kajian dan penulisan kembali sejarah Malaysia secara kritis dan obyektif, setelah sekian lama didominasi kalangan kelas menengah yang disegani.
"Agenda The Other Malaysia," tulis Farish, "bukan sekadar menggantikan suatu uraian hegemoni dengan yang lain, atau untuk mengatakan uraian dominan adalah salah semata-mata karena ia bersifat dominan; ataupun suara yang terpinggir perlu ditangani karena dipinggirkan." (h. 13)
Sebaliknya, kata Farish, tujuan mereka adalah membangun suatu dialog antara uraian dan tafsiran sejarah yang berbeda-beda untuk menghasilkan debat internal tentang apa arti rakyat Malaysia. Mereka hendak menekankan bahwa Malaysia tak mempunyai satu, tapi banyak, sejarah yang silang-menyilang.
Farish memang dikenal sebagai intelektual-aktivis Malaysia yang cukup kritis dan berterus terang--sering dijuluki "si nakal". Ahli sejarah berlatar belakang filsafat, kesusastraan, teori politik, dan pemikiran Islam ini, misalnya, pernah mengundurkan diri dari Universiti Malaya sebagai tanda protes terhadap pemecatan Prof Chandra Muzaffar dari kampus tersebut. Kini, selain menjadi fellow di Sekolah Kajian Internasional Rajaratnam, Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, dia juga menjadi profesor tamu di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lelaki asal Kedah ini cukup produktif menulis. Buku yang dibahas ini adalah karya terbarunya yang diluncurkan bulan silam. Buku berbahasa Malaysia ("bukan bahasa Melayu!"--kata Farish) ini sarat dengan gagasan tentang betapa bangsa Malaysia perlu bersikap lebih terbuka dalam melihat kekayaan warisan budaya dan tradisi sejarahnya, dan bagaimana semua itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan masyarakat Malaysia baru yang terbebas dari paham politik perkauman. Farish memilih pendekatan dengan menyorot beberapa tokoh terkenal dalam sejarah nasionalisme Melayu dan bagaimana pemikiran mereka dinilai masih relevan sampai sekarang.
Dalam buku ini, misalnya, dapat dibaca perasaan jengkel Farish terhadap budaya feodal penguasa dan penyalahgunaan wewenang atas nama Islam di Malaysia. Ia menuliskannya dengan kritis dan berterus terang. Tak mengherankan jika Farish dan proyeknya itu mendapat dukungan, tapi sekaligus kecaman, cemooh, fitnah, dan bahkan ancaman pembunuhan.
Farish tetap tak peduli. Menurut dia, para intelektual mesti berperan menuntut partai politik dan institusi di Malaysia agar peka terhadap keperluan rakyat Malaysia. Kalangan ini juga perlu mewujudkan budaya dan perjalanan politik negara yang plural dan inklusif. "Another Malaysia bukan suatu impian. Kita cuma perlu berusaha keras untuk menjadikannya suatu kenyataan," katanya. (Majalah Tempo)
Nasrullah Ali Fauzi, alumni Institut Kajian Malaysia dan Antarabangsa, Universiti Kebangsaan Malaysia.
INDEKS BERITA LAINNYA :
|