|
Raja Baja Dunia dari Sidoarjo
Sabtu, 16 Agustus 2008 | 22:04 WIB
KORAN TEMPO, Jakarta: Konglomerat mana yang tak kenal dengan Lakshmi Mittal? Dialah raja baja dunia yang pernah menetap di Sidoarjo, Jawa Timur. Dia pula yang datang jauh-jauh dari rumahnya di London, Inggris, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membenamkan duit Krakatau Steel di Indonesia.
Niat Chief Executive Officer Arcelor Mittal itu sepertinya bukan basa-basi. Teka-teki porsi saham yang dikehendaki bila ia berinvestasi juga mulai terkuak. Melalui surat resmi yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mittal itu menawarkan tiga aksi korporasi.
Salah satunya, dengan berterus terang, ia ingin menjadi investor strategis buat Krakatau Steel. Lakshmi, dalam surat tertanggal 17 April itu, menyatakan minatnya mengakuisisi saham Krakatau melalui pola penjualan strategis. ”Lewat pola ini, ia berjanji meningkatkan teknologi seperti yang dilakukannya di Eropa, Amerika Selatan, dan Afrika,” kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris, pertengahan April lalu.
Dari Kensington Palace Gardens, tempat tinggalnya di London, Inggris, senilai US$ 128 juta (Rp 1,17 triliun), Lakshmi mengirimkan surat itu lewat Maxi Gunawan, Co-Chairman Indonesian British Business Council. Maxi kemudian membawa surat itu ke Sekretariat Negara, Senin pekan lalu.
Lakshmi juga mengajak Krakatau membentuk perusahaan patungan dengan mendirikan pabrik baja terpadu (greenfield steel complex) di Cilegon. Pabrik berkapasitas awal 2,5 juta ton itu akan dilengkapi infrastruktur, logistik, hingga teknologi perlindungan lingkungan. ”Dalam usaha patungan ini, Lakshmi ingin menjadi pemegang saham mayoritas,” kata Fahmi.
Lakshmi juga ingin berpatungan dengan PT Aneka Tambang Tbk untuk menggarap eksplorasi batu bara, bijih besi, nikel, dan mangan. Di perusahaan patungan ini, ArcelorMittal juga ingin menggenggam mayoritas saham.
Total investasi untuk seluruh aksi korporasi itu US$ 5-10 miliar (Rp 46-92 triliun). Lakshmi berharap manajemen Krakatau memberikan sinyal dalam 1-2 pekan, terutama ihwal penawaran saham lewat penjualan strategis. ”Kami berharap bisa bertemu dengan manajemen Krakatau Steel agar bisa mengetahui potensi yang dimiliki. Kami ingin mengunjunginya,” kata Fahmi mengutip pernyataan Lakshmi.
***
INDONESIA bukanlah negara asing buat Lakshmi. Pada 1976, Lakshmi mendirikan PT Ispat Indo, pabrik baja di Kedung Turi, Sidoarjo, Jawa Timur. Dari 65 ribu ton, pabrik itu kini berkapasitas 700 ribu ton. Hampir 14 tahun ia mencurahkan energinya di pabrik pertamanya itu, sebelum mencaplok Iron & Steel Company, milik pemerintah Trinidad & Tobago. Sejak itu, hampir tiap tahun ia mengakuisisi pabrik baja di berbagai belahan dunia.
Salah satu ciri khasnya: mencaplok perusahaan yang sudah kolaps di negara-negara yang bukan menjadi tujuan utama investasi. Dengan menekan biaya, kinerja perusahaan yang sudah ambruk itu disulap hingga mentereng. Tiga tahun lalu, di bawah bendera Mittal Steel, produksi pabrik Lakshmi menembus 49,2 juta ton, dengan pendapatan US$ 28 miliar. Angka itu lebih besar 4 juta ton dari Arcelor, pesaing utamanya asal Luksemburg.
Terakhir, setelah lima bulan bergerilya melobi para pemimpin Eropa, pria 57 tahun kelahiran Sadulpur, Rajasthan, India itu berhasil menggabungkan imperium bisnisnya, Mittal Steel, dengan Arcelor, Juni dua tahun lalu. Ia, atas desakan Aditya Mittal, merogoh US$ 38 miliar demi memuluskan rencana itu. Di perusahaan yang kemudian bernama ArcelorMittal itu, keluarga Lakshmi mengantongi 43,6 persen. Perusahaan gabungan itu tercatat di bursa New York, Amsterdam, Paris, Brussels, Luksemburg, dan Spanyol.
Langkah itu kian mengibarkan bisnisnya. Tahun lalu, ArcelorMittal memproduksi 117,2 juta ton baja—setara 10 persen pasar dunia. Dengan pabrik yang tersebar lebih dari 60 negara, ArcelorMittal meraup pendapatan US$ 105 miliar (Rp 963 triliun), dengan laba bersih US$ 10,36 miliar. Media-media di Inggris pun menjulukinya King of Steel.
Kini manusia terkaya keempat di bumi ini kembali membidik Indonesia. Entah kebetulan atau tidak, niat investasi Lakshmi, yang menurut majalah Forbes memiliki harta US$ 45 miliar, dilayangkan di tengah proses privatisasi Krakatau. Satu dekade lalu, Lakshmi pernah gagal menggenggam saham Krakatau Steel.
Yandhrie Arvian | Burhan
INDEKS BERITA LAINNYA :
|